
"Ting Er?" Chuan Yun melihat gadis itu kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Apa barusan kamu terjatuh dan terluka??" tanyanya.
Tapi gadis itu malah terhuyung karena kesadarannya hilang berangsur-angsur. Chuan Yun dengan tanggap langsung mengulurkan tangannya untuk menahan kepala dan tubuh Ting Er agar tidak jatuh terbentur lantai.
"Ting Er! Ting Er!" Chuan Yun menepuk-nepuk pipi pucat yang berkeringat dingin itu, lalu secara spontan berlari membawa gadis itu ke kamarnya seperti biasa.
"Kemarin Tuan marah-marah. Sekarang kembali membawanya ke kamar. Mereka benar-benar membuat banyak keributan," Nenek Hwa terkekeh.
"Sudah seperti pasangan yang tidak akur ya," celetuk yang satu lagi sambil menahan tawanya.
"Tuan Chuan Yun tidak pernah bergaul dengan wanita selain Ting Er. Dia kurang paham soal kesehatan wanita. Dia masih awam dengan kosa kata menstruasi. Sebaiknya jangan beri tahu dia dan biarkan dia panik seperti itu," bisik pelayan perempuan yang lain lagi sambil tertawa jahil.
Mereka semua mengangguk menyepakati.
"Ting Er! Hiks. Ting Err ...! Buka matamu!"
Mendengar teriakan dan isakan Chuan Yun, pelayan-pelayan wanita itu tidak bisa menahan-nahan tawa mereka dari balik dapur.
"Ting Er! Ting Er!" Chuan Yun belum lelah menepuk-nepuk pipi gadis itu.
"Ting Er ...!"
Samar-samar Ting Er bisa mendengar suara Chuan Yun. Tetapi badannya benar-benar lemas dan tak bisa digerakkan.
"Kemana Si Mu bodoh itu pergi?! Kenapa lama sekali!"
"Kau, cepat susul Si Mu! Suruh ia cepat sedikit!" perintah Chuan Yun kepada penjaga kamarnya.
"Ba- baik!" Dengan terbata penjaga itu menjawab hingga berlarian pergi menyusul Si Mu.
"Kalian! Cepat katakan! Apa saat mangkuk buburnya pecah itu dia terjatuh dan melukai belakangnya?!"
"Ti- tidak Tuan. Hanya mangkuknya yang terjatuh. Sejak pagi gadis itu memang sudah terlihat pucat dan terus-terusan mengaduh sakit perut," adu teman perempuannya.
__ADS_1
"Atau jangan-jangan ada yang tak beres dengan makanannya," ia kembali memanas-manasi Chuan Yun.
"Siapa! Siapa yang membawakan makan untuknya tadi pagi!" marah Chuan Yun.
"Makanannya saja masih utuh di ujung sana," Teman yang satu lagi menunjuk ke pojok ruangan.
"Dia tidak mau makan karena sedih," lanjutnya.
"Jadi dia tidak makan sejak pagi lalu sakit perut? Atau ... apa yang dia makan semalam?! Apa dia terkena racun?!"
"Kami tidak tahu Tuan. Semalam kami hanya bisa mendengar suara tangisnya dari gudang. Kami tidak berani mendekat apa lagi memberi makan," para pelayan wanita itu memelas takut.
"Apa dia berusaha bunuh diri lagi? Apa tidak cukup hampir mati tenggelam di danau hari itu? Sekarang apa yang dia makan!" Chuan Yun terus berteriak marah sampai ia tak sadar kalau seorang tabib sedang berdiri ketakutan di belakangnya sejak tadi bersama Si Mu.
"Maaf Yang Mulia ... saya ijin memeriksa Nona ini ..." selanya takut-takut.
"Tuan, maaf saya lama. Sejak tadi saya mencari tabib Fang Leng dan tidak ketemu juga. Jadi saya meminjam tabib istana, tapi satu-satunya yang bisa diajak kemari hanya tabib perempuan bernama Tabib Qing ini," Si Mu menunduk hormat.
"Tidak masalah. Cepat periksa dia Tabib Qing," perintah Chuan Yun.
Tabib itu mendengarkan setiap ucapan Chuan Yun, dan langsung mampu menafsirkan sakitnya tanpa memeriksa lebih dalam lagi.
