
Yu Nan tidak menghiraukan apa lagi menanggapinya. Ia langsung pergi begitu saja meninggalkan gadis itu di tangan Guru Keputrian Istana.
Setelah kepergian Yu Nan, ekspresi segan Guru Keputrian Istana segera berubah seperti seorang guru lagi. Alis tebal dan garis di pipinya membuatnya semakin menakutkan, ia terlihat sangat disiplin.
Begitu selesai menulis, Guru Keputrian mengangkat kembali kepalanya sambil menatap Ting Er dari atas ke bawah.
"Kaki lebih panjang dari badan. Badan mungil dan langsing. Tangan panjang tapi mungil. Jari lentik tapi mungil. Tinggi badan kurang," sebutnya satu persatu sambil menyentuh dagu Ting Er dan berjalan mengelilinginya untuk meneliti setiap inci tubuh Ting Er.
Ting Er hanya bisa diam dengan tegang.
"Emm ... nyonya?" lirih Ting Er.
"Panggil aku Guru Shin. Cepat masuk ke ruangan di pojokan itu dan ganti pakaianmu. Minta pakaian calon selir berwarna biru untuk hari jumat. Sekarang!" perintah Wanita itu dengan cepat.
"A- iya Guru Shin," jawab Ting Er dengan tergagap lalu langsung berlari begitu saja pergi.
Wanita itu kembali mengangkat kepalanya untuk melihat kepergian Ting Er. Setelah itu menggeleng seakan tak habis pikir dengan tingkah Ting Er.
"Tidak menunduk untuk berpamitan. Cara jalan sangat buruk. Tergagap saat bicara," sebutnya lagi satu-persatu lalu membuat catatan di kertas yang ia pegang.
"Merepotkan, yang seperti ini harus lolos? Bagaimana aku mengajarinya secepat itu," pungkasnya pelan sambil berjalan kembali ke tempatnya.
"Kita kedatangan teman baru bernama Xing Huang Lian."
"Duan Wei," panggil Guru Shin.
"Iya Guru," gadis bernama Duan Wei itu segera menjawab dengan lembut.
"Nanti arahkan dia ke kamar kosong terdekat. Kalian berteman baiklah dengannya. Kekondusifan aku serahkan tanggung jawabnya padamu," ujar Guru Shin dengan ujung tongkat kayu yang teracung ke arahnya.
"Duan Wei mengerti Guru Shin. Kebetulan masih ada satu kamar yang kosong," jawabnya sambil tersenyum menjaga gambar diri di depan juri besarnya.
"Bagus."
Dengan perlahan tapi pasti Ting Er keluar dari ruangan pakaian itu. Pakaian barunya yang cantik walau seragam dengan gadis yang lain itu membuat moodnya sedikit lebih baik setelah mengalami banyak kejadian menyedihkan sebelumnya.
"Ei duduklah di sebelahku Nona Xing," Duan Wei memanggil Ting Er dengan nama depan atau nama keluarganya untuk kesopanan.
__ADS_1
"Terimakasih Nona ..."
"Namaku Ji Duan Wei," sela Duan Wei sambil tersenyum lagi.
"Ah terimakasih Nona Ji," Ting Er membalas senyum itu.
"Sudah ada beberapa gadis yang berhasil lolos setelah olahraga perenggangan dan minum jamu kecantikan satu minggu ini. Diantaranya adalah Nona Ji Duan Wei, Nona Ru Jia Bei, Nona Da Xing, Nona Zhang Gui Xing, Nona Ming Quan Ming dan Nona Wu Yang Zhu. Kemudian juga Nona Xing Huang Lian. Sisanya dinyatakan gugur dan bisa kembali ke rumahnya masing-masing mulai besok. Sedangkan yang sudah lolos dari babak pertama akan tetap tinggal," Guru Shin mengumumkan.
Banyak gadis yang menggerutu kesal karena harus dipulangkan, ada juga yang menangis dan ada pula yang terdiam saja tak bisa menerima kenyataan.
"Aku akan mengecewakan ayah dan ibuku huhuu ..."
"Su Li ... jangan menangis," temannya menghiburnya.
Ting Er sempat menoleh untuk melihatnya karena simpati. Tapi Su Li mengartikan tatapan itu sebagai ejekan karena ia sedang labil.
