My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Arwah Bao Bao Menyuruhnya Makan?


__ADS_3

Saat Si Mu mengamati keadaan tuannya itu, dia bisa melihat bahwa saat ini Chuan Yun sedang menggiggil kedinginan.


"Tuanku kedinginan. Apa itu artinya lukanya mulai infeksi karena tidak mau minum obat?" cemas Si Mu.


Jing Ru segera mengarahkan pandangnya ke arah Chuan Yun pula.


"Bisa jadi," jawab Jing Ru.


"Tapi cuaca juga sedang berangin. Aku akan menutup jendelanya," kata Jing Ru seraya beranjak dari tempat duduknya.


Sesaat sebelum ia menutup kedua belah pintu jendela kaca itu, selembar kain ringan dengan sulaman bermotif kucing berwarna jingga terbang memasuki kamar Chuan Yun.


"Eh apa ini?" Jing Ru mengambil kain itu dan mengamatinya.


"Lucu sekali kucingnya. Sulaman siapa ini?" heran Jing Ru.


Si Mu segera menggeleng memberi aba-aba. Ia takut sulaman itu akan semakin mengingatkan Chuan Yun akan Ting Er dan membuatnya semakin sedih.


Tetapi diambang kesadarannya karena nyaris tertidur, Chuan Yun sempat mendengar gumaman Jing Ru. Dalam sekejap ia jadi bertenaga dan membuka matanya untuk melihat benda di tangan Jing Ru.


"Kucing?" tanyanya.


Jing Ru tertawa pelan melihat reaksi Chuan Yun.


"Yang Mulia suka kucing?" Jing Ru menunjukkan kain itu dengan jelas di depan mata Chuan Yun.


"Aku akan mengembalikannya jika tahu siapa pemiliknya. Kain ini datang dari arah sana," Jing Ru menunjuk ke luar jendela lalu kembali menatap Chuan Yun menanti reaksinya. Mumpung pemuda itu sedang tertarik dan mau diajak bicara.


Sedangkan Si Mu hanya bisa pasrah sambil menutup wajahnya sendiri. Ia takut Chuan Yun akan semakin mengenang dan menangisi Ting Er.


Chuan Yun mengikuti arah yang Jing Ru tunjuk dengan jari telunjuknya.


"Istana Harem ayah," lirih Chuan Yun.


Tiba-tiba ia menyahut kain itu dari tangan Jing Ru dan melihatnya dengan teliti.


"Ting Er," ucapnya.

__ADS_1


Jing Ru melihat Chuan Yun dan kain itu secara bergantian beberapa kali, "Maksudnya? Apa hubungannya? Oh ... gadis kucing yang kamu maksud adalah gadis yang suka kucing?" tebak Jing Ru.


"Dia pasti membuat ini. Ini pasti Ting Er," kata Chuan Yun dengan air mata.


Si Mu yang tidak percaya itu menggeleng, "Tuan Muda. Relakan gadis itu. Gadis itu sudah tiada. Ini hanya kain dengan motif kucing. Semua gadis bisa saja menyukai kucing."


Jing Ru sendiri menyetujui ucapan Si Mu.


Chuan Yun memperhatikan tetesan darah di dekat telinga kucing itu dan mulai cemas, "Apa dia baik-baik saja?"


"Mungkin jarinya tertusuk jarum saat menyulam. Itu luka kecil," Jing Ru segera menenangkan Chuan Yun.


"Tidak. Jing Ru, jika kamu memang peduli padaku. Jika memang kamu mau membalas jasaku. Cari gadis yang membuat ini. Tanyakan namanya. Aku, aku pasti akan makan jika dia masih hidup," pinta Chuan Yun sungguh-sungguh tanpa menghiraukan ucapan tanpa harapan dari Si Mu.


"Bukan setelah mendengar beritanya. Tapi sekarang juga," Jing Er segera memanfaatkan situasi itu. Ia berfikir setidaknya pemuda itu mau memakan obatnya sekali saja.


"Tentu, tentu!" Chuan Yun segera mengangguk mengiyakan tanpa rasa ragu.


Melihat itu Jing Ru tak kuasa menahan air matanya karena tak tega.


"Baiklah. Aku akan memastikan nama gadis ini. Tapi beri waktu tiga hari. Kita perlu menyelidikinya diam-diam. Karena jika tergesa-gesa bisa ketahuan," ujar Jing Ru.