Tabib Qing tersenyum.
"Apa Nona ini sudah punya suami? Jika ya, dia sedang keguguran. Tapi jika dia belum, jadi dia hanya sedang mengalami kram menstruasi," jelasnya dengan senyuman yang lebih lebar untuk menenangkan Chuan Yun.
"Nona ini masih lajang tentunya!" Si Mu memotong dengan cepat.
"Ah syukurlah kalau begitu normal saja. Mungkin dia sedang stress sehingga kram menstruasinya jadi parah. Saya akan membuatkan obat terlebih dahulu," Tabib Qing berdiri dan menunduk lalu pergi melewati Chuan Yun yang masih mematung akibat bekas-bekas kepanikannya seakan gadis itu akan tiada tadi.
Ia jatuh berlutut di lantai karena masih kaget dengan diagnosa seringan itu.
"Tuan ... baik-baik saja?" cemas Si Mu.
"Syukurlah dia baik-baik saja. Tapi ... apa benar yang namanya menstruasi itu seperti itu? Darahnya tidak mungkin sebanyak itu kan?" Chuan Yun menyentuh tangan Si Mu dan bertanya serius.
__ADS_1
"Hamba punya kakak perempuan sebelum hamba menjadi penjaga di istana. Dan memang seperti itu lah Tuan. Ini normal. Kakak perempuan hamba juga pernah pingsan karena darah rendah saat menstruasi," yakin Si Mu.
"Itu tidak berbahaya ..." Si Mu mengulanginya untuk meredakan kepanikan Chuan Yun.
Laki-laki itu langsung mendesahkan nafasnya lega dan mengusap keringat di wajahnya dengan telapak tangan.
"Aku kira dia akan tiada juga seperti Bao Bao. Aku hampir kehilangan keduanya," katanya lagi dengan mata terpejam.
"Sebenarnya Tuan masih mencintainya. Hamba tahu itu," Si Mu tersenyum sambil bergumam.
"Aku mungkin bisa lebih gila lagi jika dia benar-benar pergi juga," Chuan Yun masih terlihat bergetar sampai kaki-kakinya lemas.
"Tuan bangunlah ..." Si Mu berusaha membantu majikannya untuk bangun.
"Katakan pada ayah. Aku tidak akan menikahi Putri Hwang. Aku tidak bisa ..." Chuan Yun duduk di kursinya dengan bantuan tuntunan dari Si Mu lalu menyangga kepalanya dengan kedua tangannya sambil menunduk.
"Tuan terlihat sangat terkejut dan masih panik begitu. Biar Si Mu mengambilkan air untuk Tuan ya," Si Mu hendak pergi, tapi Chuan Yun langsung menahan tangannya.
"Cepat katakan saja pada Ayah! Aku tidak mau menikah dengan orang lain selain gadis ini,"
Si Mu melebarkan matanya kaget.
"Kenapa kau menatapku begitu? Sampai kapan aku menyembunyikannya? Jika suatu saat mau menikahinya, apa aku harus lari dari istana?"
Si Mu menggeleng, "Bu- b- bukan begitu Tuan. Hanya saja ... hanya saja belum tepat waktu mengatakan kalau Tuan mencintai seorang pelayan kepada Kaisar. Jika Tuan sudah naik tahta suatu saat dan membuat istana ini mandiri tanpa bantuan negara lain, mungkin barulah Tuan bisa menikahinya tanpa masalah."
"Karena selama-"
"Aku bahkan tidak ingin tahta. Biar Kak Fu Jia yang mengambilnya sekalian dengan Putri Hwang. Agar negara tetap bisa bekerja sama dengan kerajaan itu," potong Chuan Yun.
"Tuan ... demi hamba dan rakyat Kerajaan Hui ini, tolong jangan katakan itu. Bagaimana nasib kami jika pemerintahan dipegang orang yang salah?" Si Mu memohon dengan sungguh hingga berlutut.
Chuan Yun melirik ke bawah dengan tak tega. "Si Mu, bangun."
"Baiklah jangan katakan apapun selain aku tidak mau menikahi gadis itu sekarang," putus Chuan Yun.
__ADS_1
"Terimakasih Tuan ... terimakasih ..." Si Mu sampai membungkuk beberapa kali kepada Chuan Yun sebelum pergi untuk menyampaikan.