My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Satu Triliun!


__ADS_3

"Ting Er! Awas! Masih ada monster yang lewat!" Kali ini Chuan Yun tidak bersikap penakut berlindung di balik Si Mu, sekarang dia malah memeluk Ting Er dan menutup matanya erat-erat.


"Chuan Yun. Itu hanya mobil. Mereka bukan monster. Sekarang ikut aku. Kita perlu mencari hotel untuk membersihkan diri. Baju kita semua basah," kata Ting Er.


"Kita ini berpindah galaksi. Sebenarnya dulu tempat tinggalku disini. Hanya saja beda kota," jelas Ting Er.


"Jadi apapun yang kamu katakan waktu itu benar?" Chuan Yun mulai ketakutan.


"Galaksi bima sakti itu ada?" imbuh Chuan Yun masih dengan ketakutan.


"Iya benar," jawab singkat Ting Er. Ia segera mengedarkan pandangnya seakan mencari sesuatu di antara teman-temannya itu.


"Apakah ada perhiasan untuk bertahan hidup?"


"Ah ada ada!" Jing Ru segera menunjukkan sekarung perhiasan yang dipikul Hui Shan sejak tadi.


"Kami juga membawanya Nona Ting Er!" Si Mu segera menunjukkan karungnya juga.


Ting Er bagai ketiban rejeki. Ia terhuyung nyaris pingsan saat melihat dua karung besar itu.


"Ting Er! Ting Er!" cemas Chuan Yun. Ia langsung menahan tubuh gadis itu.


"Kamu baik-baik saja?"


"Ahahaha aku baik. Aku sangat baik," Ting Er masih tak mempercayai apa yang ia lihat barusan.


Ia segera sehat bugar kembali kemudian berlarian di sepanjang jalan hanya untuk mencari toko perhiasan yang mampu membeli harta mereka.


"Eh tunggu kami!" Jing Ru, Hui Shan, Si Mu, dan Chuan Yun jadi bergantung pada gadis yang mengaku berasal dari galaksi ini sekarang.


"Toko Emas Xi Dui?" eja Ting Er.


"Apa ini bukan Indonesia?" herannya.


Ting Er segera bergegas memasuki toko itu dengan pakaian calon selir yang cantik tapi basah kuyup.


"Selamat siang Nona. Ada yang bisa kami bantu?" Pegawai toko itu tersenyum dan menyambut dengan sopan meskipun bentukan Ting Er sangat aneh.


"Sebelumnya bisa aku tanya tahun berapa ini?" tanya Ting Er ragu-ragu.


Pegawai itu berbalik arah untuk melihat kalender. Hari ini tanggal 29 januari 2022. Apa ada yang salah Nona?"


"Hah!" Ting Er menutup mulutnya.


"Waktu tetap berjalan. Selama ini sedang libur semester satu kuliah. Ah gawat sebentar lagi masuk," decit Ting Er.

__ADS_1


"Ada apa Ting Er?" Chuan Yun mendekat sambil menatap curiga pegawai perempuan itu.


"Jangan menatapnya begitu. Sopanlah sedikit," nasehat Ting Er kemudian ia tersenyum lagi kepada pegawai perempuan itu agar tak salah paham.


"Si Mu, lihat. Perhiasan disini sangat bagus. Jika aku masih pangeran aku bisa meminta semuanya," kata Chuan Yun.


Ting Er mendengar semua itu.


"Bisa diam sebentar?" kesal Ting Er.


Keduanya langsung menutup mulut rapat-rapat bagai dimarahi ratu pemimpin hidup mereka di dunia baru ini.


"Bisa aku lihat peta negara ini dan dunia? Negara apa ini?" tanya Ting Er.


Pegawai itu mulai was-was dan takut melihat orang-orang berpakaian kuno dan basah itu di depannya. Tapi melihat mereka membawa dua karung perhiasan, pegawai itu mencoba berfikir positif.


"Ini," kata pegawainya sambil menunjukkan peta dunia dari ponselnya.


"Negara Hui?" Ting Er melotot takut.


"Jadi ini tetap galaksi yang sama ya. Hanya saja sudah tahun 2022," Ting Er sangat yakin.


"Aku ingin menjual semua ini. Berapa harganya?" Ting Er menunjuk ke arah dua karung perhiasan yang dibawa oleh Hui Shan dan Si Mu.


"Apakah bisa ditransfer ke rekening? Apa bisa sekalian diuruskan pembuatan rekening VVIPnya?"


