My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Arak Berumur Ribuan Tahun


__ADS_3

Hari itu pelajaran pun dimulai seperti biasanya dan juga berakhir seperti biasanya.


"Nah, sesuai dengan teori dan puisi dari pelajaran pedang hari ini kalian harus berlatih menajamkan satu jurus saja dibanding mempelajari ribuan taktik tapi tidak menguasai satupun. Puisi-puisi kuno tadi bisa ditelaah lagi di kediaman masing-masing jika kalian penasaran bagaimana pandangan mereka mengenai pedang."


"Jika menemukan petunjuk, besok bisa dipresentasikan dan dibagikan di depan sini. Baiklah, hari ini sampai sini saja, selamat siang," Guru San meringkasi bukunya lalu bersiap pergi dari sana.


Sha Tian juga tengah meringkasi bukunya dengan kecepatan tinggi dan wajah ceria, begitu selesai merapikan bukunya, ia langsung berdiri dan menuding Chuan Yun, "Ei kita sudah janji akan bermain sampai malam lalu minum kan? Ayo kemari Kak Yun!"


Satu kelas langsung mengarahkan pandangannya ke arah Chuan Yun dan Sha Tian. Lalu mereka kembali menertawakan tingkah adik terkecil mereka.


Chuan Yun pun mau tidak mau harus menepati janjinya, toh saat pulang Bao Bao juga belum ada di kediamannya.


"Main apa kita hari ini?" tanya Chuan Yun membuka pembicaraan.


"Sesuai kesukaan kakak saja, pedang," cetus Sha Tian.


"Boleh," Chuan Yun langsung mengeluarkan pedang baru yang ia beli di pasar kemarin dari sabuknya.


"Waaah ... ukirannya kuno sekali. Kakak baru membelinya?"


Mendengar kehebohan Sha Tian, pangeran-pangeran lain pun berkumpul untuk melihat pedang milik Chuan Yun juga.


"Ini pedang biasa saja. Aku membelinya di toko bekas. Tapi sepertinya sangat bersejarah entah apa," kata Chuan Yun.


"Karena itu kakak meminjam banyak buku dari kami?" tanya Ke Wen.


"Benar."


"Begitu rupanya," yang lainnya ikut menggut-manggut mengiyakan.


"Ngomong-ngomong hari ini Kak Chuan Yun mau menatap mata kami untuk pertama kalinya," cetus Zu Kang.


"Ya ... dan kalian pertama kalinya tidak menghindariku," tanggap Chuan Yun.


"Sudahlah, ayo mulai bermain," Chuan Yun langsung berdiri dan mengayunkan pedangnya.


Adik terkecilnya langsung menangkisnya dengan handal. Kedua mata pisau itu terus beradu dan bergesekan di depan kakak-kakak yang lain.


"Kak, setelah aku menang nanti, kita lanjut menerbangkan layangan ya?" Di tengah peraduan Sha Tian malah mengajak kakaknya itu untuk main layangan.


"Kalahkan dulu aku," dengan bangga Chuan Yun tersenyum, lalu lebih serius dalam bermain.

__ADS_1


"Awalnya kukira kamu terlalu muda untuk punya kekuatan otot yang besar. Tapi ternyata kamu sangat hebat Sha Tian," puji Chuan Yun.


"Terimakasih Kak!"


"Tang! Tang!! Sriiii ...iing! Tang! Tang!!"


"Adik Tiaann! Kalahkan diaa!" sorak kakak-kakaknya. Sementara anak bangsawan istana lainnya ikut menonton agak jauh dari sana. Karena keluarga inti kerajaan lebih senang bersosialisasi sendiri dengan grupnya.


Sha Tian pun menjadi lebih giat dan percaya diri. Tetapi Chuan Yun juga tidak mau mengalah. Akhirnya diakhir pertemppuran, Sha Tian lah yang menyerah karena kelelahan.


"Aah padahal sedikit lagi!" Ci Sen cemberut.


"Kenapa kakak tidak mengalah saja? Lihat? Dia tampak sedih sekarang," ujar Gua Sha pada Chuan Yun dengan tepukan ringan di bahunya.


Begitu diberi tahu demikian, Chuan Yun jadi merasa bersalah, "Maaf Gua Sha, itu benar-benar tidak terfikir."


"Santai saja Kak, lanjutkan saja permainan layanganmu dengannya. Dia ini yang paling kecil, paling ramai, paling ceria, dan paling murni, jadi jangan terlalu bermain serius dengannya," imbuh Gua Sha.


