My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Jangan Katakan Rahasiamu Pada Lawan


__ADS_3

"Jenius yang bagaimana?" tanya Ting Er penasaran.


"Sejak kecil dia sangat mudah belajar dan menyerap pelajaran. Bahkan saat bermain catur, guru-gurunya angkat tangan untuk mengajarinya. Mereka selalu kalah bermain dengan muridnya yang satu ini,"


"Wau ..." Ting Er berdecak kagum.


"Bermain pedang pun langsung dapat dengan mudah menjadi jagoan hanya dengan melihat gurunya memperagakan jurus dan gerak blokiran di depannya. Selain itu, siang malam suka membaca buku teori belajar pedang, juga buku sejarah pemain pedang handal," tutur Zhi Yu dengan mata besar untuk membesar-besarkan kisahnya.


Ting Er sampai menggeleng tak bisa berkata, "Lalu, apa ada kelemahannya?"


"Ada. Dia sangat penyendiri dan kutu buku sejak kecil. Tidak ada yang bisa mengajaknya bicara dengan luwes sekalipun ayah ibunya sendiri."


"Tapi suatu saat Pangeran Kelima yang sangat penasaran dengan kakak jeniusnya ini terus mencoba mendekatinya," pancing Zhi Yu.


"Apakah dia berhasil?" Ting Er terlihat sangat penasaran.


"Sudah berkali-kali dia mencoba. Menyuap dengan makanan, minuman, buku, sampai perhiasan. Tidak ada gunanya. Sampai suatu kali Pangeran Ci Sen atau pangeran ke lima mengajaknya keluar istana. Menurutnya Tuan Muda terlalu tegang karena banyak belajar dan tidak pernah keluar istana."


"Lalu?" Ting Er sangat penasaran.


"Lalu saat di perjalanan, pertama kalinya pangeran kelima bisa melihat kakaknya tersenyum meghirup udara bebas. Di saat itu pula pertama kalinya ia melihat kakaknya berteriak gemas saat melihat seekor kucing gendut yang mendekat ke arah mereka ketika mereka berbelanja."


"Kucing gendut? Itu bukan aku kan?" Ting Er menggembungkan pipinya kesal.


"Sebenarnya kucing itu sama sekali idak gendut. Tinggal tulang saja bahkan. Hanya saja perutnya buncit karena hamil," tutur Zhi Yu.


"Ooo ..." Ting Er mengangguk-angguk antusias.


"Karena kasihan melihatnya begitu kurus tak terawat, Tuan Muda membawanya pulang. Dan karena iri, Pangeran Ci Sen juga mencari kucing di di sekitar sana untuk di bawa pulang. Dia menemukan kucing hitam yang kecil,"


"Oh Dong Pian itu ya?" Ting Er mengangguk-angguk paham.


"Tak lama setelahnya Tuan Muda berubah drastis. Pelayan-pelayan rumah sampai heran melihatnya tertawa-tawa untuk pertama kalinya saat kucing hamil itu menggeliat-geliat manja di lantai."


"Setelah itu, dia mulai bisa berbicara dengan ramah. Utamanya kepada Pangeran Ci Sen. Mereka adalah sahabat," kata Zhi Yu.

__ADS_1


"Ah begitu rupanya," Ting Er mengangguk-angguk.


"Lalu, kucing itu melahirkan lima anak. Salah satunya adalah Nona," Zhi Yu tersenyum.


"Ah hahaha," tawa Ting Er dengan garingnya.


"Baiklah, lanjut?" tanya Ting Er.


"Lalu diantara kelima anak itu, hanya Nona yang paling ramah dengan Tuan Muda. Nona suka mengeong menjawab setiap Tuan Muda bicara sepatah kata saja. Lalu setiap Tuan Muda menangis dan curhat, Nona selalu mengeong menanggapinya. Hanya karen hobi mengeong dan interaktif, Tuan Muda sangat menyayangi Nona diantara kucing yang lainnya. Akhirnya Nona dibawa dari rumah khusus kucing di belakang itu dan dipindahkan ke kediaman utamanya,"


"Gadis-gadis sedang membicaraka apa? Ayo Bao Bao makan dulu ..." Nenek Hwa menyela sambil meletakkan nampan berisi sarapan khusus untuk Ting Er.


"Terimakasih Nek," Ting Er tersenyum lebar sambil menyahut mangkuk berisi ikan bakar pesanannya.


"Jadi begitu ..." jawab Ting Er sambil mencicipi makanannya, dan menatap Zhi Yu lagi meminta lanjutan ceritanya.


"Semanjak itu Tuan Muda jadi lebih ceria dari biasanya. Hingga ia besar dan mampu beradaptasi di istana. Lihat? Tuan Muda jadi lebih berani berbicara sekarang. Walau sikapnya masih dingin dan terkadang sarkas," kekeh Zhi Yu.