"Apa yang kau lihat! Baru masuk langsung lolos lalu kau sombong!" teriaknya pada Huang Lian.
"Aku tidak ..." Ting Er kebingungan menghadapi dunia baru yang aneh ini.
Teman-temannya Su Li ikut menatap Ting Er tak suka.
Guru Shin jadi gugup dibuatnya. Tapi kemudian ia berdeham memantapkan otoritasnya di kelas ini.
"Keputusan ada pada tangan Kaisar. Guru Keputrian hanya menyeleksi sesuai ketentuan kecantikan. Tetapi keputusan kaisar tidak bisa diubah," jawabnya dengan lugas.
"Kaisar menyuruhnya lolos? Itu tidak adil!"
"Begitulah kehidupa istana Nona Su Li. Silahkan berhenti membuat keributan atau penjaga akan menyeretmu keluar," ancam Guru Shin.
Gadis itu langsung bungkam meski tetap memasang muka masam sambil mengusap air matanya.
Namun tak berapa lama ia berdiri dengan cepat dan geram, "Guru Shin! Lihat saja. Aku akan bicara pada Selir Gua Xin. Lihat saja pekerjaanmu akan segera hancur. Berani sekali kamu dengan keponakan Selir terhormat di Kerajaan Hui!"
Guru Shin terlihat agak takut. Namun ia lebih takut dihukum kaisar sendiri jika ia menilai tak sesuai ketentuan.
"Jika itu beda satu dua senti meter, mungkin aku bisa membantumu. Tapi jika sangat ketara, tidak bisa lagi. Kecuali dapat perintah khusus kaisar sendiri untuk meloloskannya. Jadi mau aku dipecat sekalipun, dimana kesalahanku? Silahkan saja laporkan," mereka malah beradu mulut di depan puluhan calon selir sekarang.
__ADS_1
"Tidak sesederhana yang kau pikirkan Guru Shin," Su Li menatap Wanita Tua itu dengan tak segan-segan lagi.
"Penjaga! Usir dia!" tegas Guru Shin tak kalah keras.
"Baik!"
"Lepas! Kalian berani denganku?! Lepas!"
"Sangat memalukan," decih Guru Shin dengan gelengan kepala seraya meringkasi kertas laporannya.
"Baiklah hari sudah gelap. Silahkan kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Besok pagi jangan sampai terlambat kembali berkumpul di sini. Memakai seragam kuning," pungkas Guru Shin.
Gadis-gadis itu dengan serentak berdiri. Sehingga Ting Er yang kebingungan sendiri itu harus mengikuti yang lainnya.
"Terimakasih Guru Shin ..." ucap mereka bersamaan dengan bungkukan senada.
Lagi-lagi Ting Er terlambat satu detik hingga gerakan bungkukan hormatnya tak seirama dengan yang lain.
Guru Shin melihat itu, tapi ia langsung pergi tak ingin memperpanjang kelas hari ini dengan ocehannya karena suasana hatinya yang buruk.
Seketika ruangan yang sunyi sepi nan tertib itu ricuh seperti suasana sekolah SMA yang baru buyar di galaksi bima sakti.
"Yaampun akhirnya selesai juga hari ini!"
"Iya, badanku pegal sekali seharian harus duduk dengan tegap."
"Menjadi warga kerajaan itu rumit sekali ya."
"Benar, sampai-sampai lengan juga harus di ukur. Aku hampir mati kelaparan karena harus diet."
"Eh kau tahu? Duan Wei itu hampir setiap hari tidak makan. Sedangkan Yu Ran makan apapun tidak bisa gemuk."
"Iya ... aku juga sangat iri padanya. Mengapa dewa sebaik itu kepadanya?"
Ting Er yang mendengar itu bergidik ngeri. Sesekali ia melihat ke arah perutnya yang mulai membuncit sedikit akibat dimanjakan oleh Chuan Yun selama ini.
"Hahaha kamu mengkhawatirkan apa?" Tiba-tiba Duan Wei menyapa Ting Er hingga Ting Er tersentak kecil.
__ADS_1
"Kalau orang pilihan sepertimu dan seperti Nona Wu Yang Zhu itu tidak perlu diet. Kalian pasti lolos dimana saja karena perintah kaisar. Mengikuti seleksi dan pelatihan ini hanya keformalan istana semata," jelasnya dengan baik hati.