
Tak lama setelah kepergian Penjaga Pribadi Kaisar itu, Tabib cantik berumur kepala tiga itu berlari memasuki ruang tahta Kaisar dan berlutut memberi hormat.
"Hamba memberi hormat kepada Yang Mulia Kaisar," katanya sebelum ia berdiri kembali.
"Tidak usah terlalu formal. Cepat cek tekanan darahku ini. Tck, aku merasa sangat tidak enak badan," Kaisar menyodorkan tangannya kemudian membuat akting sakit yang bagus.
"Yang Mulia sebaiknya kurangi makanan yang terbuat dari daging merah. Istirahat minimal delapan jam sehari dan olahraga. Jangan terlalu berat berfikir ..." kata Tabib Qing Rou seraya mulai merasa-rasakan nadinya.
"Aku terlalu banyak memikirkanmu ..." goda Kaisar Hu Pei sambil menatap mata tabib itu.
"Ngomong-ngomong ..." Ia menarik tangannya dari periksaan Qing hingga Qing Rou sedikit kaget.
"Kemana saja kamu? Bukannya sudah kubilang kalau mulai sekarang kamu jadi tabib istana utama untukku?"
"Hamba ..." Tabib Qing menunduk bingung menjelaskannya.
"Ah hamba baru saja dipanggil oleh Penjaga Pribadi Pangeran Ketiga karena Tabib Fang Leng tidak ada saat dicari kemanapun. Jadi hamba harus segera kesana karena sepertinya sangat darurat," jawab Tabib Qing dengan jujur.
Ekspresi genit pria tua alias kaisar itu langsung berubah menjadi serius. Ia menegakkan tubuhnya, "Apa Pangeran Ketiga sakit? Tidak salah lagi, pantas saja dia susah sekali dipanggil kemari."
"Ah sebenarnya-" Penjelasan Tabib Qing dipotong dengan cepat.
"Apakah sakitnya parah? Apa yang dia lakukan? Katakan padaku," desak Kaisar seakan ia begitu menyayangi dan menghawatirkan putra kebanggaannya. Harapan satu-satunya setelah dua anak pertama yang banyak membuat kekacauan di istana dan memalukan dirinya itu.
"Bukan Yang Mulia. Yang sakit bukan Pangeran Ketiga melainkan pelayan wanitanya," jawab Tabib Qing dengan lugas.
"Apa?" Hu Pei mengangkat satu alisnya.
"Benar Yang Mulia," Qing mengangguk meyakinkannya sekali lagi.
Kebetulan Penasihat Kang masih ada disana dan ia tersenyum menang. Ia segera mengambil kesempatan itu, "Apa yang hamba katakan sepertinya benar. Dan apa yang dilihat Pangeran Pertama Fu Jia itu tidak salah Yang Mulia."
"Tidak. Tidak mungkin. Diamlah dulu Penasihat Kang," kesal Kaisar yang disela pembicaraannya.
__ADS_1
Penasihat Kang tetap tersenyum wala ia harus menahan bicaranya dulu sementara ini.
"Pelayan itu pasti sakit parah sampai Pelayan Si Mu penjaga anakku itu mmanggilmu. Apa yang terjadi?" tanya Kaisar demi menggali kebenaran yang dipertanyakan Penasihat Kang.
"Sebenarnya Yang Mulia. Baru kali ini saya melihat Pangeran Ketiga yang begitu dingin dan pendiam itu menangis-"
"Menangis?!" potong Hu Pei keras.
Penasihat Kang tersenyum lagi. Sedikit lagi, batinnya.
"Apa dia penyebab dari kecelakaan pelayannya? Ada apa Tabib Qing?" tanya Kaisar bertubi lagi.
"Sepertinya juga bukan demikian Yang Mulia. Pangeran Ketiga sepertinya mencintai pelayan itu," Tabib Qing sempat tersenyum mengingat yang ia lihat tadi.
"Pelayan itu pingsan karena kurang darah akibat nyeri menstruasi. Pangeran Ketiga terus menangis dan mengira gadis itu akan tiada karena pucat dan berdarah di pakaian belakangnya," cerita Tabib Qing bagai seorang kakak perempuan yang bahagia adiknya bisa jatuh cinta.
"Seumur-umur bekerja di istana ini saya belum pernah melihat emosi Pangeran Ketiga yang bisa disalurkan. Seperti menangis atau tertawa. Yang Mulia, bukannya itu hal baik?" Tabib Qing menatap Kaisar meminta pendapat.
