
"Aku akan merebusnya," Shi Wai beranjak dari tempatnya lalu berlari pergi ke dapur gedung istana harem.
"Huah ... teman-teman maaf. Tadi tabib Qing masih mengobati orang lain. Ini Tabib Qing sudah datang," tiba-tiba Ai Xin datang bersama dengan Tabib Qing di belakangnya.
"Lho?" Duan Wei kebingungan.
"Tapi yang tadi itu siapa?" Alisnya mengerut merasa curiga.
"Maksudnya?" Ai Xin ikut bingung dengan reaksi Duan Wei.
"Shi Wai kembali!" panggil Duan Wei lantang.
Shi Wai yang belum jauh dari sana pun segera berlari kembali masih dengan tanaman obat di tangannya.
"Kita harus hati-hati. Orang tadi bukan tabib yang Ai Xin panggil," katanya dengan serus sembari mengambil alih obat yang dibawa Shi Wai lalu memberikannya pada Tabib Qing.
"Tabib Qing, apa ini benar-benar obat? Apa ini berbahaya?" tanya Duan Wei.
Tabib Qing mengambil cepuk obat itu lalu membau serta mengamati isinya.
"Ini tanaman obat langka. Biasanya ada di dataran tinggi seperti wilayah Kerajaan Hwang," jelas Tabib Qing.
Ting Er langsung berusaha bangun begitu mendengar kata 'Kerajaan Hwang' karena takut istri Chuan Yun mengetahui siapa gadis yang Chuan Yun cintai dan ingin membunuhnya.
"Nona," Tabib Qing melebarkan matanya melihat Ting Er, gadis yang pernah ia obati sewaktu pingsan karena kram menstruasi.
"Nona masih hidup," lirihnya pelan dengan mata lebar.
"Tapi bagaimana bisa ada tabib jadi-jadian yang kemari. Untuk apa dia memberi obat ini?" Ting Er seakan curiga dan tak terima.
"Huang Lian ... apa yang kau bicarakan? Mungkin dia hanya tabib magang yang belum terlalu tahu tata cara pemanggilan tabib. Tadi aku memang berteriak memanggil tabib untuk datang ke kamar kita, tapi aku kira disana tidak ada orang," jelas Ai Xin.
"Mungkin dia dengar dan langsung bergegas," Ai Xin berusaha berfikir postif.
"Iya tidak perlu panik. Lagi pula kata Tabib Qing obat ini benar-benar bagus dan tidak berbahaya," Shi Wai menimpali.
"Tapi orang itu bertubuh seperti prajurit dan orang militer. Aku takut ada yang janggal," Duan Wei yang sudah mantap akan hidup di istana itu serba hati-hati.
__ADS_1
"Sebaiknya kita menyimpannya saja dulu," imbuh Duan Wei.
"Uhuk! Uhuk uhuk!" Ting Er kembali terbatuk sekaligus merasa takut.
Teman-temannya menatap khawatir Ting Er. "Lakukan sesuatu Tabib Qing. Dia alergi udang," kata Duan Wei.
"Tapi Nona Nona, obat itu sangat langka dan bagus. Diminum sekali saja pasti langsung sembuh," jelas Tabib Qing seraya menunjuk ke arah obat yang hendak Duan Wei simpan sementara itu.
"Saya sendiri tadi tidak siap apa-apa saat kemari. Jika ini mengenai penyakit radang karena alergi, obatnya sudah benar. Tanaman Zhi Pao ini sudah pasti bagus," yakin Tabib Qing.
Melihat Ting Er yang semakin berkeringat dan pucat seperti hendak kehilangan kesadaran itu Shi Wai memberontak. Ia langsung mengambil alih obat itu dari Duan Wei dan tak mau menunggunya sampai selesai berfikir.
"Dia bisa tiada Duan Wei, aku tak bisa membiarkannya," Shi Wai langsung berlari pergi dari sana.
Apa artinya ini? Nona Ting Er masih hidup tetapi sebagai Huang Lian? Atau aku salah mengenali orang? batinnya sambil terus mengamati wajah Ting Er yang kini agak berbeda karena riasan harem dan pakaian indahnya.
