My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Kami Bertemu Lagi


__ADS_3

"Duan Wei meminta maaf sekali lagi atas kejadian hari itu. Waktu itu Duan Wei benar-benar tidak sengaja," ucap Duan Wei.


"Hahaha. Kamu ini bicara apa? Yang penting sudah diganti. Kalau kamu tidak pandai menyulam dan membuat syal yang sama persis dengan syal lamaku, baru meminta maaflah," Ci Sen menerima syal itu lalu tersenyum.


"Ayah bilang. Di hari ulang tahunnya bulan depan dia akan membuat lomba untuk para pangeran. Hadiahnya bisa minta apa saja darinya. Kalau aku memintamu, pasti juga diberikan," celetuk Ci Sen.


Duan Wei langsung menunduk dengan pipi memanas karena malu, "Jika Yang Mulia Pangeran benar-benar bisa menang. Maka Duan Wei akan menunggu dengan senang hati."


"Kenapa formal sekali?" Ci Sen tertawa pelan lalu mendekat kepada Duan Wei hingga gadis itu mundur selangkah.


Tapi Ci Sen terus mendekat hingga Duan Wei terperangkap karena ada tembok yang menghalangi di belakangnya.


Ting Er tersenyum ikut bahagia melihat mereka berdua dari kejauhan. Setidaknya mimpi teman terbaiknya selama di harem ini sudah terkabulkan.


Gadis itu segera menutup matanya ketika Ci Sen menyatukan bibirnya dengan temannya itu.


"Pangeran, ini bahaya! Banyak penjaga di luar sana bagaimana jika-"


Ci Sen menempelkan jari telunjuknya pada bibir Duan Wei tanda diam.


"Apa kamu belum sadar mengapa mereka semua tertidur?" Ci Sen tersenyum.


Duan Wei tampak berfikir keras, "Apa Yang Mulia membius mereka?"


"Benar sekali."


"Ya ampun Ci Sen. Aku tidak tahu kalau kamu menyukai calon selir ayah."


Suara itu membuat keduanya kaget. Begitu juga Ting Er yang melihat mereka dari jauh.


"Chuan Yun!" teriaknya dengan spontan karena kaget. Untunglah ia segera membekap mulutnya sendiri sehingga Chuan Yun tak sempat mendengar panggilannya.


"Kakak ... tolong jangan beri tahukan ini pada Ayah," Ci Sen panik setengah mati.


"Kau juga jangan beri tahu pada Ayah. Karena aku ingin menculik pacarku yang ia ambil dariku dengan paksa. Dia malah ingin meniduri wanitaku cih," Chuan Yun meludah karena jijik dengan ucapannya sendiri.


"Apa?" Ci Sen memiringkan kepalanya heran.


"Dia tidak membunuh Ting Er. Dia memasukkannya ke harem dengan nama baru. Huang Lian," ungkap Chuan Yun.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin ..." lirih Duan Wei.


"Kamu kenal Nona Huang Lian?" Chuan Yun membuyarkan acara mesra mereka demi kepentingannya. Kini dia berbicara serius pada Duan Wei.


"Di- dia adalah teman sekamarku," Duan Wei bergetar takut saat melihat tampang mengerikan Chuan Yun saat bertanya padanya.


"Kakak menakutinya," protes Ci Sen.


"Anggap saja hadiah. Aku mau mengajak bicara adik ipar perempuanku. Setelah ini kau tidak akan melihatku lagi Ci Sen. Jadi baik-baik hidup di sini. Bawa ini kalau kamu perlu suatu saat," Chuan Yun menyerahkan peta penyerangannya ke tangan Ci Sen.


"Bawa aku pada Huang Lian," perintah Chuan Yun pada Duan Wei.


"I- iya," Duan Wei sampai tergagap takut.


"Ternyata Huang Lian ini pelayan yang dicintai Pangeran Ketiga. Pelayan yang dijatuhi hukuman mati itu," lirih Duan Wei.


Tapi belum sempat keduanya kembali memasuki bangunan istana harem yang besar itu. Chuan Yun sudah dapat menangkap bayangan Ting Er dari balik tiang penyangga bangunan.


"Ting Er!" panggil Chuan Yun dengan keras.


Ting Er terperanjat kaget. Ia sangat takut kalau pemuda itu mengenalinya lagi hingga ia membuat masalah dengan istri baru Chuan Yun.


