My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Kehidupan Neraka Istana Harem


__ADS_3

"Begitu kah?" kekeh Ting Er.


Duan Wei mengangguk, "Kamu ini awalnya pelayan ya? Bagaimana bisa bertemu dengan Yang Mulia?"


Pertanyaan Duan Wei teralihkan dari pikiran Ting Er begitu mendengar seseorang membicarakan Chuan Yun.


"Kamu dengar tidak? Pangeran Ketiga diracuni oleh pelayan yang menggodai dan berusaha dekat dengannya? Menurutmu dia itu apa? Mata-mata kerajaan lain?"


"Tidak mungkin. Ini pasti skandal perebutan tahta. Kukira Pangeran Fu Jia itu pasti pembunuhnya. Sedangkan pelayan itu suruhan sekaligus korban fitnahannya."


"Kamu jenius. Tapi bagaimana Yang Mulia Kaisar sebodoh itu? Dia hanya menghukum mati pelayan suruhan itu dan membebaskan Pangeran Pertama," jawab temannya.


Melihat Ting Er yang terdiam sambil mengerutkan alisnya seakan sedang mendengarkan percakapan orang-orang di belakangnya, Duan Wei tersenyum.


"Kamu juga mengikuti beritanya?" tanya Duan Wei.


Ting Er menggeleng pura-pura tidak tahu sekaligus penasaran.


"Apa yang terjadi setelahnya? Bagaimana keadaan Pangeran Ketiga?" cemas Ting Er.


"Aku tidak begitu tahu. Tapi pelayan pribadiku yang sangat mengikuti berita itu bilang, Pangeran Ketiga sudah sadar. Dia hanya perlu berjuang sembuh total," belum sempat Duan Wei melanjutkan ceritanya, Ting Er sudah membekap mulutnya sendiri sambil menangis.


"Syukurlah ..." kata Ting Er.


Duan Wei cukup terkejut melihat tangis gadis itu.


Duan Wei terkekeh, "Sepertinya kamu menyukai Pangeran Ketiga ya?"


Ting Er segera mengusap air matanya dan menggeleng keras karena takut ketahuan.


Duan Wei menertawakan ekspresi takut gadis itu. "Tidak usah malu. Itu sudah biasa. Kami semua disini sebenarnya memiliki idola kami masing-masing. Bukannya kesepuluh pangeran utama itu sangat tampan?"


"Kami semua masih sangat muda. Kebanyakan dari kami masuk kemari untuk mengubah kehidupan orangtua kami dan menaikkan derajatnya. Coba dipikir, siapa yang akan mencintai kaisar berumur itu?" Duan Wei berbisik lalu tertawa tertahan. Ia begitu jujur dan polos untuk membicarakan pemikiran terdalamnya kepada Ting Er.


Ting Er mendelik tak menyangka.


"Benarkah?" tanyanya.


Duan Wei mengangguk-angguk, "Tapi sebaiknya lupakan mimpi itu. Mengaguminya jarak jauh sudah cukup. Jika kamu ketahuan, kamu bisa dihukum mati oleh kaisar."

__ADS_1


"Ayo kuantar ke kamarmu," Duan Wei menggandeng tangan Ting Er bagai sahabatnya sendiri lalu melanjutkan bicaranya.


"Beberapa teman bisa dipercaya Nona Xing. Sekali melihatmu saja aku sudah bisa tahu siapa kamu."


"Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku juga mencintai pangeran jika kamu bukan orang yang bisa dipercaya. Jangan beri tahu siapa-siapa ya?"


Ting Er segera mengangguk-anggukan kepalanya, "Siapa pangeran yang kau sukai?" tanya Ting Er.


"Ah aku langsung malu saat ingin membicarakannya," Duan Wei terlihat sangat lucu dan menggemaskan saat mengerinyit asam karena semangat.


Ting Er otomatis menertawakannya.


"Pangeran Kelima. Pangeran Ci Sen," aku Duan Wei dengan lugas.


Ting Er membulatkan matanya tertarik, "Ah Pangeran Kelima? Kenapa kamu menyukainya?"


"Selain tampan, dia sangat suka dengan kucing dan ramah. Dia hangat dan rendah hati pada semua orang. Kami secara tak sengaja pernah bertemu sekali ..." kata Duan Wei.


"Sudahlah lupakan. Itu hanya mimpi ya g tak tercapai," kekeh Duan Wei lagi.


