My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Ting Er Hendak Dihukum Mati


__ADS_3

"Tck. Jangan memeluk kakiku. Kotor," Chuan Yun menyentuh kedua lengan Ting Er dan membangunkannya.


"Aku akan bekerja keras memikirkan cara untuk menyejahterakan rakyat dan memperkuat militer tanpa harus bekerja sama dengan kerajaan lain," kata Chuan Yun sambil memeluk gadis mungil itu dalam dekapan lengannya yang besar.


"Kau sudah bilang begitu belasan kali sejak semalam," tanggap Ting Er dengan bibir manyun setengah menahan tawa.


"Aku tidak bisa digombali terus begini," lanjut Ting Er sambil membenamkan wajahnya pada dada bidang Chuan Yun, menyembunyikan wajah panasnya.


Chuan Yun tertawa lalu mengusap-usap puncak kepala Ting Er yang jauh lebih pendek darinya itu.


"Awas saja kalau kau hilang lagi, hm?!"


Ting Er mengangguk pura-pura takut, lalu mereka berdua tertawa bersama sekali lagi.


Setelah Chuan Yun menghilang dari balik gerbang kediamannya, Ting Er kembali melanjutkan acara mengelapnya sambil tak bisa berhenti tersenyum.


"Begini rasanya punya pacar. Aww ..." pekiknya untuk merayakan tahun-tahun kejombloannya yang telah berakhir.


"Meskipun jadi pembantu. Nggak masalah lah," Ting Er masih senyum-senyum ria.


Setelah selesai membersihkan meja, ia yang berlebihan tenaga karena sedang bahagia itu berencana mencuci piring dan menyapu juga. Ting Er berlari ke kamar Chuan Yun dan memberesi mangkuk serta piring bekas sarapan Chuan Yun yang ia masakkan sendiri tadi pagi.


Setelah kira-kira dua jam melakukan semua pekerjaan pelayan bersama teman-temannya, Ting Er berlari ke luar untuk mencari udara.


"Huaah ... selesai juga!" katanya dengan senyuman lebar sambil menengadahkan wajahnya ke langit.


Tiba-tiba terlihat seorang pelayan wanita yang berlarian memasuki gerbang kediaman Chuan Yun.


"Kak Zhi Yu?" Ting Er menoleh. Seketika senyumnya mengembang melihat temannya itu kembali pulang ke tempatnya.


"Bao Bao! Bao Bao gawat ...!"


"Kak Zhi Yu? Ada apa??" cemas Ting Er sambil berusaha menenangkan manusia dengan nafas tak beraturan itu.


"Minum dulu ya?" tawar Ting Er.


"Tidak, tidak perlu! Bao Bao dengarkan aku. Yang Mulia kembali mengusut persoalan penculikan oleh Pangeran Pertama dan Pangeran Kedua hari itu."


"Lalu?" Ting Er mengerutkan alisnya.


"Lalu Pangeran Pertama mengatakan pada mereka kalau kita adalah pelayan Pangeran Ketiga, bukan Permaisuri. Dia dalam kondisi terjepit, jadi dia mengulangi ucapannya kalau Pangeran Ketiga menciummu. Lalu Pangeran Pertama mengaku mendengar pembicaraan kita berdua. Katanya kamu berencana menggodai Pangeran Ketiga dan ingin membunuhnya dengan racun setelah menjadi dekat dengannya," cerita Zhi Yu panjang lebar.


"Apa?"

__ADS_1


"Tapi aku kan tidak meracuninya? Biarkan saja Kak Zhi Yu. Orang itu pasti membual dan ingin mempermalukan dirinya sendiri lagi," jawab Ting Er enteng lalu tertawa pelan.


"Apa kamu membuatkan makanan untuk Pangeran Ketiga tadi pagi?" tanya Zhi Yu dengan cepat.


Ting Er mengangguk.


Zhi Yu menutupi wajahnya lalu menggeleng.


"Ada apa? Apa Pangeran Chuan Yun baik-baik saja?!" panik Ting Er yang mulai memahami alur pembicaraannya.


"Saat ini Pangeran Ketiga sedang sekarat!" ungkap Zhi Yu dengan lantang.


Ting Er melebarkan matanya sambil menutupi mulutnya, air matanya menetes, "Apa? Tapi tadi dia baik-baik saja disini sambil memelukku ..."


"Ini konspirasi besar Jiao Bao! Pangeran Pertama ingin membunuh adiknya itu sejak lama. Saat ini ia memanfaatkan situasi dan menjadikanmu kambing hitam."


"Apa yang terjadi kemarin dengan Tabib Qing? Dia menjadi saksi kalau kalian sangat dekat. Kaisar jadi mengusut ulang masalah ini," lanjut Zhi Yu.


"Tabib Qing memberitahukannya?" Ting Er menutup mulutnya lagi.