"Ah, bos datang," pelayan yang sedang bermalas-malasan di bawah lantai itu jadi segera bangun karena takut.


"Sepertinya ini sangat luar biasa!" Laki-laki gendut itu melihat-lihat karung yang Ting Er tunjuk tadi.


"Nona. Kamu mencurinya dari mana? Ini adalah peninggalan kerajaan negara ini bukan?" Laki-laki itu mengeluarkan salah satu batu mulia berwarna biru yang ia temukan dari dalam karung.


"Enak saja mencuri! Aku ini Pangeran Ketiga dari Kerajaan Hui!" marah Chuan Yun.


"Jangan sembarangan dengan Tuanku!" Si Mu mengeluarkan pedang tajamnya yang sangat asli dan mengkilap itu.


"Eih eih kalian tolong jangan emosi dulu," Ting Er menenangkan keduanya.


"Nona Ting Er! Mereka mengejek Tuanku!" Si Mu bersikeras.


Tetapi laki-laki itu hampir insyaf gara-gara melihat ujung pedang tajam sungguhan di depan lehernya. Itu bisa saja mengenai kulitnya.


Ting Er segera mencari alasan.


"Kami orang beruntung. Kami sedang menggali tanah rumah kami untuk dijadikan sumur. Tapi malah menemukan harta karun peninggalan kerajaan. Jadi bisakah Anda segera memproses semua ini?" Ting Er melipat kedua tangannya sok kaya.

__ADS_1


Orang itu langsung mengangguk ketakutan.


Jika aku membeli semua ini dan melelangnya di aula barang antik kota pasti aku jadi kaya raya! batin pemilik toko perhiasan itu.


"S-saya akan membeli semua ini seharga satu triliun!" cetus pemilik toko itu tanpa rasa ragu.


Ting Er hampir tak bisa bernafas saat mendengarnya.


"Satu triliun? Itu tidak akan habis sampai turunan ke seratus," kata Ting Er dengan tangan bergetar.


"Ting Er!" Chuan Yun benar-benar khawatir.


"Sejak tadi kamu terlihat kurang sehat. Kamu yakin kamu baik-baik saja?!"


Ting Er mengangguk lagi sambil mengasah nafasnya kemudian berpegangan pada tangan Chuan Yun untuk menopang kakinya yang lemas.


"Baiklah kalau begitu. Segera uruskan rekening VVIP untuk saya di bank yang terkenal. Bisa kamu bagi dua? Setengah triliun atas nama saya dan setengah triliun atas nama dia?" Ting Er menunjuk ke arah Jing Ru.


Jing Ru melotot tak paham.


"Baik. Bisa diatur! Bisa pinjam kartu identitasnya?" Orang itu tersenyum lebar sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya karena tangannya jadi dingin.


Ia benar-benar tak sabar melelang banyak batu berharga dan barang berharga asli kerajaan yang ia dapatkan dari lima orang aneh yang memasuki tokonya.


"Ah kartu identitas ..." Ting Er tampak ragu-ragu. KTPnya tentu masih ada di galaksi bima sakti di dompetnya. Sedangkan ketiga orang bawaannya itu tidak punya identitas.


"Dengan uang setiap masalah akan selesai bukan? Bisakah kamu buatkan kami semua kartu identitas dan rekening VVIP?" tanya Ting Er ragu-ragu.


"Eih bagaimana bisa tidak punya kartu? Kalian ..." Bos toko itu tampak heran sambil menatap kami semua dari atas ke bawah secara bergantian.


"Tck. Apapun demi membeli barang hebat ini. Baiklah aku akan membantu kalian!"


**_**


"Ini rumah baru kita?" Chuan Yun melongok-longok ke dalam dengan hati-hati.


"Klak!" Ting Er menekan saklar lampu utama rumah besar yang ia beli.


"Lalu kemana Putri Jing Ru dan Hui Shan pergi?" tanya Si Mu.


"Rumah kita bersebelahan dengan rumah Putri Jing Er. Jangan khawatir, mereka tidak akan hilang," kekeh Ting Er.


"Akhirnya aku punya rumah besar sendiri!Yuuuhuuu ...!" Ting Er hampir lupa dengan orang-orang pembawa keberuntungan yang akan merepotkannya kedepan.


Ia langsung berlari kencang menaiki tangga, kemudian membuka pintu kamarnya dan melompat ke kasur king size kualitas atas yang begitu empuk dan sejuk.

__ADS_1


"Wooohoooo!!"


__ADS_2