My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Kaisar Yang Gila Perempuan


__ADS_3

Perlahan Ting Er membuka matanya. Dengan perlahan dan lemah ia menengok ke sekitarnya.


"Ting Er kau baik-baik saja?" Suara yang ia rindukan itu terdengar menyambut kesadarannya.


"Majikan ..." lirih Ting Er.


"Xiao Rang sudah membantumu mengganti pakaian. Tadi di pakaian belakangmu ada darah," jelas Chuan Yun sembari menerima mangkuk kayu berisi obat cair yang masih hangat dari tangan Xiao Rang.


"Minum obatmu," katanya sambil menempelkan sesendok obat di depan bibir Ting Er.


Ting Er tak kunjung membuka mulutnya, ia hanya memandangi Chuan Yun dengan tak percaya.


"Ada apa?" Chuan Yun menarik kembali sendoknya.


"Kamu sudah tidak marah?" tanyanya dengan suara yang nyaris tak bertenaga.


"Aih apa itu penting sekarang?" elak Chuan Yun, kemudian menyodorkan kembali obat itu di depan bibir pucat Ting Er.


Ting Er pun mau membuka mulutnya, menerima obat itu dan menelannya.


"Kamu sangat menakutkan. Wajahmu sudah seperti mayat hidup. Apa itu artinya darahmu hampir habis?" Chuan Yun menatap gadis itu sambil mengomel dengan nada kesal.


Ting Er tersenyum tanpa sengaja. Ia benar-benar tak bisa menyembunyikan tawanya.


"Apa kamu tidak pernah mencatat tanggal datang bulan ha?" tanya Chuan Yun dengan agak marah.


Ting Er menggeleng. Karena selama ia di bumi pun dia tidak terlalu peduli dengan hal itu. Dia kurang berbakat merawat diri, dia hanya bisa mengerjakan tugas kuliah sepanjang hayatnya.


Tiba-tiba gadis itu memejamkan matanya menahan sakit perutnya yang datang lagi sesaat.


"Kata Tabib Qing, rasa sakitnya itu karena kamu kurang minum air dan stress. Sudah begitu belum makan sejak semalam. Jadi tenagamu terkuras habis. Dasar kucing bodoh."


Mendengar nada umpatan yang disertai isakan kecil itu Ting Er langsung membuka matanya sambil melihat ekspresi Chuan Yun dengan penasaran.

__ADS_1


"Aku kan bukan kucingmu," lirih Ting Er.


"Anggap saja begitu sekarang. Tetap panggil aku majikanmu!" perintah Chuan Yun.


"Iya Majikan," lagi-lagi Ting Er tak bisa menahan senyumnya.


"Aku tidak tahu lagi kalau sampai Bao Bao dan Ting Er meninggalkanku secara bersamaan. Aku tidak tahu kalau aku sangat mencintai kalian," Chuan Yun menyuapkan obat itu lagi sambil menangis dan mengomel.


Ting Er menerima obat itu lagi lalu mengangkat tangannya untuk mengelus punggung pria bertubuh atletis yang cengeng itu.


"Aku baik-baik saja Majikan," hibur gadis itu.


"Sudah, jangan bergerak! Hiks," isak Chuan Yun lagi.


"Aku janji, akan menjadi penerus kerajaan yang handal dan menikahimu!" ikrar Chuan Yun dengan tegas.


Ting Er melebarkan matanya dan tertawa tertahan lagi.


"Kau sangat keterlaluan, membuatku sangat takut!" Chuan Yun belum selesai mengutarakan kemarahannya juga sembari menyuapkan sendokan terakhir dari mangkuknya.


"Benarkah?" Ting Er tersenyum sambil menatap Chuan Yun.


"Tadi aku dengar kamu akan menerima perjodohan dengan Putri Hwang?" tanya Ting Er.


"Nona tahu? Sesaat yang lalu Tuan Muda sudah menyuruh pelayan Si Mu untuk menyampaikan pada kaisar kalau Tuan Muda menolak perjodohan itu," lapor Xiao Rang lagi dengan fasihnya.


"Itu benar," Chuan Yun menimpali untuk memantapkan pernyataan itu.


"Sudahlah. Kita bicarakan lagi nanti. Cepat kamu tidur!" Chuan Yun menyelimuti gadis itu lalu berbalik pergi seakan ia malu dan gengsi menunjukkan cintanya seperti itu di depan Ting Er.


