
He Xian menatap kakaknya sendiri yang melamun banyak pikiran. Ia tahu ia juga ikut dalam persekongkolan ini, saat ini pemikiran yang sama juga ada dalam benak He Xian.
Bagaimana mungkin? Itu artinya Chuan Yun mencintai salah satu dari pelayan ibu? batin He Xian.
"Kakak ... kita harus bagaimana," bisik He Xian pada Fu Jia.
"Diamlah! Ibu melihat ke arah kita sejak tadi," balas Fu Jia dengan bisikan kuat.
Aku punya ide. Mata Fu Jia membulat.
"Ibu, seperti apa rupanya pelayan yang hilang itu?" tanya Fu Jia tiba-tiba.
"Dia berambut panjang, berkulit gandum, tubuhnya langsing, dan sangat pandai," sebut Permaisuri satu-persatu.
Fu Jia meneguk ludahnya dengan kasar, "Ibu, sungguh aku melihat Chuan Yun menciumnya di depan kediaman ibu kemarin malam. Mengapa tidak bertanya kepadanya saja? Siapa tahu dialah yang menculiknya karena rasa suka."
Satu ruangan aula langsung heboh mendengar pengakuan Fu Jia. Wu Yin langsung menunduk menyesali, lain kali ia tak ingin berkomplot dengan orang bodoh lagi. Kakak tertuanya itu terlalu mudah membuat keputusan. Sementara permaisuri mendelik kaget ke arah putra ketiganya yang tadinya meminta tolong itu.
Chuan Yun sendiri merasa terkejut. Rupanya kakaknya itu sempat melihat dirinya dan Ting Er berciuman kemarin.
"Apa buktinya?" Chuan Yun menyerang balik.
"Itu ... He Xian. He Xian juga melihatnya, iya kan? Wu Yin juga!" Fu Jia menyenggol lengan He Xian meminta bantuan.
"I- iya iya," jawab Pangeran Kedua He Xian.
Sementara Wu Yin menggeleng tak ingin ikut terlibat.
Chuan Yun tersenyum, "Mengapa menjawab dengan terbata Kakak Xian? Bagaimana kamu bisa menuduhku begitu? Jangan-jangan kamu sendiri yang melakukan penculikan ini."
"Dengan mengucap begitu soal aku, bukannya kamu akan semakin mempermalukan dirimu sendiri?" Kesarkasan dalam bahasa Chuan Yun kembali terlihat.
Seketika Fu Jia menyadari kebodohannya. Ia memang tidak bisa berfikir panjang seakan zat kepintaran di rahim ibunya hanya disimpan untuk Chuan Yun. Bermain catur pun jadi tidak ahli.
"Sudah. Terlalu banyak perdebatan tak berguna! Aku tidak akan mengampuni siapapun yang menculik orang kesayanganku apa lagi jika mereka terluka! Cepat penjaga! Geledah semua kediaman!" perintah Permaisuri dengan lantang.
"Eee ee He Xian! Suruh orangmu melepaskan gadis itu," Fu Jia ketakutan sendiri.
"Tapi mereka sudah terlanjur diberi obat bius ... Yang satu terlanjur tertidur, yang satu dengan sengaja tidak menghirup kain itu. Bagaimana ini ..." He Xian nyaris menangis karena takut.
"Mereka terus berbicara satu sama lain ibu, aku kira memang mereka pelakunya," bisik Chuan Yun pada permaisuri.
__ADS_1
Permaisuri mengangguk membenarkan.
Sementara kaisar menggeleng tak habis pikir dengan masalah tak berbobot di istananya ini. Bagaimana bisa ada yang menantang istrinya itu dengan menculik orang kesayangannya.
"Lapor Yang Mulia Permaisuri! Kami menemukan dua gadis dengan sekap di mulutnya di kediaman Pangeran Kedua He Xian," Prajurit itu menunduk melaporkan apa yang ia lihat.
"He Xian!" marah permaisuri.
"A- a aku tidak-" He Xian tak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Tapi tapi. Pengawal Kak Fu Jia lah yang membawa dua gadis itu ke kediamanku. Aku, aku hanya dibodohi. Aku tidak tahu apa-apa," karena panik ia terus membual.
"Anak kurang ajar!" marah kaisar.
"Pukul keduanya sepuluh kali! Lalu kirim Fu Jia dan He Xian ke ruang leluhur untuk merenungkan kesalahannya selama satu minggu!" perintah Kaisar.