Bagaimana aku bisa memastikannya? Tapi mana mungkin? Kenapa harus menyamar di harem sebagai calon selir? herannya.
Tidak. Mungkin hanya mirip, Tabib Qing menggeleng menepis pemikirannya sendiri.
Sebelum tabib itu hendak pergi, Duan Wei menahannya.
"Tentu saja Nona Ji," Tabib Qing membungkuk hormat dan duduk dengan tenang di sana. Ia menghargai keprofesionalan dan karakter kuat Duan Wei, gadis yang sangat lebih muda darinya itu.
Tak lama kemudian Shi Wai datang dengan mangkuk berisi rebusan tanaman obat tadi. Ia segera duduk di sebelah Ting Er, meniup sendokan obat yang masih panas itu lalu memberikannya pada Ting Er.
"Kalaupun Putri Hwang ada dendam, aku tidak keberatan dibantu pulang ke rumah," Ting Er tersenyum sambil berkata dengan lirih.
Duan Wei menggeleng hendak mencegahnya minum karena mendengar ucapan Ting Er yang menyedihkan.
Tetapi Ting Er sudah meneguknya. Kemudian ia mengambil alih mangkuk itu dan meneguknya sampai habis.
"Kenapa Putri Hwang ada dendam? Putri Hwang saja tidak kenal denganmu. Ayolah berfikir positif," Shi Wai menyela.
Ai Xin mengangguk mendukungnya.
Sementara Tabib Qing jadi banyak berfikir. Kenapa dia khawatir Putri Hwang ada masalah dengannya? Jangan-jangan memang Nona Ting Er, batinnya.
__ADS_1
Akulah yang membuat keduanya dipisahkan kaisar. Ini semua salahku. Apa aku perlu memberi tahu Pangeran Ketiga untuk menebus kesalahanku? batin Tabib Qing.
Ting Er berpura-pura tidak mengenal Tabib Qing agar Tabib Qing tidak mencurigainya. Tapi sepertinya percuma saja, Tabib Qing sangat pandai dan mudah menalar setiap kejadian di sekitarnya.
"Bagaimana? Apa perlu aku ambilkan rebusannya lagi?" cemas Shi Wai.
Ting Er menyadari rasa pusingnya yang berangsur membaik. Juga rasa sesaknya yang mulai berkurang.
"Obat ini benar-benar bekerja," kata Ting Er dengan mata melebar tak percaya.
Tabib Qing, Shi Wai, dan Ai Xin tersenyum senang. Sementara Duan Wei menghela nafas lega.
"Siapapun tabib jadi-jadian itu. Entah itu malaikat atau siapa. Aku berterimakasih padanya," racau Duan Wei.
Mereka semua pun tertawa bahagia kecuali Ting Er.
Jadi siapa tabib yang membawa tanaman obat dari Kerajaan Hwang itu? Untuk apa? pikir Ting Er.
"Yang Mulia Kaisar memasuki ruangan!"
"Hah!" Mereka semua kaget hingga nyaris terpental dari kasur tempat mereka duduk.
"Untuk apa Kaisar kemari?" Ting Er bergidik ngeri.
"Saya harus pamit," Tabib Qing segera kabur dari sana sebelum Kaisar melihatnya dan menduga kalau Tabib Qing tahu mengenai fakta bahwa Ting Er masih hidup.
Tiba-tiba Kaisar Hu Pei memasuki kamar itu dengan cemas.
"Apa yang terjadi? Huang Lian baik-baik saja?" tanyanya.
"Yang Mulia Kaisar," Duan Wei, Shi Wai, dan Ai Xin langsung membungkuk memberinya sambutan kecuali Ting Er.
Saat ini Ting Er terlihat takut dan menyeret mundur pantatnya dari kasurnya.
"Katakan. Apa yang terjadi sehingga kamu tidak mau menemuiku?"
"Duan Wei ijin menjawab pertanyaan Yang Mulia. Nona Xing Huang Lian tadinya tidak sengaja memakan udang dan alerginya kambuh," jelas Duan Wei.
__ADS_1
"Alergi udang? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Hu Pei mengarahkan pandangannya ke wajah Ting Er untuk mengamatinya sendiri.