My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Selamatkan Anak Kita!


__ADS_3

**_**


"Huek!"


"Hoek!"


Perut Chuan Yun menolak makanan yang terus Si Mu coba jejalkan itu.


"Dia belum makan apa-apa sejak kemarin Tabib Fang Leng. Tolong lakukan sesuatu ..." tangis Si Mu.


Ia berlutut sambil menunduk sampai ke tanah dan menyentuh kaki Tabib Fang Leng memohon-mohon.


Tabib Fang Leng tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia menggeleng sambil ikut menangis.


"Ting Er tunggu aku ... uhuk!"


"Si Mu ..."


"Tuan!" Si Mu segera bangun dan membersihkan lututnya dari tanah. Ia menghampiri majikannya itu.


Chuan Yun berusaha meraih mangkuk bubur di sampingnya dengan tangan bergetar.


"Tuan jangan dipaksakan lagi, Si Mu tidak sanggup," Si Mu menggeleng keras sambil menangis.


"Aku tidak mungkin mati. Dia masih menungguku. Si Mu ..."


"Sejak tadi Tuan terus memuntahkan makanannya. Tidak Tuan, jangan lagi."


"Lalu apa? Menunggu ajal?" lirih Chuan Yun.


"Untuk bertahan sampai hari ini, itu sudah sangat baik!" Tabib Fang Leng memuji Chuan Yun.


"Biasanya racun itu bekerja dalam dua jam untuk membunuh. Tapi Tuan sudah berusaha dan sebagian racun sudah dikeluarkan dengan akupuntur!" Fang Leng berusaha menghibur kedua orang di depannya itu meski ia sendiri tak berharap banyak.


"Untuk mengisi tenaga, sementara waktu berikan air hangat dan gula saja dulu," perintah Tabib Fang Leng.


"Karena jika terus dipaksakan, dia akan dehidrasi karena muntah terus-menerus," lanjut Tabib Fang Leng.


"Ah aku mengerti Tabib Leng!" Si Mu segera berlari ke luar untuk membuatkan air hangat dan gula.


Sementara pelayan-pelayan kepercayaan yang tersisa disana masih menangisi Chuan Yun tuannya itu. Mereka tak sanggup melihat Pangeran Ketiga yang terus merasa kesakitan di perutnya juga keringat dingin yang terus mengaliri pipinya.


Baik mereka, Tabib Fang Leng, maupun Si Mu belum tidur sejak kemarin karena menjaga Chuan Yun.

__ADS_1


Tak lama kemudian Si Mu datang dengan air hangat di tangannya. Air di tangannya sampai bergetar mengikuti getaran tangannya saking paniknya.


"Tuan Muda ... Tuan Muda minum ini sebentar," Si Mu berusaha membangunkan Chuan Yun.


"Ting Er ..." lirih Chuan Yun.


"Tuan Muda!!"


Tabib Fang Leng segera berlari mendekat untuk memeriksa Chuan Yun.


"Dia tidak sadar," simpul Tabib Fang Leng.


"Tuan Muda!!" Si Mu berteriak sambil menangis.


Chuan Yun tidak lagi meracaukan nama Ting Er. Ia sepenuhnya tidak sadar kali ini.


"Tidak! Tuan Mudaa huuaa ha ha ..." tangis Si Mu histeris.


"Dia masih hidup Penjaga Si Mu."


"Tapi, tapi dengan begini kondisinya memburuk," Tabib Fang Leng tak bisa berbuat banyak. Ia dan pelayan-pelayan di sampingnya itu hanya bisa meratapi nasib.


"Tabib Leng! Tolong! Beri dia tusukan akupuntur ajaibmu itu lagi untuk setidaknya membuatnya sadar dan minum obat untuk bertahan!" pinta Si Mu.


**_**


Hari ini Hu Pei memberikan surat keputusannya ke harem. Permaisuri pun dipanggil ke kediamannya untuk melayaninya malam ini. Tetapi berita buruk mengenai Chuan Yun malah mengacaukan malam mereka.


"Yang Mulia!"


"Yang Mulia!"


"Berita buruk!"


Hu Pei menghentikan cumbuannya kepada Permaisuri. Ia menutupi tubuhnya, lalu menoleh ke arah pintu dengan sangat marah.


"Janganlah Yang Mulia marah. Tetapi barusan Pangeran Ketiga kembali kehilangan kesadaran dan kondisinya memburuk," Prajurit yang melapor itu menunduk sampai ke tanah dengan kaki bergetar karena takut dibunuh setelah mengganggu malam Kaisar bersama Permaisuri.


"Apa?!" Permaisuri berteriak histeris


"Pergilah," usir Kaisar.


