
"Aku punya rencana. Tapi aku tidak punya pasukan," Chuan Yun memukul mejanya karena kesal.
"Jangan khawatir!" Jing Ru menyela. Ia langsung melesat ke samping Chuan Yun.
"Aku pasti bisa membalas jasamu," yakin Jing Ru.
"Mei Quan!"
"Ya Nona!"
"Kirimkan surat untuk Gui Hui Shan," kata Jing Ru.
"Eh ... apa Nona jadi membiarkannya memberontak?" Mei Quan jadi cemas.
"Memangnya Gui Hui Shan itu punya apa?" heran Chuan Yun.
"Dia memang prajurit paling handal yang awalnya ditugasi ayah untuk menjagaku setelah aku nyaris dibunuh beberapa tahun lalu. Ia adalah anak seorang panglima besar di kerajaanku. Itulah mengapa ia menawarkan padaku, bagaimana kalau dia memberontak saja untuk menikahihu. Tapi ... mana mungkin aku membiarkannya membunuh ayahku? Ayahku saja tidak tega membunuhnya dan hanya memenjarakannya untuk mengancamku," cerita Jing Ru panjang lebar.
"Lalu jika dia kemari untuk membantuku memberontak, bukannya ayahmu akan benar-benar membunuhnya?" tanya Chuan Yun.
"Jika kekasihku menang ketika membantu dalam pemberontakanmu. Apakah ayah berani padanya? Dia bisa saja kabur dan takut kalau sampai Hui Shan juga membunuhnya dan merebut tahtanya," jawab Jing Ru.
"Tapi setelah kamu berhasil nanti. Aku akan langsung pergi bersama Hui Shan entah kemana. Aku tidak kembali ke kerajaan ayah. Lagi pula disana ada kakak laki-lakiku yang akan menggantikannya jadi kaisar. Jadi jangan khawatir," imbuh Jing Ru.
Chuan Yun mengangguk mengerti.
"Hui Shan pasti sudah dilepaskan dari penjara sejak aku menikahimu. Jadi, kamu ingin melaksanakan pemberontakan ini kapan?" tanya Jing Ru.
"Besok?" Chuan Yun bertanya dengan ragu. Ia sangat mengkhawatirkan Ting Er. Kalau-kalau ayahnya itu memaksanya tidur dengannya lagi besok.
"Itu tidak mungkin Yang Mulia. Setidaknya tiga hari sampai empat hari lagi. Karena Hui Shan perlu menyiapkan pasukan dan perlu waktu berjalan sampai kemari," Jing Er terkekeh.
"Jangan khawatir. Tabib Qing dan beberapa tabib jadi-jadian dari mata-mataku bisa berkeliaran bebas di istana harem. Mereka akan melindungi Nona Ting Er," Jing Ru menenangkan.
"Baiklah aku mengerti," Chuan Yun menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
__ADS_1
"Tapi katakan pada Hui Shanmu itu. Jangan menyentuh ibuku atau saudara-saudaraku. Dia hanya boleh menyandranya sementara. Kecuali ada yang berpihak pada ayah," pesan Chuan Yun.
"Mei Quan. Buat suratnya seperti yang dikatakan Yang Mulia sekarang," perintah Jing Ru.
"Lalu peta penyerangan ini. Berikan juga padanya," Chuan Yun menyerahkan selembar kertas berisi strategi ringkasnya.
"Baik Yang Mulia," Mei Quan menerima kertas itu.
"Pakai saja burung merpati supaya cepat," kata Jing Ru.
"Baik Nona."
**_**
"Tuan! Lihat kekasihmu memberimu surat!"
Pria yang diajak bicara itu hanya tersenyum tak percaya, ia tetap tak bergerak dari kasurnya.
"Bukannya Tuan Putri sudah janji akan membiarkanmu membawanya kabur dari Kerajaan Hui?"
"Oh dia juga memberikan peta penyerangan. Apa ini?"
Mendengar pelayan setianya di kediaman anak panglima itu, Hui Shan langsung meloncat dari kasurnya.
"Peta penyerangan?!" hebohnya.
"Sssttt sssttt ...! Jangan keras-keras Tuan!" tegur pelayan itu.
Gui Hui Shan langsung mengamati dan menganalisis ide penyerangan yang tak biasa itu. Matanya berbinar dan bola matanya terus bergerak dari kiri ke kanan.
"Ini. Siapa pembuatnya?! Dia gila!" heboh Hui Shan lagi.
