
Ting Er menoleh kaget. Ia segera bangun dari tempat tidurnya karena ketakutan.
"A- aku harus lari kemana?" pikirnya.
"Lari ke kediaman Chuan Yun dan menyuruhnya menyelamatkanku? Tidak. Bagaimana dengan ayahnya itu?"
"Bagaimana pula dengan istri barunya?".
Ting Er menggeleng sekali lagi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mulai menangis.
"Mencari pisau untuk kembali ke galaksi bima sakti?"
"Ide buruk. Pasti sakit sekali," Ting Er bergidik ngeri karena takut.
Suara langkah kaki teman-temannya mulai terdengar mendekat sekarang. Ting Er terus memutar otaknya harus berbuat apa.
"Pura-pura sakit dan tidak datang ke kamar kaisar malam ini," putus Ting Er.
Tanpa sengaja matanya tertuju pada udang bakar di nampan makanan yang terletak di atas meja kamarnya.
Ia segera menyahut sumpit, mengambil itu dan memakannya sampai habis.
"Uhuk!" Ting Er memegangi dadanya.
Ia sengaja memakannya karena ia alergi dengan udang, juga kepiting.
"Huang Lian ...! Kamu dipanggil Kaisar!" Shi Wai meneriakinya dari jauh dengan sumringah.
"Ayo cepat bersiap dan ganti pakaian," Duan Wei juga meneriakinya dari jauh.
Sementara Ting Er sedang menahan alergi udangnya yang mulai bekerja. Kepalanya terasa pusing dan pernafasannya sedikit sesak.
"Huang Lian?" heran Shi Wai saat mulai terlihat dari kejauhan kalau gadis itu tengah kesusahan sambil memegangi dadanya.
"Apa dia baik-baik saja?" panik Duan Wei dan Ai Xin.
Mereka langsung berlari menghampiri Ting Er yang kelihatan kesusahan bernafas.
"Huang Lian! Apa yang terjadi?!" Duan Wei melihat ke sekeliling kalau-kalau ada racun yang sengaja gadis itu telan.
"Apa kamu mencoba bunuh diri?!" marah Duan Wei.
"Sepertinya dia alergi udang," Shi Wai melihat ke arah nampan makanan di atas meja. Semua makanan masih utuh tetapi terlihat satu cangkang kulit udang yang sudah dimakan isinya di dalam sana.
Ai Xin menutup mulutnya sambil menarik nafas dengan kasar tanda terkejut.
"Aku tidak tahu kalau-"
__ADS_1
"Bukan salahmu Ai Xin. Dia tidak mungkin tidak tahu kalau dia alergi udang," kata Shi Wai.
"Cepat panggil tabib!" perintah Duan Wei.
"Iya," Ai Xin mengangguk lalu berlari terbirit-birit mencari tabib istana.
"Uhuk uhuk uhuk uhuk!" Ting Er merasa sangat sesak.
"Huang Lian. Padahal hari ini kaisar memanggilmu. Apa yang kamu lakukan ini?" Duan Wei menggeleng.
"Awas saja Nona Mao Mu. Sudah benari membuat Jue Luo bunuh diri. Sekarang membuat teman kami Huang Lian putus asa," Shi Wai malah semakin salah paham.
"Bukan karena itu," lirih Ting Er dengan kesusahan.
"Uhuk!" Ting Er terus terbatuk karena alergi itu membuat lendir menutupi sebagian besar saluran pernafasannya.
"Kamu tahu tidak kalau alergi itu sangat berbahaya? Kamu bisa mati!" Duan Wei terus memperingati teman bodohnya yang ada dalam pangkuannya sekarang.
"Aku menginginkan itu," lirih Ting Er.
Duan Wei menggeleng tak habis pikir, "Apa yang sebenarnya kau pikirkan ini."
"Dimana Nona Xing Huang Lian?" Rupanya Guru Shin sedang mencari-cari dirinya.
"Ei Nona. Bukannya kamu yang membuat sulaman kucing jingga ini? Berkat kucing ini kamu dipanggil oleh Kaisar. Ayo segera kesana. Jangan berpura-pura sakit. Tidak ada yang perlu dikuatirkan. Kaisar tidak akan menggiggit," nasehat Guru Keputrian yang bekerja puluhan tahun di sana.
"Tapi Guru Shin, dia benar-benar sakit," kata Duan Wei.
Melihat pelapornya adalah ketua ketertiban yang sangat ia percayai itu, Guru Shin langsung percaya.
