My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Kaisar Jatuh Cinta Pula


__ADS_3

"Tidak ..." Ting Er tak kuasa mendengar kesaksian-kesaksian para prajurit itu mengenai racun kuat yang mereka temukan di kamarnya.


"Chuan Yun ... kamu harus bertahan," lirihnya lagi hingga ia hampir pingsan karena kesusahan bernafas.


"Bao Bao!" Zhi Yu menepuk-nepuk pipi gadis itu.


Ting Er memaksa tubuhnya itu untuk tetap bertahan demi melihat keadaan pacarnya sekali lagi.


"Chuan Yun ..." tangis Ting Er.


"Seret dia ke pengadilan sekarang!!" suruh Fu Jia.


"Baik!!"


**_**


Ting Er berjalan dengan gontai tanpa harapan memasuki aula pengadilan besar Kerajaan Hui.


"Gadis itu datang Yang Mulia!" bisik Penasihat Kang.


Kaisar sendiri juga sedang pedih hati melihat Chuan Yun, anak kesayangannya itu sekarat sekarang. Sehingga ia termakan hasutan Fu Jia dengan lebih dalam lagi.


"Bawa dia kemari!" geram Hu Pei dengan amarah.


"Ah!!" pekik Ting Er dan Zhi Yu bersamaan saat prajurit-prajurit mendorongnya dengan kasar hingga mereka tersungkur di depan Kaisar.


"Chuan Yun ..." Ting Er masih menggumamkannya setengah tak sadar karena kekurangan oksigen.


Melihat kedua gadis di depannya juga menangis, terutama gadis berkulit gandum halus yang nyaris pingsan dan pucat itu, Hu Pei jadi berfikir dua kali.


Jika memang gadis ini mencintainya, kenapa dia meracuninya? batinnya.


Tapi sudah dua orang mengakui kedekatan mereka. Hanya saja, apa benar dia menggodanya untuk mendekati dan meracuninya? Kaisar melirik pada Ting Er.


"Siapa diantara kalian yang membuatkan sarapan untuk Putraku Chuan Yun!"


"Sa- saya! Saya!" Zhi Yu tidak mau Ting Er terbunuh. Ia langsung melindunginya dengan berbohong.


"Tidak! Itu adalah saya ..." sela Ting Er sambil memegangi kepalanya.


"Yang Mulia ... saya ... sangat ingin bertemu dengannya sekali lagi. Setidaknya sebelum dia tidak kuat lagi," pinta Ting Er dengan suara yang nyaris tak terdengar karena tak bertenaga.


Ia memegangi kaki kaisar dengan ekspresi sungguh-sungguh.


"Saya mencintainya ... dan saya tidak pernah menginginkan kematiannya," Ting Er menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menangis.

__ADS_1


Kaisar sedikit banyak percaya padanya. Ia tahu istana begitu berbahaya dan semua kemungkinan bisa saja terjadi.


Hu Pei terus mengamati gerak-gerik jujur dan sungguh-sungguh Ting Er. Ia juga mengamati tubuh tak biasa gadis modern itu.


Sangat cantik, batinnya dari dalam hati.


Hu Pei membuat kode dengan jari telunjuknya pada penjaga pribadinya. Penjaga pribadi itu langsung menunduk mendekatkan telinganya.


Setelah penjaga itu mengangguk, Hu Pei langsung angkat bicara, "Hukum mati keduanya!" perintahnya.


Ting Er tidak bergeming. Ia sangat siap. Walau ia harus berakhir seperti ini dan entah apakah ia masih bisa bertemu Chuan Yun jika dia mati dan kembali ke galaksi bima sakti.


Begitu juga Zhi Yu yang menyerahkan dirinya tanpa penolakan.


Mereka berdua diseret keluar, dan tak terlihat lagi dari ujung pintu aula pengadilan itu.


**_**


"Apakah aku sudah mati?"


Ting Er membuka matanya dan menemukan kaisar yang terus memandangi dirinya.


"Hah!" Ting Er dengan segera menyeret tubuhnya sendiri untuk mundur.


"Jangan takut. Kami tidak jadi membunuhmu," sapa Kaisar.


Ting Er menarik tubuhnya semakin mundur karena takut melihat senyum pria berusia kepala enam itu.


"Seleksi harem?" lirih Ting Er.