Chuan Yun menatap adiknya itu dari jauh, ia memang terlihat tak seceria biasanya sekarang. Kemudian ia melihat sekelilingnya yang menatapnya dengan kurang tak suka sekarang.


Kehidupan sosial sangat rumit. Aku memang tidak nyaman begini, batin Chuan Yun.


Bao Bao ... tolong aku.


"Eih, jadi main layangan tidak?" Ci Sen memecah suasana hening.


"Tidak ... lain kali saja Kak. Aku ingin pulang," Sha Tian beranjak dengan wajah sedih, lalu berjalan gontai untuk pulang.


"Eh?" Ci Sen mengulurkan tangannya seakan mempertanyakan kepergiannya.


"Kami juga lelah," Wang Fu dan Gua Sha ikut-ikutan membubarkan diri.


Saat ini tinggal Ke Wen, Zu Kang, dan Ci Sen yang masih ada di sana.


"Kalian tidak pulang juga?" Chuan Yun tersenyum kecut.


"Tidak," Ci Sen tersenyum baik pada Chuan Yun seperti biasanya.


"Jangan dibawa perasaan Kak. Anak itu memang sangat dimanja. Dia tidak terlalu mahir banyak hal, tapi semua selalu mengalah untuknya hingga ia jadi semanja itu," Zu Kang berusaha menghibur Chuan Yun.


"Benar Kak, lebih baik sekarang kita lanjut saja,"

__ADS_1


"Tidak. Tapi aku memang keterlaluan. Dia masih sangat muda dan kita sudah beradu hampir lima jam, aku keterlaluan ..." Chuan Yun merasa sangat bersalah.


"Kemampuannya sudah lumayan. Kita beradu lima jam dan dia masih bisa bertahan."


"Aih tidak masalah. Bukannya ini pertama kalinya Kakak bergaul dengan kami? Kami sangat mengerti kepolosan Kakak. Kakak tidak salah," giliran Ci Sen lagi yang menghibur sambil memeluk Chuan Yun dari belakang dengan satu tangan dan menggiringnya ke tempat duduk dari bebatuan di taman.


"Ayo kita minum sendiri saja sampai malam. Ini kan sudah sore. Kamu harus tepat janji Kak Chuan Yun!" cetus Ke Wen sambil tertawa keras.


Akhirnya Chuan Yun dapat tersenyum lagi meski tipis. Ia pun mengangguk menyetujui.


Pelayan pribadi laki-laki Ke Wen berbisik sebentar, lalu memberikan sebotol arak sesuai permintaan Tuannya.


"Ah ... ini adalah arak favoritku. Sudah ribuan tahun yang lalu diproduksi, rasanya sangat mantap!" Ke Wen menunjukkan botol itu kepada Chuan Yun untuk menarik perhatiannya.


"Yaampun, kamu menyimpan yang ribuan tahun begini? Kalau ketahuan ayah pasti dihukum," Zu Kang tertawa keras.


"Eh siapa bilang hanya ayah yang bisa minum arak kualitas tinggi. Aku juga harus bisa," Ke Wen menyilangkan tangannya.


Akhirnya Chuan Yun tertawa walau pelan dan ia tutup-tutupi karena gengsi.


"Ini cobalah dulu Kakak Tertua," Ke Wen menuangkannya untuk Chuan Yun di cangkir kecil.


Lalu menuangkannya untuk Ci Sen, kakak tertua kedua yang ada di sini bersama mereka. Barulah Zu Kang, kakak ke tujuhnya.


"Bersulang!"


"Ting!"


Begitu meminumnya, mereka semua langsung mendesis terkena tekanan alkohol itu.


"Khhh ...!"


"Luar biasa!" puji Zu Kang.


"Lihat, wajah kalian hahaha!" Ke Wen menertawakan mereka semua yang mengerinyit merasakan alkohol.


"Ternyata rasanya pahit," Chuan Yun ikut mengerinyit.


"Apa? Hei ... jangan bilang Kakak tidak pernah minum arak?" Zu Kang melebarkan matanya heboh.


"Aku jarang sekali," kata Chuan Yun sambil memegangi kepalanya.

__ADS_1


"Eh eh masa dia sudah mabuk?" Zu Kang menengok ke kanan dan ke kiri meminta pendapat saudaranya begitu melihat Chuan Yun memegangi kepalanya.


"Wajahnya juga merah. Ke Wen memang telalu. Tiba-tiba membawa arak kuat yang diperam seribu tahun begitu," Ci Sen menggeleng-geleng.


__ADS_2