
"Cepat! Di luar ada kereta kuda!" kata Hui Shan.
"Ayo Putri!" Hui Shan juga menggandeng Jing Ru yang tengah menunggunya di sana.
Para penjaga lain yang tak mengerti kronologi cerita apa yang tengah terjadi tengah malam ini hanya memasang wajah bingung. Mereka tak bisa berbuat apa-apa tanpa perintah.
Tapi tak lama setelah itu kaisar terlihat berlarian menyayangkan Ting Er. Gadis cantik yang sangat ia kagumi tubuhnya itu. Sampai-sampai saat dibangunkan di tengah malam pun ia mau bangun untuk mengejarnya.
"Kalian semua bodoh! Cepat kejar mereka! Bawa kembali Nona Huang Lian untukku!" perintahnya.
"Apa yang terjadi?" Karena keramaian itu permaisuri juga sampai keluar dari kediamannya.
"Cepat! Cepat!" kata Hui Shan.
"Zhong Rui! Kirim pasukan kita untuk mengejar mereka!" perintah Kaisar.
"Kalau perlu bunuh mereka semua. Tapi jangan menyentuh gadis itu!" perintahnya lagi dengan ekspresi marah seakan harta karunnya diambil orang.
"Tapi Yang Mulia ... mereka adalah orang-orang Pangeran Ketiga-"
"Bunuh!" potong Kaisar Hu Pei.
"Tidaaak ...! Hu Pei! Apa maksudmu!" Permaisuri ikut berlari menyusul.
"Jangan, jangan bunuh anakmu sendiri!"
"Nona. Gadis yang dibawa pergi oleh Pangeran Ketiga itu bukannya Nona Jiao Bao ya?" pelayan pribadi Permaisuri memperingati.
"Jadi itulah penyebabnya dia kabur dan marah membawa gadis itu. Apa kamu gila?! Sampai mau menikahi orang yang dicintai Chuan Yun sampai mati itu?!" teriak Permaisuri.
"Apa hakmu!" marah balik Hu Pei dengan mata mencuat nyaris keluar.
Segera setelah membuat permaisuri bungkam dengan bentakan dan kepribadian busuknya, ia segera menaiki kuda untuk mengejar mereka.
"Hiya!"
"Nghiiiik ...!"
"Ketepak ketepak ketepak ketepak ..."
"Apa?" Mao Mu sampai menjatuhkan kipas lipat yang selalu ia genggam itu setelah melihat sendiri bagaimana Kaisar memperlakukan permaisuri.
Juga bagaimana pria tua itu tetap membelai untuk mengejar Ting Er.
"Secantik apa dia? Apa Kaisar itu buta?!" marahnya sendiri di tempat.
**_**
"Kita akan pergi ke arah mana? Mereka tetap mengejar kita!" kata Hui Shan dengan panik sambil terus memecut pantat kudanya.
"Kemana saja asalkan tidak tertangkap dulu!!" Jing Ru ikut panik.
Ting Er hanya mampu berlindung di balik lengan Chuan Yun dengan nafas tak beraturan.
"Ini hal terbodoh yang aku lakukan. Tapi aku benar-benar mencintaimu Ting Er!" teriak Chuan Yun frustrasi begitu melihat ratusan pasukan berkuda yang mengejar mereka.
"Apa ayah kehilangan akal sehatnya? Mereka benar-benar mengejar dengan senjata!" Chuan Yun berteriak.
__ADS_1
"Si Mu! Lindungi Ting Er!" perintahnya dengan marah.
"I- iya Tuan!"
"Syuuuu ...!"
"Jleb! Sreb! Sreb!"
"Aaaa ...! Ada apa ini?"
"Cepat berlindung!"
Suara panah beterbangan dimana-mana. Juga suara panah yang menancap di pepohonan maupun menyasar kemah warung milik warga. Tak lupa suara kegaduhan warga yang ketakutan dan berhamburan pergi menyelamatkan diri.
"Hui Shan! Awas!" teriak Jing Ru.
Hui Shan segera membanting setir dan menarik tali kudanya. Pasalnya negara yang kaya akan perairan itu jadi mengepung mereka.
"Nghiiik ...!" Kuda itu memang sudah berhenti secara total. Tapi seharusnya kereta kuda tidak boleh dihentikan secara mendadak begitu. Karena roda belakangnya akan tetap meluncur ke depan karena kecepatan tinggi mereka sebelumnya.
"Aaaaa ...!" teriak mereka bersamaan.
"Jebyur!!"
"Berhenti!" Aba-aba Kaisar.
Akhirnya pasukan yang dipimpin Hu Pei itu berhenti menembakkan panah dan berhenti bergerak.
