My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Ting Er Dikembalikan


__ADS_3

"Ibu baru saja datang untuk mengembalikannya. Kamu malah mabuk arak begini. Sebegitu cintanya dengan gadis ini?" tanya Permaisuri dengan sabar sembari menyerahkan Ting Er yang sedari tadi ia pegangi tangannya.


Sementara ketiga saudaranya itu dari kejauhan mengamati mereka.


"Apa Kakak mengacau lagi? Dia bisa mencekik pelayan ibu!" kata Ke Wen.


"Kenapa ibu memberikan pelayannya pada Kakak?" tanya Zu Kang.


"Itu ... agak aneh. Tapi aku merasa tidak asing dengan wajah pelayan itu," Ci Sen menggaruk kepalanya yang tak gatal mencoba mengingat-ingat.


"Tuan, kamu mabuk!" Ting Er dengan panik mengelus-elus punggung Chuan Yun karena ia terlihat ingin muntah lagi.


Permaisuri sampai melangkah mundur karena jijik, "Sejak kapan Chuan Yun suka arak?"


"Jiao Bao, bawa dia ke kamarnya," perintah Permaisuri.


"Baik Yang Mulia. Terimakasih sudah mengembalikanku padanya," Ting Er tersenyum haru karena merasa rindu.


Permaisuri mengangguk, "Zhi Yu terpaksa aku tahan dulu. Aku akan mengembalikannya sekitar sebulan lagi. Tidak masalah kan? Aku takut akan ada yang curiga."


"Iya Yang Mulia," Ting Er menunduk menghormati agar orang-orang di sekitarnya yang melihat mereka tidak curiga.


"Aku pergi dulu," pamit Permaisuri seraya memutar langkahnya untuk kembali ke kediamannya.


"Ei Nona Pelayan, kau harus hati-hati! Kakak mabuk berat," Ke Wen berteriak mengingatkan dari jauh.


Ting Er menoleh mendapati sumber suara, lalu mengangguk mengiyakan.


"Bao Bao ... aku sangat merindukanmu," Chuan Yun memeluk Ting Er dengan erat sampai menangis.


Ci Sen, Ke Wen, dan Zu Kang sampai melongo di seberang sana.


Aku sudah ingat! Aku ingat! Ci Sen membelalakkan matanya sambil membatin.


Dia adalah pelayan kediaman Kak Chuan Yun yang tidur di kamarnya dengan pakaian Kak Chuan Yun. Kukira dia gadis asing yang masuk ke istana, ternyata dia adalah pelayan. Lalu ... kemarin Kak Fu Jia mengatakan kalau Kak Chuan Yun mencium gadis itu. Maka ... dia memang menciumnya, batin Ci Sen.

__ADS_1


"Kakak sepertinya banyak pikiran? Ayo kita ke sana sebelum terjadi yang tidak-tidak," ajak Ke Wen dengan sangat takut karena ia lah yang membawa arak seribu tahun itu.


"Ke Wen, aku tidak ikut-ikut. Bisa-bisa ini jadi masalah lagi. Karena kemarin Kak Fu Jia baru saja menyebar rumor mengenai pelayan ibu dengan kakak," Zu Kang mengangkat tangannya tak mau ikut campur.


Mengetahui Kakak mencintai pelayan itu, Kak Fu Jia pun menculiknya. Tapi apa gunanya? Untuk melemahkan Kakak? Mengancam Kakak? batin Ci Sen yang masih banyak bicara dari dalam hati.


"Tuan, disini banyak orang. Adik-adikmu ada di sebrang sana semua. Kita tidak bisa berpelukan disini. Ayo kita pulang dulu ke kediaman?" ajak Ting Er dengan panik. Ia terus menoleh ke arah sekumpulan adik bangsawan itu dengan cemas.


"Tidak ... Bao Bao. Kau tidak merindukanku?" protes Chuan Yun dengan susah payah.


"Bukan begitu. Ah bagaimana cara menyadarkan orang mabuk ini," Ting Er cemberut.


Ke Wen yang berani bertanggung jawab itu akhirnya melangkah mendekat ke arah Ting Er.


"Nona, bagaimana kalau kita antarkan kakak segera ke kediamannya? Dia sudah membuat banyak kekacauan tadi," tawarnya takut-takut.


