My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Aktor Drama Kerajaan Kuno


__ADS_3

"Chuan Yun! Cepat masuk. Tck," tegur Ting Er karena merasa malu dilihati sebegitu anehnya oleh supir taksi.


"Cepat-cepat!"


Chuan Yun pun langsung masuk ke kursi mobil bagian belakang dan mendempeti kursi Si Mu karena takut.


"Apakah hewan ini menelan kita? Kenapa kita harus duduk di perut dalamnya?" Chuan Yun mendongak kepada Si Mu.


"Tuan. Sepertinya yang Nona bilang itu benar. Ini bukan hewan. Ini alat transportasi buatan," jelas Si Mu.


"Din! Din!"


Chuan Yun nyaris terloncat kaget mendengar suara klakson mobil yang mengantri di belakang taksi mereka. Mobil itu pasti harus menunggu lama karena Chuan Yun sibuk melihati moncong mobil taksinya dulu sebelum masuk.


"Hewannya bisa marah dan berteriak," tuding Chuan Yun pada mobil di belakang yang ia lihat dari kaca mobil belakang taksi mereka.


"Bukan. Itu namanya klakson. Memangnya jaman dulu tidak ada terompet ya?" Ting Er menaikkan satu alisnya heran.


Sementara Si Mu sudah memahami maknanya langsung. "Oh ternyata itu terompet untuk memecah kepadatan kereta lain," gumamnya.


"Kita kemana Nona?" Supir taksi yang merasa diabaikan sejak tadi itu menoleh meminta petunjuk.


"Ah maaf-maaf. Bawa kami ke tempat makan terkenal di kota ini. Kami masih baru soalnya hehe," Ting Er cengengesan.


"Ah baik Nona," jawab Supir itu.


Kalau bisa diibaratkan mungkin tata krama mereka sudah seperti budaya negeri sakura yang begitu menjaga privasi. Supirnya bahkan hanya mengiyakan dan melakukan pekerjaannya tanpa menanyakan hal-hal lain pada orang asing seperti penumpangnya. Entah itu datang dari mana dan pindahan dari mana pun tidak ditanyakan.


Chuan Yun dan Si Mu seperti anak hilang yang celingukan sambil melihat mobil. Sampai tanpa sengaja sikut Chuan Yun menindih tombol pembuka kaca mobil dan ia memekik takut lagi.


"Itu tombol untuk membuka jendelanya," jelas Ting Er dengan sabar.


Si Mu si pandai langsung mengangguk tanda paham, sementara Chuan Yun menganguk belakangan.


"Ada apa dengan manusia jenius ini?" Ting Er menggeleng.


"Mungkin kalau belajar bakal paham kedepannya," gumam Ting Er.


"Ckiiit ..."


Tampaknya mereka sudah sampai di depan sebuah depot yang sangat ramai pengunjung saking terkenalnya.


"Aduh ramai sekali," keluh Ting Er.

__ADS_1


Ia menoleh ke sekitar bangunan itu dari jendela taksi, "Ah ada depot mie biasa tapi sepi."


"Berapa Pak?" tanya Ting Er pada sopir taksi itu.


"Dua puluh ribu," jawabnya.


"Ini, terimakasih Pak," Ting Er memberikan uang tunai pas dari dompetnya.


"Sama-sama."


Mereka semua pun segera turun dari taksi kemudian mengikuti kemanapun Ting Er pergi.


"Ini tuh seperti pusat kota yang ramai ya," gumam Ting Er sambil menengok ke sekitar yang begitu padat bangunan.


"Chuan Yun, kamu suka mie?" Ting Er menoleh dengan wajah sumringah karena bahagia.


Tapi Chuan Yun malah terlihat mengertikan entah kenapa.


"Chuan Yun?"


"Sejak kapan Si Mu berada di sebelahmu. Sejak kapan kamu memanggil namaku langsung. Sejak kapan?" protesnya bertubu-tubi pada Ting Er.


Si Mu langsung mengundurkan langkahnya begitu menyadari kecemburuan Chuan Yun, Tuannya. Chuan Yun langsung berjalan cepat menyamai Ting Er lalu merebut dompetnya lalu merengkuh lehernya dari belakang.


Ting Er langsung sadar diri. Sepertinya Chuan Yun sadar kalau ia mengeksploitasi hartanya dan memanggilnya dengan nama sekarang.