"Benar. Kamu senang?" Hu Pei bertanya dengan bangga. Secara logisnya setiap pelayan yang berhasil mendapat perhatian seorang kaisar dan dimasukkan ke seleksi harem melalui jalur spesial akan merasa sangat senang.


Ting Er menggeleng ketakutan.


Kaisar menggeser tempat duduknya semakin mendekat kepada Ting Er. Ting Er menoleh ke kanan dan ke kiri. Kediaman yang luas milik kaisar itu terasa semakin sempit karena posisinya saat ini terjepit di ujung kamar.


"Chuan Yun! Chuan Yun ... dia ... apa dia masih hidup?" racau Ting Er yang teringat akan pemuda itu.


"Kamu tenang saja. Puluhan tabib sedang berusaha menyembuhkannya," Hu Pei tersenyum.


"Pergi! Jangan mendekat!" teriak Ting Er.


Hu Pei membekap mulut Ting Er agar ia berhenti berteriak.


Ting Er meronta lalu menggiggit telapak tangan yang membungkamnya itu keras-keras.

__ADS_1


"Akk! Gadis sialan!" umpatnya.


Ting Er segera melompat turun dari kasur besar itu, namun dengan sangat geram Hu Pei menangkap dan mendorongnya ke kasur.


"Tidak! Ah!"


"Chuan Yun! Tolong akuuu ...!" teriak Ting Er.


"Jika kau berteriak sekali lagi, aku akan membunuh kekasihmu itu!" ancam Kaisar.


Ting Er pun terbungkam mendengar ancaman itu.


"Yang Mulia apakah hamba boleh masuk? Ada sesuatu hal serius yang perlu kita bicarakan," Perdana Menteri tiba-tiba masuk dan memanggil dari luar.


Hu Pei segera melepaskan Ting Er dan menyuruh penjaga pribadi yang selalu di sampingnya itu untuk menangkap Ting Er dan menyembunyikannya.


"Yu Nan!"


"Ya Yang Mulia!"


"Aku tidak bisa diam-diam melakukan ini. Bawa dia ke harem. Aku akan menunggunya sampai ia sah menjadi selir baruku. Masih ada seleksi disana setidaknya ada tujuh puluh wanita terbaik dari puluhan kota. Jadi pastikan dia lolos seleksi, jaga dan bantu dia selalu," perintah Hu Pei pada penjaga pribadinya yang bernama Yu Nan itu.


"Baik!"


"Mari ikut saya Nona," ajaknya dengan sopan sambil mengunci pergelangan tangan Ting Er.


Ting Er sama sekali tidak memberontak, lebih baik ia ikut saja dari pada kaisar membunuh Chuan Yun.


Aku harap kamu bisa bertahan dari racun itu. Jika sudah sembuh nanti ... jangan menangis. Aku ini masih hidup Chuan Yun, batin Ting Er sambil memejamkan matanya hingga air matanya menetes.


Sementara Ting Er dan Yu Nan pergi ke luar melalui pintu belakang, Kaisar segera mengenakan jubahnya dan merapikannya sekali lagi sebelum menemui perdana menteri yang menunggunya di luar.


**_**


Chuan Yun membuka matanya begitu Ting Er meneriakkan namanya, "Ting Er!" panggilnya dengan agak keras.


"Yang Mulia sadar!" Tabib Fang Leng tersenyum sumringah karena senang. Ia mengelap keringatnya sendiri lalu mencabut jarum-jarum akupuntur yang ia tusukkan ke tubuh Chuan Yun sebelumnya.


Si Mu sampai terjatuh ke tanah karena senang, ia menangis lalu berdiri dengan cekekal untuk memeluk Tabib Fang Leng.


"Saya sangat tahu kompetensi Tabib Leng! Terimakasih Tabib Leng!! Huu huu ..."


Ia segera berpaling kepada Tuannya, "Tuan Muda bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa ada yang terasa sakit??"


"Ting Er ..." Chuan Yun masih memanggil nama gadis itu dengan susah payah sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


"Tuan Muda, jangan banyak bicara dulu. Tuan Muda masih sangat lemah. Ting Er ada di rumah, saat ini Tuan Muda ada di kamar kesehatan sebelah gedung sekolah. Tapi jangan khawatir, ruangan ini besar seperti kediaman," kata Si Mu panjang lebar.


Ia dan Tabib Leng telah sepakat menyembunyikan berita kematian Ting Er akibat hukuman mati kerajaan.


__ADS_2