
"Selamat pagi semuanya. Hari ini kita akan melakukan tes menyulam. Jangan terlalu gugup. Kalian diberi waktu tiga hari. Seleksi ini masih panjang dan membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Ada seleksi merajut, memasak, cara berjalan, tata bahasa, menari, kebersihan kulit, dan masih banyak lagi."
"Setiap tahunnya ada sekitar dua puluh sampai tiga puluh gadis yang berhasil sah menjadi selir. Jadi kalian harus bekerja keras dalam persaingan memasuki istana," Guru Shin tersenyum.
Mendengar fakta bahwa hanya sedikit yang akan lulus, gadis-gadis itu mengeluh dan memanyunkan bibirnya.
"Haah ... sulit sekali."
"Benar ..."
"Bagaimana kalau kita menyuap saja agar bisa cepat masuk."
"Heh kau ini."
Sementara pikiran Ting Er masih ke mana-mana karena cemas. Entah kenapa sejak kemarin perasaannya tidak enak.
Padahal sudah jelas kemarin Duan Wei mengatakan kalau Chuan Yun sudah sadar dan akan segera pulih. Tapi kenapa perasaanku tidak enak? batin Ting Er.
"Nona Xing Huang Lian!"
Ting Er langsung tersentak kaget.
"Apa yang Anda pikirkan? Tolong mendengarkan dengan baik!" marah Guru Shin.
"Saya minta maaf Guru Shin," kata Ting Er dengan segera.
Guru Shin tidak menghiraukan Ting Er lagi. Ia beranjak dari sana membagikan benang, kain, jarum, dan gunting kepada masing-masing calon selir.
Ting Er menerimanya sambil mengucap terimakasih, "Terimakasih Guru Shin."
"Eh Huang Lian, kamu ingin membuat motif apa?" tanya Ai Xin yang duduk di sebelahnya.
"Ah aku ..." Ting Er menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Seingatnya terakhir ia menyulam adalah saat ia masih duduk di bangku SMP dan mengikuti ekstrakurikuler keputrian.
"Aku belum memikirkannya. Kamu?" tanya balik Ting Er.
"Bunga teratai, air, dan ikan koi. Itu adalah simbol keberuntungan. Aku sudah dibocori oleh salah satu selir yang lolos tahun lalu. Dia adalah saudara jauhku. Yang berhasil menarik perhatian dengan sulamannya di sesi ini akan berkesempatan dipanggil kaisar dan menghabiskan malam bersamanya," Ai Xin menceritakannya dengan semangat.
__ADS_1
"Ah benarkah?" Ting Er sedikit jijik mendengarnya.
"Kalau sudah dapat kesempatan itu, pastikan kamu membuat Yang Mulia Kaisar puas sehingga dia memasukkanmu dalam jalur instan lolos seleksi," tutur Ai Xin.
"Ahaha kalau gitu aku tidak perlu. Lagian aku takut kalau dipanggil," celetuk Ting Er.
Ai Xin menahan tawanya, "Kamu sangat polos. Kamu takut? Memang sangat mengerikan untuk hari pertama karena kita masih suci."
Ting Er melotot mendengarkan teman barunya yang jauh lebih jujur darinya ini saat berbicara.
"Jangan keras-keras," kesal Ting Er.
"Bisa langsung di kerjakan mulai sekarang. Kalian boleh tetap di aula ini atau kembali ke kamar. Boleh juga mengerjakan di luar gedung istana, asal tidak keluar gerbang," pesan Guru Shin.
"Makan siang dan istirahat jam dua belas nanti. Lalu lanjutkan pekerjaan jam satu siang sampai waktu makan malam jam enam sore," pungkas Guru Shin sebelum meninggalkan aula itu.
"Baik Guru Shin ...!" jawab mereka serempak.
Ting Er tersenyum. "Ternyata tidak semembosankan yang aku kira. Sudah lama aku tidak menyulam. Aku sangat bersemangat," gumamnya.
"Sudah lama ya? Setelah ini kamu pasti sibuk menyulam dan melakukan hal-hal keputrian. Lalu dilayani oleh pelayan-pelayan," Ai Xin terkekeh.
"Aku harap kelolosanku bisa ditukar denganmu Ai Xin. Aku benar-benar lebih suka jadi pelayan," kata Ting Er seraya mulai memasukkan ujung benang ke pucuk jarumnya.
