My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Kege-eran


__ADS_3

"Kenapa gemetaran?" Seperti kebiasaannya yang sudah-sudah, Chuan Yun memperdulikan pelayannya yang sakit.


Tapi perhatian yang biasa bagi Chuan Yun itu adalah perhatian luar biasa bagi pelayan depot itu.


"Ahahah sa- saya hanya sedikit kurang enak badan," ia beralasan sekaligus mencari perhatian yang lebih lagi.


"Selama aku ada di istana. Aku memberikan jam kerja yang adil. Mereka dibagi dalam empat kelompok. Satu orang bekerja enam jam dan keempat kelompok itu bekerja total dua puluh empat jam dengan empat shift. Apa disini majikanmu tidak begitu?" tanya Chuan Yun tanpa maksud apapun.


Dia yang sejak kecil ditanamkan rasa perhatian pada rakyat kecil maupun pelayan dalam urusan pemerintakan itu memang baik hati.


Seperti yang diduga, gadis itu semakin percaya diri dan mengira aktor terkenal itu memperhatikannya.


"Disini kami bekerja dua belas jam. Tapi jangn khawatir Tuan. Saya baik-baik saja ..." jawabnya dengan sipuan malu-malu hingga Ting Er jengkel melihatnya.


"Dua belas jam?! Itu tidak manusiawi seperti jaman perbudakan Song Ju abad dua puluh," kaget Chuan Yun dengan serius.


Pelayan itu semakin tersipu, "Hahaha Tuan bisa saja."


Chuan Yun heran melihat tawa itu. Padahal dirinya ini serius, bukan menggombal seperti yang gadis itu pikirkan.


"Tuan sepertinya sangat suka pelajaran sejarah ya. Sudah begitu berbakat menjadi aktor. Kalau boleh tahu main di film apa?"


"Aku ..." Chuan Yun berfikir keras.


"Chuan Yun! Berhenti bicara dan cepat makan. Lalu kamu pelayan, jangan ganggu suamiku," marah Ting Er tiba-tiba. Ia diam sejak tadi hanya untuk memendam emosinya karena Chuan Yun menganggapnya sebagai pelayan dan tak berhak banyak bicara. Tapi sebenarnya ia cemburu. Sangat cemburu.


Si Mu dan Chuan Yun tampak kaget.


Tapi anehnya gadis itu malah semakin tertawa sambil menutup mulutnya, "Sangat hebat melihat syuting langsungnya."


"Jadi Tuan ini memerankan Pangeran Jenius Kerajaan Hui ya? Pangeran Chuan Yun itu kabarnya meninggal setelah masuk ke danau saat kabur dengan seorang pelayan yang dia cintai. Kaisar mencari jasat keduanya bertahun-tahun di danau itu tapi tidak diketemukan."


Kemarahan Ting Er langsng surut. Sementara Chuan Yun melebarkan matanya selebar-lebarnya.


"Ah maaf mengganggu kalian makan. Saya tidak bermaksud tidak sopan. Saya pamit dulu," tiba-tiba pelayan itu sadar akan kelancangannya menit-menit terakhir ini lalu segera membungkuk dan pergi dari sana. Pasalnya bosnya sedang memperhatikan kelakuan tak pantasnya pada pengunjung depot dari meja kasir sejak tadi.


"Apa?" Chuan Yun mendesis.

__ADS_1


"Seperti yang aku katakan. Majikan adalah sejarah disini. Tapi mereka semua tidak tahu," kata Ting Er.


"Ini memang tahun 2022. Kamu adalah manusia purba," imbuh Ting Er penuh penghayatan.


"Ah lebih baik kita makan dulu Yang Mulia," Si Mu terlihat sudah kelaparan. Tapi ia harus menunggu majikannya memulai makan dulu sebelum dirinya.


Ting Er sempat menertawakannya.


"Cepat makan saja dulu. Nanti kita cari tahu lebih lagi. Majikan jangan terlihat mencurigakan," naseha Ting Er.


Pikiran was-was manusia kolot itu langsung menurut. Chuan Yun pun mengangguk dengan alis tertaut, lalu mulai menyumpit mienya.


"Aku ingin bertanya lagi pada gadis itu. Bagaimana keadaan kerajaan setelah aku pergi," kata Chuan Yun tiba-tiba, tapi Ting Er langsung menahan tangannya.