Kaisar segera turun dari kudanya lalu berlari ke tepi danau karena mengkhawatirkan Ting Er.
"Baik Yang Mulia!" Para prajurit itu dengan penurutnya terjun masuk ke danau untuk mencari gadis itu.
"Seharusnya setelah tenggelam mereka mengapung ke atas bukan? Kemana mereka? Setahuku Chuan Yun tidak bisa berenang," gumam Hu Pei.
"Kami tidak menemukannya Yang Mulia!" teriak salah satu dari mereka.
"Benar Yang Mulia! Mungkin mereka sudah berenang ke dasar dan kabur!"
"Sial! Itu tidak mungkin! Cepat cari lagi! Jika tidak ketemu, kalian semua akan kubunuh hari ini!" marah Kaisar Hu Pei.
**_**
Sebelum mereka ber-lima menutup matanya, mereka sempat melihat cahaya bulan yang begitu terang menyinari permukaan air.
"Jebyuur!!"
Ting Er! batin Chuan Yun yang langsung mengkhawatirkan gadis tercintanya.
Saat ini mereka masih berpelukan.
Tapi ...
Kemudian kesadaran mereka semua hilang bersamaan dengan rasa tertarik semakin dalam ke dasar air hingga masuk ke jurang air yang sempit dan gelap tanpa tahu siapa yang menarik mereka ber-lima.
"Jebugh! Bugh! Bugh!"
"Aauww ..." pekik sakit Hui Shan begitu pantatnya membentur lantai.
__ADS_1
"Aduh ..." Ting Er juga merintih.
"Tuan Putri!!' Hui Shan langsung mengkhawatirkan pasangannya.
"Kita dimana ini?" Jing Ru memberanikan diri membuka matanya.
"Chuan Yun! Chuan Yun!" Ting Er meneluk-nepuk pipi Pangeran Ketiga.
"Tuan Muda!" Si Mu yang baru membuka matanya itu juga langsung menghampiri majikannya.
"Dia pingsan," kata Ting Er sambil menengok ke sekitarnya untuk mencari bantuan.
Tetapi dia sadar. Saat ini mereka berlima ada di lapangan dengan rerumputan luas entah dimana.
"Apakah ini galaksi yang lain lagi?" Ting Er melebarkan matanya.
"Galaksi lain?" Jing Ru mengulangi gumaman Ting Er dengan nada bingung.
Tapi kemudian terdengar suara ricuh anak-anak sekolah dasar yang memasuki lapangan itu sambil mulai menendang bola futsal mereka.
"Hahaha!"
"Hahaha!"
Tawa ceria anak-anak yang semakin mendekat itu membuat Ting Er panik, "Oh tidak. Ini galaksi bima sakti kan?"
"Cepat-cepat kita harus keluar dari sini. Ini sekolahan anak-anak. Bisa bahaya kalau ada yang melihat kita dan melaporkannya pada gurunya," himbau Ting Er.
"Sekolah?!" panik Chuan Yun yang tiba-tiba terbangun.
"Tuan Muda!" tangis Si Mu histeris lalu memeluk majikannya yang masih basah kuyup itu.
"Ting Er! Hui Shan! Jing Ru! Si Mu! Kalian semua hidup!" Chuan Yun menangis bahagia.
"Tidak ada waktu, cepat keluar dulu dari sekolahan ini!" Ting Er mendahului mereka semua dan berlari menerombol kerumunan anak-anak itu.
"Ada orang-orang kerajaan sedang syuting di sini!"
"Lihat itu!"
"Yang itu pasti pelayan," seorang bocah menunjuk pada wajah Si Mu.
Si Mu yang ketinggalan itu segera bangun dan berlari meninggalkan anak-anak yang menunjuknya.
"Sekarang bagaimana? Hosh ... hosh ..." Nafas Jing Ru jadi tak beraturan setelah berlari.
"Ini sebenarnya tempat apa?" gumam Hui Shan.
Chuan Yun melihat-lihat sekelilingnya dengan tenang, tapi kemudian dia berteriak takut seperti tarzan yang baru pertama kali melihat mobil melaju kencang di jalan raya.
"Aaaaa ...! Tolong aku Si Mu!"
"Berlindung di balik hamba Tuan!" Si Mu dengan serius merentangkan tangannya melindungi Chuan Yun.
Tapi kemudian mobil itu hanya melewati mereka dan menyisakan angin kencang yang menerbangkan ujung rambut mereka.
Ting Er menepuk kepalanya sendiri sambil menggeleng. Mungkin kalau mengurus satu tarzan di bumi ini mudah. Tapi bagaimana kalau empat?
__ADS_1