"Benar sekali. Kaisar sangat seenaknya sendiri membawaku kemari. Padahal aku mencintai seseorang," lanjut Ting Er seraya mulai menusukkan jarumnya ke kain yang ia pegang.
"Oh kamu memilih warna jingga?" Ai Xin tersenyum.
"Kamu mau buat apa?" timbrung Shi Wai yang tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Ting Er.
"Seekor kucing keberuntungan," Ting Er tersenyum percaya diri sambil membayangkan patung kucing keberuntungan yang selalu mengayun-ayunkan tangan kanannya dari balik kaca toko buku di depan rumahnya dulu.
"Kucing keberuntungan? Hahaha. Menarik. Semoga saja ide barumu diterima Huang Lian," tawa Shi Wai.
"Aku baru dengar ada yang namanya kucing keberuntungan," celetuk Ai Xin.
"Hei Ai Xin, bagaimana bisul di pahamu? Obat yang aku berikan kemarin manjur tidak?" tanya Shi Wai.
"Sssst ...! Jangan keras-keras," Ai Xin menempelkan jari telunjuknya di bibir Shi Wai.
__ADS_1
Shi Wai tertawa tertahan.
"Sudah. Sudah mengering. Terimakasih banyak," Ai Xin tersenyum lebar lalu memeluk Shi Wai dengan erat.
"Aaa terimakasih Shi Wai sayangku," kata Ai Xin dengan manjanya.
"Ah!"
Begitu pekikan sakit Ting Er terdengar, keduanya langsung melepaskan pelukanya untuk melihat Ting Er.
"Huang Lian! Jarimu berdarah!" Ai Xin segera menarik ibu jari Ting Er dan menekan-nekannya agar darah kotornya keluar.
"Pertanda buruk ..." cemas Shi Wai si pemikir tradisional.
"Pangeran Ketiga akan tiada."
Samar-samar terdengar gosipan sepenggal yang berhasil ditangkap telinga Ting Er.
Ting Er langsung berdiri menarik paksa tangannya dari pegangan Ai Xin.
"Siapa? Siapa yang bilang Pangeran Ketiga akan tiada?!" teriaknya tiba-tiba.
Gadis yang barusan bicara itu dengan takut menoleh ke arah Ting Er.
"S- saya Nona. Ada apa?"
"Kamu pasti bohong. Dia baru saja siuman kemarin. Dia pasti baik-baik saja kan?" desak Ting Er hingga air matanya berjatuhan.
Gadis-gadis lain yang masih tinggal di aula itu sampai heran melihat air mata Ting Er.
"Saya baru saja mendengarnya dari penjaga pintu. Pangeran Ketiga kehilangan kesadaran lagi dan akan tiada. Tapi ... sampai sekarang dia masih bisa bertahan, itu sudah sangat mustahil dan aneh," kata gadis itu.
"Nona Xing baik-baik saja?" tanya gadis itu ragu-ragu.
"Tapi tidak perlu khawatir. Besok ahli racun dari kerajaan seberang yang sudah lama bekerjasama dengan Kerajaan Hui akan menolongnya. Dia sudah dalam perjalanan kemari bersama Putri Hwang," timbrung Duan Wei yang tiba-tiba datang saat mendengar keributan.
"Dia akan baik-baik saja. Mohon maaf teman-teman. Temanku Nona Xing ini orangnya sangat emosional. Melihat burung merpati yang mati di depan istana kemarin malam saja dia menangis histeris," Duan Wei tersenyum untuk membuat segalanya natural.
"Ah begitu ..." Gadis-gadis di sekitarnya mengangguk mempercayai begitu ketua ketertiban mereka angkat bicara.
__ADS_1
Jika mereka menghormati yang lebih berpangkat, nilai mereka akan baik. Karena Duan Wei yang akan memberikan laporan kepada Guru Shin di akhir seleksi nanti.
"Sudah Huang Lian. Jangan menangis. Manusia dan makhluk hidup itu ada kalanya hampir tiada seperti itu," hibur Duan Wei sambil memeluk Ting Er yang membeku di sana setelah mendengar nama 'Putri Hwang' dari penjelasan Duan Wei.