"Ting Er, cepat kamu kabur saja dari sini. Jangan sampai kamu dijatuhi hukuman mati!"


"Tunggu apa lagi?!" Zhi Yu yang panik itu sampai meninggikan suaranya.


Seisi kediaman sedari tadi mendengarkan percakapan mereka. Mereka semua menggeleng ikut sedih dan terkejut atas berita itu.


Pelayan yang diselundupkan kesana itu menyeringai tipis dari balik tembok dapur, ia segera melompat keluar dari jendela belakang dan menghilang.


"Aku harus melihat Chuan Yun!" tegas Ting Er sambil berlari hendak menyusul.


"Tidak! Bao Bao! Sebaiknya kamu pergi!" teriak Zhi Yu dengan air mata.


Tapi sebelum ia berhasil menyusul Chuan Yun, pasukan prajurit penyelidikan kasus Kaisar sudah ada di depan mata dan mengunci tangannya.


"Ini dia pelakunya! Tangkap dia!" perintah Pangeran Fu Jia, pemimpin pasukan itu.


"Tidak!" tangis Ting Er.


"Biarkan aku melihat Pangeran Ketiga! Dia sedang membutuhkanku ...!" Ia terus meronta sambil menangis.


"Kamu penjahat! Jika terjadi sesuatu dengannya aku pasti akan membunuhmu!" tuding Ting Er pada Fu Jia.


Fu Jia menarik ujung bibirnya tersenyum kejam lalu mendekati Ting Er.

__ADS_1


"Diamlah pelayan rendahan. Sebentar lagi kalian pasti akan bertemu di alam baka. Tidak perlu menangis karena rindu lagi," bisiknya tepat di telinga Ting Er.


"Jangan lupa menghadiri pesta penobatanku dengan tubuh baru kalian, asal jangan menghantui kami," bisiknya sekali lagi lalu tertawa tertahan untuk mengejek Ting Er.


"Semuanya! Geledah kamar pelayan wanita!" perintah Fu Jia.


"Baik!" jawab mereka serentak.


Ting Er terus meronta ingin lepas dengan air mata yang deras.


" Tolong lepaskan aku sekali saja. Aku tidak akan kabur, aku hanya ingin bertemu dengannya sekali lagi hiks, hiks!" isak Ting Er.


"Jangan berisik! Sudah kukatakan kalian akan segera bertemu!!" marah Fu Jia dilanjut dengan tawa tamaknya.


Tangis Ting Er semakin menjadi-jadi. Sehingga Zhi Yu yang melihatnya juga ikut menangis tak tega dari ujung pintu kediaman.


"Ah aku hampir lupa. Penjahat yang satu lagi belum ditangkap. Mereka berdua bersekongkol bersama," Fu Jia tersenyum.


"Cepat tangkap pelayan yang satu lagi!" perintah Fu Jia.


Penjaga-penjaga itu juga mengunci tangan Zhi Yu lalu menyeret dan mendorongnya hingga terjatuh tepat di depan Ting Er.


"Kak Zhi Yu!"


"Bao Bao ... sudah kukatakan sebelumnya. Seharusnya kamu pergi dari sini huu huu ..." tangis Zhi Yu.


Ting Er menggeleng keras lalu mengusap air mata Zhi Yu.


"Dia benar ... kami akan segera bertemu. Jadi jangan khawatirkan aku Kak," jawab Ting Er yang sudah putus asa itu.


Zhi Yu menggeleng tak kuat menahan tangis.


Tak lama kemudian salah satu prajurit penyidikan itu berlari keluar dari kamar pelayan dengan sekantong racun di tangannya untuk ditunjukkan kepada Fu Jia dan semua prajurit lainnya sebagai saksi.


"Ini racun yang sangat kuat. Yang meracuninya pasti seorang psikopat," kata prajurit yang menemukannya itu.


"Dari baunya, itu adalah racun yang berasal dari tumbuhan liar Ze Zhang. Kami sudah banyak belajar selama perang tahun-tahun lalu," timpal yang lainnya.


"Kalau tidak salah waktu itu teman kami Chu San memakannya sebagai sayur karena kelaparan. Tidak ada dua jam dia sudah muntah darah dan pergi dari dunia," jawab temannya yang satu lagi.


Mereka semua tidak tahu apa-apa. Mereka menggeleng tak habis pikir sambil melihat ke arah Zhi Yu dan Ting Er.


"Mereka ini kejam," kata yang satu lagi.

__ADS_1


"Bagaimana nasib Pangeran Ketiga kami yang jenius dan baik hati itu ..." tangis yang lainnya.


Fu Jia langsung mengepalkan tangannya mendengar satu pujian lagi untuk adik ketiganya itu. Ia sangat benci dan iri pada Chuan Yun sejak kecil.


__ADS_2