"Apa? Tapi kenapa?" cemasnya.
"Dia alergi udang. Tetapi dia tetap memakannya," Duan Wei menunjuk ke arah kulit udang di atas nampan makan malam.
Guru Shin melihat itu lalu memukul telapak tangan kirinya sendiri seakan menyayangkan.
"Haiyaa ... kebodohan apa ini Nona Xing? Malam ini akan sia-sia saja kesempatamu. Kaisar harus memanggil gadis lain setelah ini," Guru Shin dengan kecewa meninggalkan kamar itu.
Karena mendengar suara marah Guru Shin, banyak gadis ikut menonton mereka dari luar pintu.
"Benar-benar bodoh," Mao Mu tertawa singkat bersama dengan Jia Ji temannya.
"Aku yakin setelah ini Nona yang akan dipanggil. Tapi menurut Nona, bagaimana dia bisa membuat sulaman kucing itu lagi dalam semalam?" tanya Jia Ji.
"Teman-temannya itu pasti membantunya. Sudahlah. Kita tinggal menunggu pengumuman selanjutnya. Guru Shin tidak akan melupakanku pemenang seleksi kecantikan tubuh tiga hari lalu. Dia akan segera merekomendasikanku," kata Mao Mu dengan percaya diri.
Jia Ji mengangguk dan tersenyum senang meski sebenarnya ia tidak. Karena ia memang sengaja mengikuti segala keinginan Mao Mu untuk menjadi pengikutnya. Tentu saja agar selalu aman di balik pihak yang kuat saat memasuki istana suatu saat.
__ADS_1
"Kenapa tabibnya lama sekali?" Duan Wei tampak kebingungan sambil menengok ke luar pintu sesekali.
Shi Wai terus menggosok telapak tangan Ting Er yang dingin dan berkeringat.
"Uhuk uhuk! Uhuk uhuk!"
"Bertahanlah Huang Lian!" cemas Shi Wai.
"Ah itu mereka datang," kata Duan Wei.
Shi Wai ikut melihat rupa tabib itu, lalu menengok ke arah Duan Wei. Mereka berdua saling bertatapan seakan sama-sama heran.
"Aku belum pernah melihat tabib laki-laki yang setinggi dan seberotot itu? Dia lebih cocok jadi prajurit," celetuk Shi Wai.
"Benar," Duan Wei membenarkan.
"Permisi saya akan memeriksanya," kata tabib itu.
"Silahkan," kata Duan Wei.
Tabib jadi-jadian itu membuka kopernya. Saat membukanya terlihatlah kain sulaman Ting Er di dalamnya hingga Duan Wei terkejut.
"Kau ... kau mencuri," tuding Duan Wei.
"Ah apakah ini kain sulaman gadis-gadis di sini? Saya menemukannya terbang dan jatuh di tanah saat saya sedang menyusuri jalan kemarin," kata tabib itu dengan tenang.
"Jika kalian mengenal gadis yang memiliki kain ini, bisa tolong dikembalikan?" Tabib itu menyerahkan kainnya kepada Duan Wei.
"Ah iya. Kemarin kain itu diterbangkan angin dan hilang. Terimakasih banyak. Kebetulan kain itu milik teman kami yang sakit ini," jawab Duan Wei.
Tabib itu mengangguk-angguk sambil menyimpan informasi itu serta mengamati gadis yang ia periksa nadinya.
"Tadi dia makan udang dan alergi," jelas Duan Wei sembari menunjuk ke arah kulit udang di atas meja.
Tabib itu mengangguk sekali lagi.
"Huang Lian! Bertahan ya!" Shi Wai terlihat sangat cemas melihat temannya itu masih kesusahan bernafas hingga pucat.
Namanya Nona Huang Lian ...
Untung saja penyakit umum yang mudah diobati. Tabib Ahli Racun sudah membawakan obat penetral alergi juga, batin tabib itu.
"Ah alergi. Berikan saja obat ini. Direbus dan diminum sebanyak-banyaknya sampai gejala alerginya membaik. Obat ini dapat mengobati radang dan gejala alergi," jelas Tabib itu seraya memberikan dua cepuk obat dari kopernya.
"Terimakasih Tabib," Duan Wei dan Shi Wai menunduk bersamaan.
"Sudah tugas saya," Ia cepat-cepat berdiri dan berlari pergi dari sana untuk melapor kepada Jing Ru.
__ADS_1