"Kau bisa cari tahu di perpustakaan kota. Tidak perlu mengajaknya bicara," marah Ting Er.


Chuan Yun menatapnya tak mengerti. Sementara Si Mu langsung memahami rasa cemburu Ting Er dan mulai tersenyum-senyum sendiri.


"Nona cemburu, Tuan," celetuk Si Mu dengan lancang hingga Ting Er memelototinya dengan sadis.


Chuan Yun pun paham, ia langsung duduk kembali ke tempatnya dengan senyuman lebar.


"Uhuk!" ucapan itu sukses membuat Ting Er tersedak. Apa lagi sambal ayam gepreknya sangat terasa pedas di kerongkongannya.


Chuan Yun langsung menyodorkan teh, lalu mengelus-elus punggung Ting Er.


Ting Er tak menjawab. Setelah meneguk teh itu ia kembali melanjutkan acara makannya tanpa mau menatap Chuan Yun karena malu.


Si Mu tertawa tertahan sepuasnya.


Mereka pun melanjutkan sarapan dengan sangat hening.


"Aku akan bertanggung jawab. Jangan cemburu," kata Chuan Yun tiba-tiba begitu ia selesai melahap habis mie di mangkuknya.


Chuan Yun beranjak dari tempatnya lalu berjalan ke arah kasir, Ting Er yang was-was akan kebodohan orang kuno itu langsung berlari mengikutinya dari belakang.


"Dimana kita bisa mencari pendeta yang bisa menikahkan pasangan?" tanya Chuan Yun.

__ADS_1


"Ah bukan itu maksud dia. Dimana kantor pencatatan sipil untuk mengurus surat nikah?" Ting Er segera menyela dengan sungkan.


"Oh itu ada di dekat sini Nona. Lima bangunan ke kanan," jelas bos depot itu sambil tersenyum sopan.


Waiter tadi masih tersenyum di belakang sana seakan itu hanya bagian dari syutingnya.


"Kami akan benar-benar menikah," kata Chuan Yun tiba-tiba.


Tapi waiter itu masih menganggapnya sebagai lelucon.


"Berapa semuanya?" Ting Er masa bodoh saja, lalu bertanya pada sang Kasir.


"Empat puluh delapan ribu," jawab bos depot.


Ting Er segera menyahut dompet yang sedari tadi disita oleh Chuan Yun di tangannya, lalu ia mengeluarkan selembar kertas.


"Kembali dua ribu, terimakasih ..." Bos itu memberikan uang kembalian lalu tersenyum lagi.


"Tuan, kalau boleh saya ingin minta nomor teleponnya," Waiter yang merasa diperhatikan dan diberi kode oleh Chuan Yun itu dengan berani maju ke depan Chuan Yun.


"Apa itu nomor telepon?" tanya Chuan Yun.


"Jangan berakting seperti pangeran kuno lagi Tuan. Saya serius," katanya dengan senyuman malu-malu.


"Lima bangunan dari sini?" Ting Er mengejanya dengan agak keras.


"Saya masih baru. Bisa kamu antarkan?" tanya Ting Er pada waiter yang tadi.


"Eh? Nona bercanda?"


"Bisa antar saya sebentar saja? Bos kamu tidak mungkin marah kan," Ting Er bersikeras.


Gadis itu mencoba mengikuti alurnya. Ia segera berpamitan pada bosnya untuk mengantarkan orang asing ini sebentar saja.


Chuan Yun yang tak tahu apa-apa itu langsung digeret begitu saja oleh Ting Er untuk mengikuti gadis yang akan menunjukkan jalan untuknya.


"Kami tidak bercanda. Kami ini kekasih," Ting Er mengatakannya dengan sarkas hingga Waiter itu paham.

__ADS_1


Dia menengok Chuan Yun untuk memastikan reaksinya. Chuan Yun berdeham malu atas reaksi Ting Er yang berlebihan hingga membuat gadis itu takut.


"Maaf kalau perhatian tadi membuat Anda salah paham. Saya memang sangat peduli dengan kesehatan rakyat dan pekerja istana. Tapi bukan maksud apa-apa. Karena dia memang calon istri saya," Chuan Yun menjelaskan dengan sopan seperti bangsawan sejati.


__ADS_2