"Dia malu seperti biasanya," kata Ting Er.


"Nona percaya diri saja. Pria model seperti itu sangat bisa ditaklukkan kalau oleh Nona!" Xiao Rang langsung memasang jiwa pengabdian begitu diberi tanggung jawab menjadi pelayan pribadi Ting Er mulai saat ini.

__ADS_1


Ting Er terkekeh. Ia tidur dengan posisi miring, lalu menutup mata lelahnya.


"Selamat istirahat Nona," Xiao Rang mematikan lampu kamarnya, lalu menutup pintunya dari luar perlahan-lahan agar tak membuat suara.


**_**


"Chuan Yun tidak mau menemuiku lagi. Anak itu benar-benar semakin mengacuhkanku dewasa ini," Kaisar mengibaskan sode lengan pakaiannya seakan emosi.


"Yang Mulia ... sudah dua kali Pangeran Ketiga dipanggil dan tidak datang. Apakah dia sudah merasa hebat dengan kemampuannya di sekolah bangsawan dan yakin dia akan naik tahta?" Satu penasihatnya yang sempat bekerja sama dengan Fu Jia itu mencoba membuat Kaisar salah paham dengan Chuan Yun.


"Kalau memang begitu, itu sangat keterlaluan!" marah Kaisar.


"Dia kira dia hebat lalu dia bisa seenaknya ketika dipanggil Kaisar sepertiku?!"


"Yang Mulia jangan marah dulu ... belum tentu seperti itu. Apa untungnya Pangeran Ketiga tidak menemui Anda, padahal Anda lah yang akan menobatkannya suatu saat. Ini tidak ada hubungannya. Mungkin alasan Pangeran Ketiga tidak datang adalah ... dia punya gadis yang ia cintai sendiri," Penasihat yang netral bernama Rong Yuan itu mencoba mengemukakan pendapatnya.


Mendengar itu, Penasihat Kang atau dengan nama asli An Kang yang tadinya memfitnah itu segera membalikkan lidahnya karena punya ide lain untuk menolong Pangeran Fu Jia, "Ah saya kira Penasihat Rong Yuan benar Yang Mulia. Saya yang salah. Ini didukung juga dengan kesaksian Pangeran Pertama Fu Jia yang mengatakan bahwa Pangeran Ketiga Chuan Yun mencium seorang pelayan di depan kediaman permaisuri."


Penasihat Rong Yuan segera ikut berfikir.


"Tetapi melihat pelaku penculikan kemarin adalah Pangeran Pertama dan Kedua yang berkerjasama ... hal itu bisa jadi hanya alasan Pangeran Pertama saja untuk membuat drama baru bukan?" tanya Rong Yuan.


"Rong Yuan benar. Anak pertamaku itu sudah lama tak bisa dipercaya. Untuk apa ini dibahas lagi. Sudah jelas penyebabnya adalah anak itu sudah kurang hormat padaku karena merasa superior sekarang," Kaisar menutup matanya sambil membuang nafas seakan berusaha menenangkan amarahnya.


"Yang Mulia tolong jangan terlalu banyak berfikir. Tenangkan diri Anda. Penyakit darah tinggi Anda harus diperhatikan ..." nasihat Rong Yuan takut-takut.


"Panggilkan Tabib Qing yang cantik itu. Aku merasa tidak enak badan begitu memikirkan tingkah Putra Pertama dan Putra Ketigaku ini," perintah Kaisar.


"Ah saya akan segera memanggilkan Tabib Qing untuk Yang Mulia," Penjaga Pribadi Kaisar segera membungkuk hormat berpamitan lalu pergi dengan tergesa-gesa.


"Keterlaluan Tabib itu," desis pelayan wanita mata-mata Selir Gua Xin yang berdiri disana bersama dengan barisan pelayan lainnya.


Begitu juga mata-mata selir berpangkat tinggi lainnya termasuk mata-mata permaisuri yang sangat cemburuan karena cinta mati dengan kaisar itu.

__ADS_1


Sebenarnya ada banyak anak laki-laki keturunan Kaisar di istana ini. Hanya saja mereka semua tak diperbolehkan satu kelas dengan anak permaisuri untuk membedakan pendidikan serta statusnya demi kelayakan anak istri pertama dalam menaiki tahta.


__ADS_2