My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Struktur Tubuh Hewan Transportasi


__ADS_3

Ting Er tak bisa berkata-kata lagi. Bentakan barusan memang tak bisa dielak lagi. Kini Chuan Yun memaksanya merebahkan diri lalu memeluknya dengan wajah serius.


"Aku sungguh tak paham pertengkaran macam apa ini," kata Ting Er tanpa ekspresi seperti orang bodoh.


"Besok aku pasti mengajakmu ke pabrik elektronik untuk mengajarimu," ujar Ting Er.


"Kali ini terserah saja," kesalnya dengan nada jengkel.


"Manusia kuno menyebalkan. Aku kedinginan tau," Ting Er mengerucutkan bibirnya dengan perasaan jengkel setengah mati.


"Begitu saja marah sambil membanting remot. Aku jadi teringat saat orangtuaku bertengkar lalu membanting barang," lanjut gadis yang belum puas juga itu.


"Bagaimana bisa masih dingin?" Chuan Yun menantang balik, lalu duduk.


Ting Er mendongak bingung.


"Hanya karena ingin menghidupkan hewan itu kamu marah padaku?" tanya Chuan Yun tak percaya sambil menunjuk ke arah pemanas ruangan dan marah sungguhan.


"Kamu kasihan dengan hewan itu?" tanyanya lagi.


"Tidak takut dia memakanku?" tanyanya lagi dengan sungguh-sungguh sampai Ting Er ingin tertawa karena situasi konyol yang menegangkan ini.


"Kamu lebih menyayangi hewan itu?" Dia belum selesai bertanya.


"Itu hanya mesin. Jadi kamu lebih sayang nyawamu ketimbang melihatku tidur nyenyak dengan hangat? Mesin tidak bisa bergerak kemanapun. Mesin hanya membantu manusia. Mesin pendingin akan mendinginkan ruangan. Mesin pemanas akan menghangatkan ruangan. Lalu dispenser bisa memberi kita air panas dan air es instan. Tadi dibawah kalian membuat kekacauan karena dispenser kan? Itu juga alat bukan monster!" argumen Ting Er panjang lebar.


Sepertinya Chuan Yun sudah sedikit memahami arti dari mesin dan alat setelah Ting Er menjelaskan. Tapi percuma saja, dia malah jengkel harus kalah berdebat dengan wanita yang ia sukai itu.


"Kau sudah paham?" Sedikit cahaya harapan memenuhi ekspresi Ting Er begitu melihat raut wajah Chuan Yun yang tak sebodoh tadi.


"Belum," Chuan Yun melipat kedua tangannya dan membuang muka.


"Kamu sangat melawan ya? Belum-belum ingin membuat hewan itu memakanku."


Si Mu sampai tak bisa tidur dengan nyenyak di kamar sebelah. Ia jadi ikut tegang mendengar majikannya bertengkar dengan calon istrinya.


"Kalau aku bisa ikut campur. Aku sudah masuk kesana untuk membunuh monster penyebab pertengkaran mereka!" kata Si Mu dengan geregetan.


"Aah!!"


Mendengar teriakan Ting Er, Si Mu langsung terperanjat.


"Tuan jangan memukul wanita!" Si Mu langsung keluar dari kamar.

__ADS_1


"Ah!!"


"Tuan sabarlah sedikit! Tuan!"


"Brak!!"


Si Mu membuka paksa pintu kamar itu dengan sangat panik, lalu membatu sendiri dengan wajah merah begitu melihat Chuan Yun dan Ting Er dalam posisi yang canggung.


"Keluar!" bentak Chuan Yun pada Si Mu.


"A- ampun Tuan. Si Mu kira ... Tuan bertengkar sampai ... ah ampun Tuan!" Si Mu yang malang segera berbalik ke luar kamar lalu menutup pintunya dengan hati-hati.


Ia segera berlari masuk ke kamarnya lagi dengan wajah merah padam.


Chuan Yun sendiri mungin sudah lupa kalau di tempat tinggal baru mereka ini kamar mereka bersebelahan. Jika Si Mu keluar kamar pun ia akan tetap bisa mendengar suara apapun di sana karena kamarnya bersebelahan.


"Chuan Yun! Hentikan!"


"Aku akan membuat tubuhmu hangat!"


"Tapi ...! Ah bukan begini! Kita belum-"


"Menikah? Besok kita harus menikah."