"Kalau kamu? Bagaimana bisa suka dengan Pangeran Ketiga? Kamu pasti suka pria yang pandai dan jenius ya? Padahal dia sangat dingin dan kurang ramah," Duan Wei menyentuh bibirnya sendiri menahan tawanya.


Ting Er terkekeh, "Sebenarnya dia itu sangat cengeng dan penyayang kucing lho. Aku suka dengannya. Dia pernah menolongku sekali."


Ting Er menoleh sekilas ke arah ranjang kayu susun bertiraikan kain anti nyamuk dan beberapa gadis lain yang tak memiliki wajah ramah di sana.


Ia sempat meneguk ludahnya dengan kasar lalu dengan cepat mengubah ekspresinya dan tersenyum membalas pamitan Duan Wei.


"Ehm permisi dimana tempatku?" tanya Ting Er ragu-ragu.


"Disana," jawab salah seorang teman bertubuh bagus dan super proporsional untuk kaisar.


"Ah yang di ujung atas itu? Terimakasih," jawab Ting Er dengan takut-takut, ia menaiki tangga kayu kasur itu perlahan-lahan lalu membaringkan tubuhnya.


"Ngomong-ngomong Nona Mao Mu, hasil tes mu tadi tinggi sekali. Kenapa gadis sependek dia harus masuk istana?"


Mendengar suara gosipan yang sengaja dibesarkan suaranya itu Ting Er menghela nafas pasrah sambil menatap langit-langit kamar.


Ia tak bisa memikirkan persaingan ini lagi sekarang. Ia hanya bisa membalik tubuhnya menghadap tembok untuk menenangkan diri.

__ADS_1


Chuan Yun ... cepatlah sembuh dan jemput aku. Aku ingin kabur denganmu. Ayahmu ingin mengambilku menjadi selirnya, batin Ting Er.


Sisa-sisa ketakutan saat Kaisar Hu Pei menyentuh tubuhnya tadi membuatnya semakin lemah dan ingin menangis.


Kenapa harus seperti ini jadinya? Ting Er memejamkan matanya hingga air matanya kembali menetes.


"Heh kamu!"


Kasur susun itu bergoyang saat gadis lain di bawah ranjang Ting Er itu mengguncang kayu sanggaannya untuk membangunkan Ting Er.


Ting Er menghapus air matanya, lalu menengok ke bawah, "Ada apa?"


"Lebih baik jangan tidur di tempat kami. Kamu sangat bau," kata Jia Zi teman dekat Mao Mu.


"Bau?" heran Ting Er.


Mao Mu terkekeh meremehkan, "Jangan bodoh begitu. Maksud kami adalah, sebenarnya kasur itu adalah kasur teman kami yang gugur pada babak sebelumnya. Kamu seharusnya jangan datang dan merusak suasana di sini."


"Gadis pendek tidak layak masuk istana. Sudah begitu lihat wajahmu. Kamu kira kamu pantas untuk Yang Mulia?"


Ting Er hanya tersenyum pasrah untuk kedua kalinya.


"Apa yang lucu?" bentak Jia Zi.


"Aku memang akan pergi. Lagi pula aku juga tidak ingin satu kasur dengan kalian," Ting Er dengan berani menjawabnya. Lalu menuruni tangga kayu itu.


Mereka semua saling berpandangan karena tak terima dengan sikap berani dan jawaban sarkas Ting Er.


Saat Ting Er hendak berjalan pergi dari sana, Mao Mu mengarahkan kakinya ke depan hingga Ting Er tersandung dan terjatuh.


Ketiga gadis itu langsung menertawakan Ting Er.


Ting Er segera bangun dan berlari pergi. Ia keluar dari istana harem yang besar itu dan menangis di tempat yang sepi.


"Chuan Yun ... tolong aku. Aku tidak mau hidup bersama gadis-gadis gila itu. Apa lagi dengan kaisar," lirih Ting Er yang sesenggukan.


Ternyata Duan Wei sempat melihat Ting Er berlari keluar istana harem. Ia selaku ketua ketertiban calon selir segera turun dari kasurnya ikut menyusul Ting Er.


"Nona Xing?"

__ADS_1


"Nona Ji?" Ting Er segera menghapus air matanya.


"Apa mereka mengganggumu?" cemas Duan Wei yang sudah hafal dengan kelakuan Mao Mu beserta komplotannya.


__ADS_2