"Tuan sudah saya bilang. Jangan keras-keras," pelayan itu memperingatinya lagi dengan cemas.
"Sangat hebat dan tak pernah terfikir. Dia bahkan tahu jalan-jalan rahasia Kerajaan Hui," Hui Shan tak habis pikir lagi.
__ADS_1
"Apa maksud Putri mengirimiku ini? Dia ingin aku membunuh suaminya dan menduduki tahtanya?" heran Hui Shan.
Setelah puas menganalisis rencana dan peta itu, Hui Shan segera menyahut surat yang satu lagi.
[] Hui Shan bagaimana kabarmu? Kau tidak dicambuk atau dibunuh ayah kan? Kau pasti sudah dibebaskan ayah tapi tidak diberi pekerjaan lagi ya? Aku punya misi besar untukmu. Dan pertama-tama jangan khawatir. Aku dan suamiku bahkan belum pernah bersentuhan sedikitpun. Kami sama-sama memiliki orang yang kami cintai sendiri. Jadi kami akan bekerja sama untuk kebahagiaan masing-masing.
Dia sudah banyak membantuku. Jadi bisakah kamu membantunya untukku? Gadis yang ia cintai itu hendak diperistri ayahnya sendiri. Jadi dia berniat memberontak pada kaisar dan merebut kembali kekasihnya. Aku sudah mengirimkan peta dan strategi perang yang ia buat sendiri selama bertahun-tahun. Itu sangat penting dan berharga. Jadi jangan sampai hilang atau dipegang orang lain. Kami membutuhkan pasukan hebatmu. Setelah berhasil membantunya naik tahta, kita akan bertemu. Setelah itu maukah kamu kabur bersamaku, menyamar, menikah, dan menjadi rakyat biasa?
Oh ya, ingat ini. Jangan membunuh permaisuri dan pangeran-pangeran lain. Kecuali kalau mereka berpihak pada kaisar dalam hal mengambil Nona bernama Ting Er dengan nama samaran Huang Lian menjadi istrinya.
Kami akan menunggu balasanmu untuk memastikannya. Tiga hari lagi kuharap kita sudah bisa bertemu.
Jing Ru []
"Wu Yan, siapkan pasukan secara diam-diam," perintah Hui Shan.
Wu Yan atau pelayan laki-laki itu sendiri sebenarnya sudah ikut membaca pesannya dan ia bergidik takut.
"Tuan. Jika Tuan pergi membantu Putri. Lalu pasukan itu memberontak pada besan Kaisar Hwang. Apa Kaisar Hwang tidak marah karena kita melakukan serangan tanpa seijinnya? Sudah begitu nanti tuan kabur bersama putri. Bagaimana nasib kami yang ada di sini? Bagaimana jika ayah Tuan Muda dibunuh oleh Kaisar Hwang nanti?"
"Jangan gegabah Tuan Muda. Setelah itu. Jika tahu putrinya kabur dan tahu kalau kita sedang membantu Pangeran Chuan Yun memberontak. Apa tidak akan terjadi perang antara Kerajaan Hwang dan Kerajaan Hui?"
Semua yang pelayannya ucapkan iru benar adanya. Ia hampir tak memikirkan sekitarnya demi kabur bersama gadis yang ia cintai itu.
"Tapi ... jika kami tidak kabur. Sebaliknya Kaisar Hwang akan kabur karena merasa takut kami juga akan memberontak kepadanya," kata Hui Shan.
"Waktu itu Putri tidak ingin aku membunuh ayahnya jadi dia tetap pergi ke Kerajaan Hui untuk menikah."
"Maka yang harus kulakukan adalah ... apa?" Suaranya terdengar putus asa sekarang.
"Katakan pada Putri. Kami tidak bisa membantunya. Nyawa ratusan orang disini akan lenyap jika pemimpin pemberontakannya malah kabur," kata Wu Yan.
"Maka yang benar adalah ... Pangeran Chuan Yun sendiri juga harus berkorban jika ingin bersama dengan kekasihnya," kata Hui Shan tiba-tiba.
"Aku akan pergi sendiri kesana untuk membawa kabur Jing Ru. Sementara Pangeran Chuan Yun harus pergi sendiri ke harem untuk membawa kabur gadisnya. Lalu kami berempat akan bertahan hidup bersama sebagai rakyat. Bukankah itu jalan tengahnya? Kedua kaisar itu akan tetap hidup dan bekerjasama pula," Hui Shan yang putus asa membuat keputusan demikian.
__ADS_1