"I-iya Majikan," wajah ceria setelah berada di pusat kota dan suasana rekreasi yang sempurna langsung sirna.


"Duduk disana saja," kali ini Chuan Yun yang memutuskan akan duduk di mana, ke mana, dan makan apa.


"Coba kita lihat ada apa disini ..." Chuan Yun mengambil kertas menunya lalu menyeret jarinya di atasnya.


"Yang ini saja. Mie ayam? Apa tidak ada babbi?" protes Chuan Yun.


"Maaf Tuan, disini spesialis mie ayam," waiter depot itu langsung menanggapi.


"Tck. Sama sekali tidak seperti masakan istanaku dulu. Yasudahlah. Lagi pula di menunya hanya ada mie ayam. Apa bedanya semua ini?" Chuan Yun menunjuk tulisan ragam menu di kertas itu dari atas ke bawah.


"Yang ini mie polos biasa tanpa ayam. Yang ini mie ayam reguler. Yang ini mie ayam ditambah bakso. Yang ini mie ayam dengan siomay. Yang ini mie ayam dengan ayam geprek Tuan," jelas waiter itu dengan profesional.


"Oh. Aku ingin coba mie ayam dengan siomay. Lalu menu apa yang paling enak?" tanya Chuan Yun.


"Mie ayam geprek adalah menu andalan kami Tuan," jawabnya dengan senyuman manis. Kebetulan pelayan itu wanita muda, apa lagi yang bisa ia buat selain tersenyum di depan pelanggan tampannya ini?

__ADS_1


Ting Er menyadari itu dan sedikit cemberut.


"Kalau begitu mie ayam dengan siomay dua, mie ayam ayam geprek satu," putus Chuan Yun.


"Minumnya Tuan?"


"Susu tiga gelas."


"Maaf disini tidak ada susu Tuan," kata waiter itu dengan ragu-ragu.


"Tidak ada susu? Ya ampun. Oke teh hangat saja tiga."


"Baik."


"Ah iya Tuan, kalau boleh setelah ini saya meminta tanda tangan dan foto?" tanyanya ragu-ragu.


"Tanda tangan? Memangnya untuk perjanjian apa?" Chuan Yun yang kolot langsung curiga.


"Foto? Kami tidak ada pelukis," lanjutnya kebingungan.


"Ahahah tidak masalah jika tidak boleh. Saya hanya ingin sekali-sekali berfoto dengan aktor drama kerajaan kuno. Tuan sangat menghayati perannya ya. Jaman dulu foto hanya bisa dilukis secara manual karena belum ada kamera. Ah tunggu sebentar untuk pesanannya," katanya panjang lebar dengan nada sungkan lalu menunduk tiga puluh derajat untuk kesopanan sebelum pergi.


"Dia bicara apa? Aktor?" Chuan Yun bertanya pada Ting Er.


"Pemain drama," jawab Ting Er dengan terpaksa.


"Oh. Apa aku seperti pemain drama? Lalu apa itu kamera?" tanya Chuan Yun lagi.


"Nanti kau tahu. Kita akan mampir ke toko ponsel nanti," kata Ting Er.


"Toko hewan buas?"


"Sudahlah lupakan. Bagaimana kalau ke toko buku dulu supaya pikiran majikan jadi lebih maju lagi mengenai mesin dan alat," Ting Er menyerah mejelaskan lagi.


Chuan Yun menggaruk belakang telinganya yang tak gatal.


"Kita juga perlu beli pakaian dalam dan pakaian luar yang banyak. Aku tidak tahu sebau apa aku sekarang," Ting Er semakin murung.


"Kamu wangi," jawab Chuan Yun spontan.


Kata-kata itu terkesan mesum bagi Ting Er hingga ia membenamkan wajahnya di bawah meja. Seketika pikirannya melayang ke kejadian kemarin malam lagi. Chuan Yun telah menodai pikiran gadis murni ini dalam semalam saja.


"Ini pesanannya ..." Tiba-tiba gadis muda itu datang lagi dengan tangan gemetaran karena tak kuasa melihat aktor tampan di depannya. Perlahan ia meletakkan tiga mangkuk mie dan tiga gelas teh itu ke meja Chuan Yun.

__ADS_1


__ADS_2