
"Aku ... memang bukan Bao Bao!" teriak Ting Er sambil menangis. Begitu juga Chuan Yun dari dalam sana.
"Tapi aku benar-benar mencintaimu setelah ... setelah apa yang kau lakukan padaku selama ini. Menyayangiku, memperhatikanku, mengelus puncak kepalaku, dan memelukku semalaman!"
"Aku menyukaimu karena kamu sangat baik dan-"
"Tapi aku memperlakukanmu seperti itu karena Bao Bao. Selain itu tidak ada! Aku tidak menyukaimu! Pergi dari sini!" bentak Chuan Yun lagi.
Si Mu yang baru saja datang dan tidak tahu apa-apa itu berlari masuk setelah mendengar suara tuannya yang berteriak seperti itu.
"Bao Bao, ada apa dengannya? Apa dia masih mabuk? Dia memarahimu?" tanya Si Mu dengan panik saat melihat banyak air mata di pipi Ting Er.
Ting Er menggeleng.
"Nona itu bukan Bao Bao Si Mu! Cepat usir dia!" perintah Chuan Yun dari dalam sana.
"Tapi Tuan ..."
"Dia benar Si Mu. Hari ini aku akan tidur di gudang bersama Momo. Lalu besok aku akan berkemas dan pergi entah ke mana," Ting Er menyerah lalu berjalan masuk ke lorong gudang.
"Lebih baik membiarkannya tenang dulu, kalau sudah tenang pasti ingat lagi dengan Nona. Ya? Si Mu tahu Tuan hanya mencintai kucing itu, tetapi mencintai manusia itu pastinya lebih sehat. Si Mu tahu betul Tuan sangat mencintai Nona!" Si Mu berusaha menghibur agar Ting Er tidak jadi pergi meninggalkan Chuan Yun.
"Si Mu lihat sendiri kemarin! Tuan sangat menghawatirkan Nona sampai menangis. Apa jadinya kalau Nona benar-benar pergi?"
Tapi cegahan Si Mu itu sama sekali tidak dihiraukan oleh Ting Er. Gadis itu tetap pergi dan menghilang dari balik pertigaan lorong gudang makanan.
"Tuan!" Si Mu segera masuk ke kamar Chuan Yun dan berusaha menghiburnya.
"Tuan berhentilah menangis ..." Si Mu jadi ikut menangis melihat keadaan Tuannya itu.
"Si Mu ... Dia bukan Bao Bao huuhuu," katanya sambil memeluk pelayan pribadi laki-laki satu-satunya yang sangat ia percayai dalam hidup ini selain Bao Bao kucingnya.
Si Mu tidak bisa banyak komplain. Ia hanya mampu mengelus punggung Tuannya sampai tenang kali ini.
Dia terus mengelusnya sampai Chuan Yjn tertidur sendiri karena lelah menangis.
Sementara Ting Er, ia sendiri juga sedang menangis. Hanya Momo satu-satunya makhluk yang ikut merasakan kesedihannya. Momo juga terus menghiburnya dengan cara ikut tidur di sampingnya dan memasang wajah melas kasihan.
**_**
"Hari ini hari minggu. Tidak ada sekolah Tuan. Kenapa Anda bangun pagi?" tanya Si Mu sambil membantu Tuannya itu merapikan pakaiannya.
"Selamat pagi Yang Mulia, ini sarapannya," Seorang pelayan wanita masuk ke kamar Chuan Yun lalu meletakkan nampan makanannya di atas meja.
"Dimana pelayan baru itu? Suruh penipu itu membuatkan bubur untukku," perintah Chuan Yun tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin tempat ia berkaca sejak tadi.
"Baik Tuan ..." Pelayan wanita itu menunduk mengiyakan.
"Penipu?" gumam Si Mu.
__ADS_1
"Tuan, dia pasti bukan maksud menipu. Dia pasti sedang melakukan percobaan bunuh diri dengan menenggelamlan dirinya di danau," Si Mu berusaha membela Ting Er.
Chuan Yun tidak terlalu menanggapinya. Ia berbalik dari cermin itu, lalu berjalan ke arah mejanya untuk makan.
"Tuan?" lirih Si Mu.
"Kemarin, kenapa ayah memanggilmu? Apa Kak Fu Jia melakukan hal buruk lagi?"
"Tidak. Yang Mulia Kaisar sebenarnya kembali menyuruh hamba memanggil Tuan untuk menemuinya. Dia ingin membicarakan soal Putri Hwang lagi," lapor Si Mu.
