My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Chuan Yun Berbahaya Ketika Mabuk


__ADS_3

"Eh jangan berburuk sangka. Ini harganya sangat mahal, bisa digunakan untuk beli pulau. Mangkannya aku harus menyajikannya ke Kak Chuan Yun yang misterius dan mengagumkan ini," Ke Wen beralasan.


"Kepalaku pusing ..." kata Chuan Yun.


"Ah jangan khawatir Kak, itu tidak berbahaya," Zu Kang terkekeh.


"Apa aku bisa minta satu lagi?" Dalam ketidak sadarannya Chuan Yun malah menadongkan cangkirnya lagi.


Ke Wen dan Ci Sen saling bertatapan dengan mata membulat, "Barusan dia minta lagi?"


Sementara Ke Wen jadi merasa tersanjung. Ia mengangguk-angguk semangat mengiyakan sambil membuka penutup botolnya.


"Tentu saja Kak! Dihabiskan pun uang satu pulau ini, pasti akan aku berikan!" Ke Wen fans berat kakaknya itu sangatlah polos.


Setelah berhasil dituangkan, Chuan Yun langsung meneguknya dalam sekali teguk hingga Ci Sen dan Zu Kang kembali mengamatinya dengan penasaran.


"Kalian juga mau tambah?" tawar Ke Wen.


Ci Sen dan Zu Kang menolak bersamaan, "Tidak, tidak perlu."


"Kak," Ci Sen berusaha menyadarkan Chuan Yun dan mengguncang tangannya.


"Kenapa Ci Sen?" tanya Chuan Yun dengan normal seakan tidak mabuk.


"Tck kepalaku pusing sekali. Ngomong-ngomong jangan biarkan kucing garongmu itu masuk kembali ke rumahku," omelnya sambil menyangga kepalanya dan memejamkan matanya.


Zu Kang menutup mulutnya, "Wah dia bicara jujur saat ini. Dia mabuk berat. Sepertinya akan ada keseruan disini!"


"Benarkah Kak? Kucing garong yang mana? Apa Kak Ci Sen membawanya ke rumah Kakak?" Zu Kang menggali lebih lagi, sementara Ke Wen tertawa-tawa di sebelahnya.


"Astaga ... ternyata Kakak merasa terganggu. Kukira Kakak sangat menyukai Dong Bian," Ci Sen menggeleng dengan senyuman.


"Dia membawanya kemarin, kemarin, ... kemarin," Chuan Yun menegakkan jari telunjuknya sambil berusaha membuka matanya.


"Oooh begitu," Zu Kang dan Ke Wen mengangguk bersamaan.


"Dia sangat hitam dan berisik. Sedangkan aku tampan dan tidak merepotkan. Tapi Bao Bao, bagaimana bisa Bao Bao lebih mencintainya dan menciumnya?"


"Bao Bao?" tanya Ke Wen pada Ci Sen.


"Itu nama kucing perempuannya yang sudah mati," jawab Ci Sen pada Ke Wen.


"Oooh ..." Ke Wen ber 'o' ria.


"Kasihan sekali. Kenapa Bao Bao meninggal?" tanya Ke Wen pada Ci Sen lagi.

__ADS_1


"Putri Bangsawan Lin lah yang meracuni makanannya!" Tiba-tiba Chuan Yun marah dan berdiri.


"Eh eh eh tenanglah Kak Yun," Zu Kang memegangi kedua pundak Chuan Yun.


"Kau! Jika kau mendekati Bao Baoku sekali lagi dan meracuninya, aku sendirilah yang akan mencekikmu!"


Kebetulan gadis bangsawan Zi Lin itu datang untuk Chuan Yun dengan jaket rajutan di tangannya yang sempat ingin ia berikan pada Chuan Yun, dan terjadilah insiden kecil. Chuan Yun langsung mencekik leher gadis itu di depannya.


"Aaaaa!!" Zi Lin berteriak takut.


"Kakak ... Kakak! Lepaskan dia! Dia bisa mati!" Ci Sen berusaha melepaskan Zi Lin.


"Zi Lin. Jangan kira aku tidak tahu, kamu yang membunuh kucingku. Jangan harap kamu bisa menarik hatiku, jangan berharap lebih, karena kamu sudah membuat kesalahan sebesar gunung!"


Zi Lin benar-benar ketakutan karena lehernya dicengkram sekuat itu.


"Kak, Kak! Aku tahu, mungkin dia memang pelakunya! Tapi lepaskan dia, nanti jika ada yang tahu Kakak bisa dilaporkan dan dipenjara!"