"Yang Mulia lihat itu? Kesaksian Pangeran Pertama Fu Jia juga pasti benar. Pelayan itulah yang Pangeran Ketiga sempat cium di depan kediaman Kaisar. Itu jugalah alasan mengapa Pangeran Ketiga tidak mau menemui Anda untuk membicarakan perjodohannya dengan putri Kerajaan Hwang," Penasihat Kang kembali mengambil kesempatan itu dan berbicara banyak sementara Kaisar Hu Pei masih terdiam dengan mata nanar tak percaya.
"Itu bagus. Itu artinya saat ditemukan dengan Putri Hwang pun suatu saat ia akan bisa mencintainya. Dia sudah punya hati detik ini," Kaisar Hu Pei tersenyum haru.
"Kalau begitu ... maafkan ayah, Chuan Yun," Kaisar mengusap air mata bahagianya.
"Ayah harus menyingkirkan gadis itu untuk membuka hatimu kepada Putri Hwang,' Ia mengangguk menyetujui rencananya sendiri.
"Itu mana mungkin Yang Mulia? Itu bisa membunuh Pangeran Ketiga," cegah Tabib Qing.
"Siapa kamu ikut-ikut mengatur tindakan suami Nonaku kepada anaknya?" Pelayan wanita di belakangnya yang berpihak pada Selir Gua Xin menyolot karena tak tahan.
Tabib Qing menunduk takut.
"Jangan berani membentak orangku Pelayan!" marah balik Kaisar yang membela Tabib Qing tercintanya.
__ADS_1
Giliran pelayan itu yang menunduk takut.
"Tapi sungguh Yang Mulia, Pangeran Ketiga menangis seperti kehilangan semuanya saat gadis itu sakit. Apa lagi jika Yang Mulia menyingkirkannya," lanjut Tabib Qing yang berperasaan.
Mengapa aku mencritakannya ... aku tidak tahu kalau akan begini, batin Tabib Qing dengan rasa penyesalan yang dalam.
"Pindahkan pelayan itu ke istana utama supaya Chuan Yun tidak bisa memintanya kembali," Hu Pei tak menghiraukan protesan Tabib Qing. Ia tetap memerintahkan keinginannya pada orangnya.
"Tunggu dulu Yang Mulia. Jika Pangeran Ketiga menyadarinya, dia akan marah dan protes kepada Yang Mulia. Sebaiknya kuta lancarkan sebuah taktik dulu," ucapan Penasihat Kang membuat suruhan Kaisar menghentikan langkahnya tak jadi pergi.
Kaisar tampak memikirkan usulan Kang.
"Taktik yang bagaimana?" tanya Kaisar.
"Sebenarnya Pangeran Pertama sempat bicara pada saya suatu fakta yang belum sempat ia sampaikan di pengadilan kemarin ..." Penasihat Kang membuang muka lalu tersenyum licik.
**_**
"Mulai sekarang jangan bekerja lagi. Bukannya perutmu masih sakit?"
Pagi-pagi buta ternyata Ting Er sudah bangun untuk mengerjakan pekerjaan pelayan. Chuan Yun yang sedang bersiap pergi ke sekolah bangsawan lagi itu langsung mengomeli Ting Er.
"Tidak usah khawatir Majikan. Ting Er juga suka bersih-bersih. Lagi pula kalau tidak melakukan apa-apa di rumah seharian ini akan membosankan," Ting Er tersenyum lebar menghargai kekhawatiran Chuan Yun.
Chuan Yun hanya mengerinyit kesal karena dibantah.
"Sebenarnya aku jadi takut pergi ke sekolah," Chuan Yun cemberut.
"Kenapa? Gurumu galak?" tebak Ting Er.
"Bukan. Kamu sering menghilang setiap aku tinggal pergi sesaat saja," kata Chuan Yun.
"Seperti ada takdir yang selalu ingin memisahkan setelah mempertemukan. Waktu itu saat aku pulang, kamu hilang ke rumah permaisuri untuk memijatnya. Lalu saat aku pergi ke pasar, ditinggal sebentar sudah diculik orang. Lalu kemarin diusir sebentar sudah sakit seperti ingin pergi meninggalkanku lagi," keluh Chuan Yun panjang lebar.
__ADS_1
Ting Er tertawa melihat muka masam pemuda yang menurutnya tampan itu.
"Karena itu jangan usir-usir aku lagi. Terus jangan pergi," Ting Er yang sedang berjongkok untuk bersih-bersih itu meninggalkan kain lapnya sebentar lalu memeluk kaki Chuan Yun.