"Kaisar juga bertanya mengapa hari itu Tuan tidak mau datang," lanjut Si Mu.
"Nanti aku akan datang," jawab Chuan Yun singkat sambil melahap makanannya lagi dengan sumpit.
"Apa?" heran Si Mu.
"Aku sadar. Aku sangat bodoh. Menangisi seekor kucing dan mencintai manusia penipu. Aku akan berusaha hidup normal mulai pagi ini," putus Chuan Yun.
"A- apa?" Si Mu belum ngeh juga. Ia menunduk kebingungan.
"Tuan ... akan menerima perjodohan itu?" tanyanya takut-takut.
"Ya."
Pyar!
Keduanya terkejut bersamaan.
"Yaampun tangan Anda terluka,"
"Aku akan membersihkan pecahan kacanya,"
"Tidak biar aku saja."
Mendengar itu sebenarnya sempat tercetak kekhawatiran di wajah Chuan Yun.
"Dia bodoh sekali seperti biasanya," gumam Chuan Yun.
"Bukan karena dia adalah hewan kucing, tapi dia memanglah manusia bodoh," Chuan Yun tersenyum meremehkan.
"A-aku akan membuat buburnya lagi."
"Nona Bao, istirahat saja. Wajah Anda terlihat pucat,"
Chuan Yun kembali terganggu dengan suara-suara itu. Sebenarnya ia tak bisa berbohong. Ia sangat mencemaskan gadis ceroboh itu.
Untuk menutupi semuanya, ia menyahut buku pelajaran di mejanya dan membaca.
Si Mu yang melihat itu tersenyum tipis mengerti.
__ADS_1
Tak lama kemudian Ting Er datang dengan semangkuk bubur hangat di tangannya. Ia meletakkannya dengan perlahan di meja Chuan Yun.
Chuan Yun melirik sekilas wajah Ting Er. Dia memang pucat, batinnya.
Kemudian ia melirik ke arah telapak tangan Ting Er yang dibalut dengan kain karena terkena pecahan mangkuk saat di dapur tadi.
"Ada apa semalam? Tidak tidur sampai pucat?" tanya Chuan Yun dengan dingin.
"Aku terus memikirkan Tuan Muda," Ting Er menjawab dengan singkat pula.
Lalu memejamkan matanya sejenak karena merasa pusing. Tapi belum sempat Chuan Yun membuka mulutnya karena cemas, Ting Er kembali membuka matanya memaksakan diri dan pergi dari sana.
"Si Mu."
"Ya Tuan!"
"Awasi gadis itu. Kenapa dia terlihat sangat sakit hari ini. Jangan-jangan terjadi sesuatu," perintah Chuan Yun.
"Ternyata Tuan sangat menghawatirkannya," Si Mu menggoda Chuan Yun.
"Ting Er! Lebih baik duduklah saja di sana. Jangan bekerja lagi!" marah temannya perempuan.
"Mukamu sudah seperti zombie. Apa kau sakit? Atau jangan-jangan kau minum racun ya?"
Chuan Yun tak bisa membaca bukunya dengan tenang. Ia menutup buku itu dengan kasar, lalu berdiri dari tempatnya hendak melihat gadis itu.
"Kau!"
Ting Er memutar badannya untuk melihat Chuan Yun yang baru saja membentaknya.
"Siapa namamu?"
"Ting Er," jawab Ting Er sambil menunduk.
Ternyata nama gadis penipu ini adalah Ting Er. Namanya cukup bagus, batin Chuan Yun.
"Ting Er. Cepat berbaring di sana, aku akan memanggil tabib khusus pelayan," katanya dengan bentakan lagi.
Ting Er tersenyum kecil menyadari Chuan Yun yang tak bisa berbohong.
"Tuan, bukannya ada saya yang bisa memanggilkannya?" cegah Si Mu.
Chuan Yun mengerjapkan matanya gugup. Ia hampir saja berlari sendirian untuk memanggilkannya.
"Cepat!" perintah Chuan Yun pada Si Mu akhirnya.
Si Mu pun berlari pergi untuk memanggil tabib.
Chuan Yun pun membalik tubuhnya untuk berjalan kembali ke kamarnya, tapi tanpa sengaja ia melihat rok belakang Ting Er yang dibasahi darah.
__ADS_1
"Ting Er! Itu darah!" Chuan Yun menunjuknya dari belakang.
Ting Er nyaris tak mendengarnya karena sibuk memegangi perutnya yang terasa sakit.