"Ah iya, tolong ya. Dia tidak mau melepaskanku begini, aku takut sekali," kata Ting Er beralasan sambil berusaha membuka pelukan maut Chuan Yun.


"Ah iya-iya," Ke Wen segera membantu Ting Er dengan melepas paksa pelukan eratnya itu lalu menggendong kakaknya dengan berjongkok di depannya.


"Siapa nama gadis itu? Bao Bao?" heran Ke Wen.


"Hui Jiao Bao," tiba-tiba Chuan Yun tenang dan tersenyum. Itu membuat Ke Wen jadi lebih leluasa menggendong kakaknya.


"Ah karena namanya mirip, Kakak jadi salah sangka. Apa warna kucing bernama Bao Bao itu? Jika melihat kakak sesedih ini terus, aku juga jadi sedih. Aku akan mencarikan yang sangat mirip dengannya, bagaimana?" tawar Ke Wen di sela perjalanannya.


"Tidak. Tidak ada yang sama dengannya. Tidak perlu," marah Chuan Yun.


Sementara Ting Er berlari kencang menyusul keduanya setelah selesai menyiapkan alasan.


"Sebenarnya tadi itu ... Permaisuri melihat Yang Mulia Chuan Yun mabuk. Jadi saya diperintahkan untuk membantunya pulang," kata Ting Er.


Ke Wen menoleh. "Benarkah? Yasudah ikut kami."


Ting Er mengangguk senang lalu berjalan cepat menyamai langkah mereka.

__ADS_1


"Dia sangat terobsesi dengan kucingnya yang bernama Bao Bao. Kebetulan nama Nona Pelayan adalah Jiao Bao. Jadi dia salah sangka begini saat mabuk," terang Ke Wen yang bermaksud untuk meredakan ketakutan pelayan kecil itu.


"Begitu ya," Ting Er berpura-pura takut.


Akhirnya mereka sampai juga di kediaman Chuan Yun.


Tiba-tiba Si Mu juga menyusul dari belakang dengan nafas ngos-ngosan.


"Ah bagaimana bisa mabuk. Aku terlalu sibuk sendiri sampai melupakan Tuanku. Kemari, biar hamba yang membawanya Yang Mulia," kata Si Mu kepada Ke Wen.


Ke Wen pun mengangguk dan memindahkan gendongannya. Untungnya Chuan Yun sudah terlelap dengan kepala pusingnya dan tidak protes.


"Aku pergi dulu," Ke Wen buru-buru pamit agar dirinya tak terkena masalah lanjutan.


"Baik. Hati-hati Yang Mulia," sahut Si Mu.


Kemudian ia segera masuk ke kamar tuannya dan membaringkan Chuan Yun di kasurnya, diikuti juga dengan Ting Er.


"Bao Bao, kamu sudah kembali? Apa ada yang curiga?" tanya Si Mu sembari menyelimuti tubuh majikannya.


Ting Er menggeleng, "Semua aman."


"Baguslah."


"Tapi apa dia sebegitu rindunya padaku sampai minum arak?" tanya Ting Er dengan percaya diri.


"Tidak. Tadinya mereka bertiga berada di depan kelas bangsawan. Pangeran ke Sembilan bernama Ke Wen yang tadi itulah yang membawakan arak. Eh tidak tahunya dia malah meracau tentangmu," tutur Si Mu dengan senyuman meledek karena Ting Er begitu pede di depannya.


"Oh begitu," Ting Er memanyunkan bibirnya.


"Akhirnya Nona Bao ini kembali lagi. Bagaimana ceritanya waktu itu? Apa mereka memukul kalian?" tanya Si Mu.


"Waktu itu kami sedang beli manik-manik gelang dan kalung. Setelah pergi berjalan sekitar sepuluh langkah, ada orang yang menarik tangan kami dan menyekap kami di jalanan sepi. Zhi Yu tidak menghirup kain sekapan berbius itu, tapi bodohnya aku menghirupnya," cerita Ting Er.


"Begitu sampai disana aku tidak ingat apa-apa, karena saat bangun aku sudah di kamarnya Yang Mulia Permaisuri."

__ADS_1


"Emmm ... begitu. Tahukah kamu? Karena kecerobohan kalian, Tuan Muda sampai menangis. Kalau tidak percaya, tanya saja pada pelayan-pelayan wanita," kata Si Mu sambil mengangkat alisnya.


__ADS_2