"Jadi selama tiga hari Yang Mulia harus mau makan obat dan makan bubur," Si Mu menambahkan.


"Baiklah. Aku setuju!" Chuan Yun mengiyakan dengan mantap. Karena menurutnya, bunuh diri bisa dilakukan dengan cara apa saja bukan?


Jing Ru dan Si Mu saling bertatapan dengan senyuman positif. Kemudian Jing Ru mengambil kembali kain sulaman itu dari tangan Chuan Yun, "Aku akan mengirimkan sedikit pasukan mata-mata yang ayahku hadiahkan untukku."


"Si Mu, suapkan obat dan bubur untuknya," pesan Jing Ru sebelum ia pergi dari sana.


"Saya mengerti Tuan Putri!" jawab Si Mu dengan semangat tinggi.


Ia segera merebus ulang obat Chuan Yun sesuai resep Tabib Ahli Racun tadi. Juga memerintahkan pelayan wanita untuk membuatkan bubur.


Begitu Si Mu datang dengan makanan dan obat, Chuan Yun langsung memaksakan dirinya untuk duduk dengan tegap hingga sempat membuat Si Mu khawatir.


Tapi melihat semangatnya ketika menyendok makanan dan obatnya sendiri tanpa bantuan meski kesusahan, Si Mu sudah cukup bersyukur.

__ADS_1


"Tapi jika dia hidup. Apa dia menyamar menjadi pelayan di istana harem? Apakah ibu ada di sana dan menolongnya diam-diam?" kata Chuan Yun dengan senyuman sumringah.


Pemikiran Chuan Yun itu cukup masuk akal bagi Si Mu. Akhirnya ia memikirkan dan mengangguk menyetujui.


"Tuan mungkin tidak salah," kata Si Mu.


"Semoga harapan ini tidak mengecewakan. Dan jika memang permaisuri menolong Ting Er, dia pasti memberi Ting Er nama baru di sana. Lalu statusnya pasti pelayan," Si Mu kembali mengaktifkan logika politiknya seperti biasa.


Chuan Yun semakin terlihat bahagia mendengar perkiraan Si Mu. Sementara Si Mu masih takut kalau dugaannya itu salah. Ia sangat takut tuannya itu kembali berinisiatif mengakhiri hidup seperti tadi.


"Melihat Tuan masih hidup saja sudah sangat ajaib untukku. Maka apapun hasil pemeriksaan Putri Jing Ru nanti Tuan harus tetap bertahan hidup," isak Si Mu.


"Kamu tidak perlu memerintahku. Harus hidup atau mati," jawab sarkas Chuan Yun seperti karakternya selama ini.


Si Mu menunduk tak berani. Karena dia sendiri sebenarnya juga bersalah sudah membohongi Chuan Yun tiga hari yang lalu. Tentu saat ini majikannya tak mempercayainya lagi.


"Kenapa ibu tidak memberi tahuku setidaknya agar aku tetap bertahan?" pikir Chuan Yun.


"Itu masih berisiko. Jika seseorang tahu, bisa saja informasinya disampaikan pada kaisar sehingga kaisar marah," jawab Si Mu.


"Benar juga," Chuan Yun mengangguk. Lalu meneguk habis obatnya.


Benar-benar seperti kejadian terulang. Seperti pada saat Chuan Yun baru terserang racun dan meminum obat dengan semangat demi menemui Ting Er yang menunggunya di rumah.


Si Mu tersenyum tanpa harapan sambil menunduk melihat ke bawah. Jika Dewa berkenan, lindungilah gadis bernamaTing Er itu. Sekiranya dia masih hidup. Ini semua demi nyawa Tuanku, batin Si Mu.


Si Mu kembali mengamati Chuan Yun. Tuannya itu sedang makan bubur dengan lahap saat ini.


"Kakak ...!"


"Kakak ...!"


Seperti biasa, jika Pangeran Ci Sen datang ke kediaman saudara ketiga yang dingin dan tenang ini, kediamannya menjadi ramai seketika.


"Hosh ... kudengar kondisi Kakak memburuk lagi dan tidak mau makan, aku membawa-" ucapannya langsung terhenti begitu ia mengangkat wajahnya dan menemukan Chuan Yun yang tengah makan lahap di sana.


"Apa yang terjadi? Apa arwah Bao Bao menyuruhnya makan?" kaget Ci Sen.

__ADS_1


__ADS_2