Prajurit itu segera menunduk hormat sekali lagi lalu pergi masih dengan wajah takutnya.

__ADS_1


"Kita tidak bisa hanya diam saja seperti ini. Anakmu itu bisa mati!" Permaisuri memarah-marahi Hu Pei sambil menarik-narik kerahnya.


"Apa yang kau lakukan Yang Mulia! Mengapa kau menjatuhi hukuman mati pada gadis yang dia cintai itu?! Apa kamu sudah gila?"


"Anakku yang paling kau banggakan itu, dia akan mati sekarang!"


"Diam Shui Ping! Kamu kira kamu tidak bersalah?" marah balik Hu Pei.


"Untuk apa kamu menutup-nutupi kesalahan putramu itu dan mengakui pelayan itu sebagai orangmu?"


"Karena aku ingin menyelamatkan mentalnya! Anak itu menangis saat kehilangan gadis pelayan itu! Kamu tahu sendiri kepribadian kerasnya. Dia sudah luluh hingga bisa mengekspresikan diri berkat gadis itu."


"Sekarang dia sakit parah seperti ini, siapa yang akan menjadi alasan untuk mempertahankan hidupnya?!" marah permaisuri.


Hu Pei menghela nafas dengan kasar. "Bukan gadis itu penyebabnya. Tapi karena racun itu memang ganas!" Ia tak mau kalah debat.


"Yang Mulia jika memang Yang Mulia mencintaiku dan mencintai anak itu, setidaknya pakailah sedikit akal Yang Mulia yang sudah bertahun-tahun memberi keadilan di istana ini," Permaisuri meneteskan air matanya.


"Pelayan itu tidak mungkin menggodainya untuk membunuhnya. Apa untungnya? Ini adalah skandal perebutan tahta sesuai dengan prediksi warga istana yang mempergunjingkan masalah ini pula," Shui Ping alias permaisuri itu terus menjelaskan dengan serius.


"Lalu apa? Aku harus membunuh Fu Jia sekarang?" Kaisar yang tidak tahan diajak berdebat terus oleh seorang wanita itu malah mengambil pertimbangan ekstrim.


Shui Ping menggeleng kehabisan kata-kata.


"Jika dia pelakunya, dimana bukti jelasnya? Bagaimana bisa aku menghukum putra pertamaku si pembawa sial itu?" tantang Hu Pei sambil mendorong permaisuri ke kasurnya dan menindihnya untuk kesan lebih berkuasa.


"Saat ini aku sudah memikirkan solusinya. Jadi tolong jangan terus menyalahkanku. Jika kau di posisiku, kau akan melakukan yang sama Shui Ping," akhirnya Hu Pei melembutkan suaranya begitu melihat air mata Shui Ping yang menetes lagi.


"Sejak awal aku memang ingin menjauhkannya dari gadis itu agar ia bisa menikahi Putri Hwang tanpa hambatan. Dan kebetulan Kerajaan Hwang itu sangat terkenal kemajuan di bidang kesehatannya, bahkan ada ahli racun ganas yang terkenal di sana," kata Hu Pei.


Sebagai seorang ibu, Shui Ping langsung terhibur mendengar ucapan Hu Pei.


"Panggil ahli racun itu untuk Chuan Yun kita!" pinta Permaisuri.


Ia memaksakan diri keluar dari perangkap Hu Pei, turun dari kasurnya, lalu bersujud di bawah kakinya.


Hu Pei sendiri menangis. Sama seperti Shui Ping layaknya kedua orangtua yang sangat mencintai putra mereka. Apa lagi Chuan Yun adalah harapan dan kebanggan bagi Hu Pei.


"Percayalah Shui Ping. Aku sendiri menyayangi putraku itu. Tapi aku tidak bisa menghianati tanggung jawab di pundakku. Dia harus menikahi Putri Hwang dan melanjutkan pemerintahan suatu saat. Kita harus bekerja sama dengan negara kuat itu, untuk tetap menjaga kemakmuran dan ketahanan militer negara ini," lanjut Hu Pei.


Shui Ping menangis sambil mengangguk-angguk lagi, ia segera memeluk Hu Pei dan Hu Pei juga membalas pelukannya.


"Dia akan baik-baik saja. Ahli racun dan tabib hebat disana akan membantu kita. Kita juga akan membalasnya dengan pernikahan mereka," yakin Hu Pei.

__ADS_1


"Kita hanya harus berdoa agar Chuan Yun tetap bisa bertahan selama menunggu ahli racun itu datang dalam satu atau dua hari. Aku sudah mengirim surat merpati darurat sejak kejadian itu kemarin," Hu Pei kembali menenangkan istrinya itu sambil mengelus-elus punggungnya.


__ADS_2