Teriakan Zu Kang itu berhasil menyadarkan Chuan Yun. Chuan Yun melepaskan cengkramannya itu hingga Zi Lin terbatuk-batuk.


"Lihat saja, kalau kau muncul lagi di depanku, kau akan kubunuh seperti kau membunuh kucingku!" Chuan Yun menuding-nuding Zi Lin hingga Zi Lin berlari ketakutan sambil melempar jaket rajutan di tangannya.


"Aku yakin gadis itu akan pulang ke rumah orangtuanya dan berhenti sekolah di sini," celetuk Ke Wen.


"Tapi kenapa dia membunuhnya? Dia kejam sekali," Zu Kang ikut menggerutu.


"Jaket rajutan? Sepertinya dia membuatkan ini untuk Kak Yun?" Ci Sen mengambil kain yang terlempar ke tanah itu.


"Jangan berikan itu padanya, dia akan sangat marah. Pakai saja untuk Kakak," goda Zu Kang.


"Tidak. Ukuranku tidak seatletis ini," Ci Sen terkekeh bodoh.


"Untukmu saja," Ci Sen memberikannya pada Zu Kang.


"Benar juga ya, aku ini kan atletis seperti Kak Chuan Yun," Ia menaik-turunkan alisnya percaya diri sambil menatap Ci Sen dan Ke Wen secara bergantian.


"Kakak ini terlalu mengidolakannya," kekeh Ke Wen.


"Sudahlah ... relakan saja. Kucing itu," Sementara Ci Sen kembali berfokus pada Kakak Ketiganya sambil mengelus punggungnya.


"Yang barusan itu bagaimana? Apa Putri Lin akan mengadu pada Kaisar?" bisik Ke Wen yang merasa cemas.


"Tidak. Dia tidak akan berani. Atau kasus pembunuhan kucing itu jadi diusut dan diperbesar karenanya," komentar Ci Sen.


"Begitu ya."

__ADS_1


"Kakak Yun ini mengerikan sekali saat mabuk," Ke Wen cemberut sambil menatap Chuan Yun yang tengah tertidur dengan tenang di atas lipatan tangannya sendiri yang ia rebahkan di meja batu.


"Uh! Hump!" Chuan Yun membekap mulutnya.


"Gawat! Dia akan muntah!" Ke Wen menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu.


"Kakak, berdirilah. Kalau mau muntah kita harus cari jambangan dulu-"


Kepanikan Ke Wen dipotong oleh suara muntah Chuan Yun, "Huek!"


"Yah ya sudahlah. Untungnya ini adalah rerumputan," Ci Sen kembali pasrah.


"Kakak baik-baik saja? Kita pulang saja ya?" Ci Sen menyentuh lengan Chuan Yun hendak menggiringnya pulang.


"Ah kepalaku sangat pusing," keluh Chuan Yun.


"Aku jadi mual," keluhnya lagi.


"Kita pulang saja ya?" tawar Ci Sen untuk kedua kalinya.


Chuan Yun menggeleng keras.


"Tapi kenapaa ...?" Ci Sen dan Zu Kang bertanya bersamaan.


"Untuk apa aku pulang? Bao Bao tidak ada di rumah," jawab Chuan Yun spontan.


"Oh ayolah ... dia hanya seekor kucing!" hibur Ke Wen.


"Kakak bisa mencari kucing lagi di pasar. Jangan terlalu bersedih begitu," timpal Zu Kang.


"Tidak mau! Hanya Bao Bao saja yang mau mengajakku bicara dan paling banyak mengeong. Dia sangat manja dan merepotkan. Tapi aku senang ... huhu,"


"Kalau begini, aku bisa ikutan menangis," Ci Sen menutup mulutnya dan terisak.


Kedua saudara lainnya yang tidak pernah memelihara kucing itu saling bertatapan dengan aneh. "Kenapa mereka?"


"Eh kalian jangan menangis keras-keras! Ibu akan lewat!" bisik Zu Kang.


"Tapi kenapa ibu berjalan kemari? Apa Putri Zi Lin melaporkan Kak Yun kepadanya??" heboh Ke Wen.


"Ibu kemari?" Chuan Yun langsung berhenti menangis, ia beranjak dari tempatnya dan berjalan cepat ke arah permaisuri.


"Eh Kakak! Kakak!!" panik Ke Wen.


"Oh tidak," Zu Kang dan Ci Sen mati kutu.

__ADS_1


"Ibu! Dimana Bao Baoku? Ibu! Katakan!" Dengan tidak sadar Chuan Yun mengucapkannya beberapa kali.


__ADS_2