Chuan Yun menangis sungguh-sungguh hingga Ci Sen dan Duan Wei ikut terharu melihatnya.


"Aku benar-benar belum pernah melihat Kakak seemosional itu," kata Ci Sen.


"Majikan ... kamu sudah punya istri," tolak Ting Er.


"Jangan berfikir yang tidak-tidak. Aku hanya menikahinya agar kekasihnya tidak dibunuh Kaisar Hwang. Kami bahkan belum pernah saling menyentuh," yakin Chuan Yun hingga Ting Er ikut menangis.


"Kamu baik-baik saja?" Chuan Yun sibuk memeriksa setiap inci tubuh Ting Er untuk memastikan kesehatannya.


"Apa ayahku sempat memaksamu lagi?"


Ting Er melebarkan matanya heran. Bagaimana bisa Chuan Yun mengetahui banyak hal.


"Tabib jadi-jadian yang membawa tanaman obat dari dataran tinggi Kerajaan Hwang adalah ..." Ting Er tak melanjutkan ucapannya.


"Ya! Dia adalah bawahan Putri Hwang. Dia berniat membantuku menyelidiki keberadaanmu. Aku tidak percaya saat kamu dikabarkan sudah dibunuh ayah," Chuan Yun kembali menangis.

__ADS_1


Tiba-tiba Ting Er memeluk Chuan Yun dengan erat. Tangisnya sesenggukan sampai-sampai Chuan Yun jadi bingung dan iba.


"Aku juga mengira ... hiks. Kamu akan segera tiada karena racun ganas Pangeran Fu Jia. Hiks. Aku sangat takut mendengar berita kamu kehilangan kesadaran dua kali .... hiks!"


Chuan Yun salah tingkah mendengar kekhawatiran gadis yang memeluknya saat ini. Ia mengelus-elus punggung Ting Er untuk menenangkannya.


"Aku baik-baik saja sekarang. Jangan menangis lagi kucingku," kata Chuan Yun sambil menambah elusannya, kini di puncak kepala Ting Er.


"Tangkap mereka!" Tiba-tiba suara perintahan Mao Mu terdengar lantang.


"Hah!" Ting Er menoleh ke belakang.


Sementara Ci Sen langsung membekap mulut Duan Wei agar ia tidak berteriak mencemaskan Ting Er dan Chuan Yun. Ia yakin kakaknya itu pasti bisa lolos. Apa lagi ia sudah berniat kabur untuk selamanya.


"Jangan berteriak. Ayo ikut aku untuk sembunyi!"


Duan Wei mengangguk menuruti Ci Sen walau dengan ketakutan. Mereka pun segera hilang dari balik semak-semak.


"Hebat sekali Calon Selir Huang Lian! Kamu berselingkuh di belakang kaisar dan berpelukan dengan Pangeran Ketiga di tengah malam," Mao Mu bertepuk tangan sambil tertawa.


Sementara para penjaga dari dalam yang tak tertidur oleh bius Ci Sen itu sudah mengepung mereka berdua.


"Kau! Panggil kaisar kemari. Katakan kalau ada hal menakjubkan mengenai gadis calon selir tercintanya Nona Huang Lian," perintah Mao Mu kepada salah satu penjaga.


"Majikan ... bagaimana ini?" Ting Er ketakutan.


Sementara Chuan Yun berperan sebagai pemilik kucing yang baik. Ia segera memeluk Ting Er ke dalam dekapannya untuk menenangkannya.


"Si Mu! Hui Shan!" panggil Chuan Yun untuk melancarkan rencana B nya.


"Ya Tuan!"


Tiba-tiba Si Mu dan Hui Shan muncul dari balik pohon besar yang ada di sana dan mengeluarkan pedangnya. Mereka berdua bertarung hebat dengan para penjaga yang mengepung Ting Er dan Chuan Yun.


"Pangeran cepat lari bersama gadis itu!" seru Hui Shan.


Chuan Yun mengangguk. Ia menggandeng tangan Ting Er lalu berlari keluar dari istana harem.


"Eeeh eeh kejar mereka!" Mao Mu yang panik itu berteriak.

__ADS_1


Setelah mereka berdua berhasil kabur, Hui Shan dan Si Mu segera melompat ke atap dan berlari menyusul Chuan Yun.


__ADS_2