"Kak Zhi Yu! Setelah sarapan, kita jalan-jalan ya?"


"Boleh!" Zhi Yu mengiyakan dengan tulusnya.


"Sekali lagi! Tolong biarkan aku mencoba sekali lagi!" pinta Guru San dengan memohon-mohon kepada Chuan Yun.


Chuan Yun tersenyum. "Guru San, jangan memohon. Aku pasti memberimu kesempatan lagi. Tapi ini yang terakhir. Karena aku ingin segera pulang dan bermain dengan kucingku," Chuan Yun tersenyum dengan mata menyipit dan gigi yang sedikit terlihat.


"Baiklah! Aku janji, sekali saja!" Guru San mengusap keringatnya dengan sode lengan pakaiannya yang panjang, lalu menata ulang bidak-bidak caturnya.


"Gur duluan saja yang maju," Chuan Yun tersenyum baik.


"Baiklah," Guru San memajukan salah satu bidaknya.


Setelah melihat dan berfikir, Chuan Yun dengan cepatnya membalas dengan mengeluarkan bidaknya juga.


Guru san mengerinyitkan dahinya sambil berfikir, ia seakan takut untuk melangkah dan membuat kesalahan lagi seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Guru San, aku ingin segera kembali. Bisa lebih cepat?" Chuan Yun terkekeh tak enakan.


"Kakak ke tiga. Untuk apa cepat-cepat begitu. Sekali-sekali ikutlah dengan kami disini. Berbicara dan bermain catur sampai malam meskipun kelas sudah selesai," Pangeran ke enam menimbrung.


"Maaf. Tapi aku-"


"Iya benar Kakak. Kami sangat ingin bermain denganmu, kenapa kamu terus menyendiri Kak?" Pangeran ke tujuh ikut menimpali.


Chuan Yun meghela nafas.


"Baiklah. Sekali ini saja," Akhirnya Chuan Yun mengiyakan. Ia pikir Bao Bao sudah ditemani oleh Zhi Yu dan akan baik-baik saja tanpanya.


"Tapi hanya sampai sore," imbuh Chuan Yun untuk menyampaikan syaratnya.


"Hore ...! Akhirnya pertama kalinya dalam seumur hidup. Kita bisa bermain dengan Kak Chuan Yun sampai sore!" Pangeran ke tujuh bersorak mencari perhatian.


Pangeran-pangeran lainnya tersenyum memperlihatkan giginya, menghargai jasa pangeran ke enam dan ke tujuh yang tak lelahnya mengajak pangeran es itu.


Setelah semua selesai ribut, Guru San baru akan melangkahka bidaknya. Dia sangat gugup saat bermain dengan Chuan Yun karena kehebatannya. Sampai-sampai ia butuh waktu lima menit lebih untuk membuat satu langkah keputusan saja.


Hanya dalam sekali lihat, Chuan Yun langsung membuat keputusan dan memajukan bidaknya lagi. Sekali maju, dua bidak lawan termakan.


"Ba- bagaimana bisa begitu," Guru San memegang kepalanya sendiri.


"Guru San lupa, strategi yang ini penuh jebakan dan kuat. Tetapi tetap ada kelemahannya. Itu ada di buku catur kerajaan volume tiga bab sebelas ayat ke tujuh," sebut Chuan Yun dengan lancar dan lugasnya.


"Sudah. Siapa lagi yang ingin main?" Chuan Yun menyandarkan punggungnya sambil melihat ke belakang dengan tatapan malas.


"Aku! Aku!" Pangeran ke sembilan cepat-cepat menduduki kursi yang baru ditinggalkan Guru San dengan wajah kecewanya.


"Kali ini aku sudah belajar!" kata Pangeran Ke Sembilan dengan percaya diri.


Chuan Yun tersenyum. Dengan segera ia menata bidaknya sesuai strategi awalnya. Ia sengaja menggunakan strategi langka yang jarang di ketahui orang dari buku tak terkenal di perpustakaannya.


"Seharusnya jangan katakan kamu sudah belajar. Lawanmu bisa memutuskan harus berbuat apa. Lain kali diam dan rahasiakan seperti saat akan bermain kartu," ajar Chuan Yun sambil tersenyum lagi.

__ADS_1


"Wah hahaha! Kamu berbuat kesalahan Pangeran Ke Wen!" tawa dan tepuk tangan seisi ruangan terdengar begitu jelas.


Pangeran ke satu, Ke dua, dan ke delapan segera pergi dari sana untuk bermain sendiri. Mereka memisahkan diri dari orang-orang yang mengidolakan Chuan Yun karena rasa iri. Mereka adalah Fu Jia, He Xian, dan Wu Yin.


__ADS_2