"Baik Yang Mulia!" para prajurit langsung menjawab dengan tegas dan menyeret kedua orang itu.
"Semuanya maaf telah mengganggu malam kalian. Silahkan kembali ke kediaman masing-masing!" perintah Kaisar.
Semua warga istana menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan dua anak laki-laki tertua kaisar yang selalu membuat ulah. Begitu juga kaisar yang menanggung malu itu.
"Ibu, sepertinya hari ini aku harus titip Jiao Bao di kediamanmu," bisik Chuan Yun sebelum ia ikut pergi membubarkan diri bersama yang lain.
"Dimana mereka?"
"Kami sudah membawanya kembali ke kediaman permaisuri," jawab prajurit itu.
"Bagus kalau begitu."
**_**
"Su Su bawakan makanan untuk dua pelayan Chuan Yun ini. Mereka pasti sangat ketakutan tadi,"
"Iya Yang Mulia ..." Su Su menunduk lalu memutar ke belakang untuk mengerahkan pelayan-pelayan lain dan memasak makanan.
"Nona Bao! Nona Bao!" tangis Zhi Yu sambil mengguncang-guncang pundak Ting Er.
"Jangan khawatir. Dia hanya terbius. Sebentar lagi juga akan bangun," Permaisuri tersenyum sambil berbicara dengan lembut seakan begitu menghargai keduanya.
"Tapi ... kenapa kamu memanggil temanmu dengan sebutan Nona?" tanya permaisuri dengan penasaran.
__ADS_1
"Ah itu ..." Zhi Yu terkejut, ia jadi sedikit panik.
"Saya hanya menghargainya. Karena Tuan sangat mencintainya," Zhu Yu beralasan lalu terkekeh kaku.
"Ah begitu. Aku mengerti. Tapi bisa kau katakan padaku, apa yang gadis ini lakukan sehingga putraku sangat menyukainya?"
"Dia ini sangat ajaib ... dia ... e," Zhi Yu berusaha keras merangkai kata-kata.
"Semenjak dia hadir di kediaman Tuan, Tuan Muda menjadi lebih ceria dan banyak tersenyum. Padahal sebelumnya tuan begitu dingin dan berbicara tajam. Saat di depan gadis ini, Tuan dapat merasa lebih rileks entah mengapa," cerita Zhi Yu sebisanya.
"Begitu ya. Aku tidak heran sama sekali. Dia memang pandai. Itulah mengapa keduanya akur ya? Mereka nyambung saat bicara karena sama-sama berotak jenius. Bukan begitu?
"Iya. Tapi Zhi Yu harap Nona cepat terbiasa hidup disini. Nona sudah banyak lupa ingatan. Bahkan dia bisa jadi sangat semangat hanya karena melihat barang-barang di istana ini seperti uang, jam, makanan, dan lainnya," kekeh Zhi Yu.
"Aku tahu sendiri," Permaisuri tertawa pelan.
"Hmmh ..."
Mendengar suara gumaman Ting Er, Zhi Yu segera memutar badannya untuk melihat kekasih Tuannya itu.
"Nona Bao! Eh tidak. Bao Bao! Kamu baik-baik saja?"
"Syukurlah itu hanya bius, dan bukan racun," Zhi Yu memeluk Ting Er dengan perasaan khawatir bukan main.
"Zhi Yu ... ini dimana? Kemana pangeran ...?"
"Tuan ada di rumahnya, saat ini kita berada di kamar pelayan permaisuri," jelas Zhi Yu.
"Tadi kita di pasar bersama-"
Zhi Yu menutup mulut Ting Er dengan mata membulat, "Jangan katakan apa-apa dulu, Permasuri ada disini. Ceritanya sangat panjang, nanti aku akan menceritakannya."
Ting Er mengangguk setuju dengan mata yang membulat juga.
"Bagaimana perasaanmu? Apa ada yang sakit?" tanya Permaisuri.
"Tidak Yang Mulia," Ting Er tersenyum.
Tiba-tiba Su Su bersama dengan teman-temannya datang membawa banyak makanan di tangannya. Mereka menyajikan semua itu di depan mata Ting Er.
Ting Er melebarkan matanya dengan senyuman lebar, "Wuaaaah!"
__ADS_1
Permaisuri terkekeh melihat kepolosan gadis itu. Untungnya ia tidak marah melihat ketidak sopanan Ting Er dan mewajarkannya akibat dirinya yang pernah terbentur dan lupa ingatan itu.
"Akhirnya aku berhenti makan ikan ..." keluh Ting Er.