**_**


Dua insan itu kini sama-sama duduk di sofa tapi tak saling menyapa atau berbicara. Hingga Si Mu kebingungan sendiri tak tahu harus berbuat apa.


"Tuan ... Nona ... kenapa kalian hanya duduk dengan wajah masam? Bukannya kita harus sarapan? Hehe," Si Mu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Kruyuuk ..."


Si Mu dan Ting Er melebarkan matanya sambil menatap Chuan Yun sang sumber suara.


"Pffft ...!" Ting Er menutup mulutnya menahan tawa.


"Tuan juga merasa lapar kan?" Si Mu juga menahan tawanya.


"Tidak. Tidak lapar," elaknya tanpa ragu.


"Aku mau memasakkan kalian sesuatu. Tapi Chuan Yun tidak membolehkanku membuka kulkas," adu Ting Er pada Si Mu.


"Kulkas?"

__ADS_1


"Mesin pendingin yang itu," tunjuk Ting Er ke kulkas jumbo berwarna biru di ujung sana.


Si Mu menengok ke sana dan mendapati kotak biasa, "Bukannya itu tempat penyimpanan makanan? Tadi aku sempat membuka kotak itu karena penasaran."


"Nah iya benar. Lihat? Si Mu saja lebih pandai darimu," ejek Ting Er pada Chuan Yun.


"Tapi dia juga mesin! Itu artinya dia hewan buas!"


"Turunkan sedikit egomu. Kamu jelas-jelas sudah tahu apa itu kulkas dan apa itu alat dan mesin. Ini bukan hewan," terang Ting Er dengan nada agak tinggi karena emosi.


"Lagi pula hanya ada makanan disana. Listriknya juga masih mati karena belum memanggil PLN," lanjut Ting Er dengan setengah bergumam.


"Y- ya sudah. Mumpung dia belum hidup. Cepat ambil saja cadangan makanan di perutnya," jawab Chuan Yun terbata karena ia tahu ia memang masih mengelak meski sudah paham kebenarannya.


Si Mu hanya bisa mengerjapkan natanya sambil menonton perdebatan mereka. Ting Er segera lewat dengan hentakan kaki kesal menuju kulkas.


Begitu membuka isinya, hanya ada kaleng kornet dan sarden. Itu adalah bonus pembelian rumah dan perabotannya.


"Payah. Harus masak. Sudah begitu belum ada elpiji. Ya sudah kita cari makan di luar saja," putus Ting Er. Dengan cepat ia menyahut dompetnya di meja ruang tengah rumah besar itu lalu berjalan dengan cepat keluar dari rumah itu.


Mau tidak mau Chuan Yun segera beranjak dari tempatnya untuk mengikuti gadis itu karena mudah khawatir.


"Heh tunggu!" marah Chuan Yun.


Belum-belum sudah ada mobil lewat lagi sehingga ia terperanjat takut sambil memeluk Si Mu yang ada di belakangnya.


"Huaaa Si Mu! Ada monster melaju kencang dimana-mana. Kalau memberantas mereka semua, bukannya buang waktu?" rengeknya.


"Itu transportasi," Ting Er memasang wajah bosannya.


"Uh oh seperti kuda di zaman dulu?" tanya Si Mu.


"Pandai sekali," puji Ting Er sambil tersenyum pada Si Mu.


Wajah cengeng itu langsung berubah sedikit kecewa begitu melihat senyum manis yang Ting Er berikan kepada pelayan pribadinya, Si Mu.


Ia segera turun dari gendongan Si Mu dan menata rapi rambutnya. Tak lupa menegakkan diri seakan tak kenal takut dengan monster-monster itu lagi.


"Taksi!" panggil Ting Er keras begitu mobil kuning dengan tulisan 'taksi' di atasnya itu lewat.


Mobil itu dengan segera berhenti di dekat mereka dan pintunya terbuka secara otomatis.


"Hua!" Chuan Yun sempat kelepasan takut lagi, namun Si Mu langsung mengikuti apapun yang Ting Er lakukan.

__ADS_1


Ting Er tersenyum pada pengemudinya lalu duduk di bangku depan. Begitu juga Si Mu, ia mulai dengan senyum kepada kusirnya lalu duduk di belakang. Sementara Chuan Yun masih melihat-lihat bagian depan mobil itu. Ia memperkirakan moncong mobil itu adalah mulut, kedua lampu depannya adalah mata, sedangkan empat rodanya adalah kaki.


__ADS_2