My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 1


__ADS_3

Aizawa hanya menatap layar ponselnya sepanjang hari. Nafas berat dan panjang tak henti-hentinya ia hembuskan. Seolah melepaskan beban berat. Liburan kali ini hanya ia habiskan untuk menatap layar ponsel. Ujian akhir sudah berlalu. Bukankah seharusnya ia memikirkan akan melanjutkan sekolah dimana? Pandangan Aizawa hanya menatap lurus. Pikirannya dipenuhi pertanyaan "kapan Kurio datang?", "apa yang sedang dilakukan?", "ingatkah Kurio dengan janjinya?" semua pertanyaan itu seolah membunuh Aizawa secara perlahan namun tetap terasa manis. Karena hanya mengingat nama Kurio saja membuat hatinya menghangat.


"Kau ingin melanjutkan kuliah dimana?"


Lamunan Aizawa berantakan ketika mendengar suara Ibu yang ternyata sudah berdiri di sisi kamar. Wajahnya mulai terlihat seakan hendak menelan Aizawa mentah-mentah. "Sudahkah kau memikirkan akan kemana setelah lulus SMA?"


Aizawa bangkit dari tidurnya kemudian merebahkan punggung ke dinding di sampingnya. Seolah tak mampu lagi menampung berat badannya. Ia hanya menatap Ibunya cukup lama. Memperhatikan setiap gerak-gerik ketika Ibunya mulai mengomel tak jelas tentang kamarnya yang selalu berantakan. Atau mengomel tentang kebiasaannya meletakkan pakaian di lantai. Ia akan merindukan semua itu.


“Ibu, aku akan kuliah di Tokyo.” Ucapnya mantap. Meskipun belum tentu juga ia akan diterima di Universitas favorit seluruh Jepang.


Seketika Ibunya menghentikan aksi mengomel dan mendekat pada Aizawa. Ia mencoba berbicara dari hati ke hati dengan anak semata wayangnya yang kini mulai beranjak dewasa. Mata bulat yang dimiliki Aizawa berasal dari Ibunya. Sedangkan rambut hitam kecokelatan berasal dari ayahnya. “Kau yakin akan kesana? Jarak Hiroshima ke Tokyo 9 jam. Kau yakin?”


Sembilan jam bukanlah waktu yang singkat. Jika hanya untuk sekedar bertemu sebentar, itu hanya akan sia-sia. Universitas di Hiroshima juga banyak yang bagus dan menjadi favorit. Tapi bukan itu tujuan Aizawa sebenarnya pindah ke Tokyo. Satu-satunya yang ingin dilakukan Aizawa saat ini adalah mencari Kurio. Maka langkah yang harus ia ambil adalah pergi ke Tokyo. Kota tempat Kurio berada.


Apa yang harus dilakukan jika menyusul Kurio ke Tokyo? Seperti apa Tokyo itu? Harus mulai mencari darimana jika sampai disana? bagaimana jika tersesat?


Aizawa meraih tangan Ibunya. Raut cemas mulai terlihat semenjak ia mengatakan kata Tokyo. Sama sekali tidak terlintas di benaknya jika Anaknya akan meninggalkannya sendiri di kota kecil ini. “Aku pasti baik-baik saja. Aku akan lulus dan membuat Ibu bangga padaku.”


*************


Beberapa Bulan Kemudian pada awal musim dimana bunga sakura bermekaran. Sudah tiga hari Aizawa menetap di kota orang lain. Jauh dari orangtua, keluarga, teman-temannya. Aizawa mendapat beasiswa dari kampusnya saat ini. Karena kerja kerasnya, ia berhasil menunjukan prestasi terbaik saat ujian masuk. Hal itu adalah syarat yang diberikan sang Ibu pada Aizawa saat meminta izin untuk kuliah di Tokyo. Selama ini, kedua orangtuanya hanya berfikir bahwa Aizawa pasti akan kuliah di Universitas terdekat di Hiroshima. Itu sebabnya mereka sangat terkejut dengan keputusan Aizawa untuk pergi ke Tokyo.


Tiba-tiba gadis berambut pirang merangkul Aizawa dari belakang. Dia adalah Nana. Sejak hari pertama kuliah, Aizawa sudah mendapat tiga orang teman. Namun, mereka terlalu gaul untuk seorang Aizawa yang datang dari desa. “Kita karaoke, yuk!”


"Karaoke?" Aizawa mulai merasa aneh mendengar istilah itu.


"Sebenarnya acara ini untuk 4 orang. Kami mengadakan blind date dengan beberapa mahasiswa yang suka basket. Kau tahu kan? Anak basket selalu menghadirkan sisi kerennya..." ucap Clarissa, gadis paling kecil dan imut diantara mereka bertiga.


"Jadi, kami minta tolong padamu untuk ikut. Jika tidak ada 4 orang, acaranya dibatalkan. Tolong ya, Aizawa." Ucap Momoka sambil merengek.


"E...itu...aku ada urusan." Ucap Aizawa berusaha menolak dengan halus. Sejak hari pertama kuliah, ia mulai mencari keberadaan Kurio. Beberapa akun media sosial yang mungkin bisa menemukan Kurio, dilakukan olehnya. Termasuk mendatangi beberapa Universitas lain di Tokyo hanya untuk mencari nama Kurio. Namun, sampai hari ini, Aizawa belum menemukan petunjuk apapun. Tentu saja ia merahasiakan hal ini pada 3 orang temannya yang belum bisa sepenuhnya disebut teman itu.


"Urusannya nanti saja. Kau harus ikut kami, Aizawa !!!"


Mereka bertiga pun menyeret Aizawa untuk ikut acara blind date. Tanpa peduli perasaannya, tanpa peduli kondisinya, akhirnya Aizawa sampai di tempat karaoke yang mereka maksud. Seperti yang sudah dijelaskan tadi. Mereka bertemu dengan 4 orang cowok yang bahkan wajah mereka sangat asing di mata Aizawa. Mereka dari klub basket nasional Jepang. Tiga orang berasal dari Universitas khusus putra di Tokyo, diantaranya yaitu Nathan, Kou dan Hajime. Sedangkan satu orang lagi ternyata berasal dari Universitas yang sama dengan Aizawa dan ketiga temannya. Cowok itu bernama Yamato, dari fakultas Sastra.


Aizawa hanya duduk diam di pojokan. Dalam hatinya penuh dengan pertanyaan "apa semua gadis di Tokyo sering melakukan ini?", "apa yang mereka dapatkan dari acara yang tidak jelas seperti ini?", "mungkinkah dengan cara seperti ini dia bisa menemukan Kurio?". Semua pertanyaan konyol itu lenyap seketika saat Yamato menyapanya.


"Kau tidak ingin karaoke juga?".


Cowok itu memiliki paras yang ramah. Hidungnya cukup untuk membuat mata wanita tak berhenti menatapnya. Tubuhnya sekilas terlihat jangkung. Tapi ketika diperhatikan dari dekat seperti ini, jelas sekali bahwa bahunya lebar dan dadanya sudah pasti seksi. Aizawa menahan nafasnya sejenak ketika menyadari ada cowok tampan sedang menatapnya secara langsung semacam ini.


"Aku....hanya dipaksa datang oleh mereka. Jadi, kurasa tak masalah jika aku tak menikmati acaranya." Ucap Aizawa secara blak-blakan pada Yamato. Ia bahkan mulai bosan dengan acara omong kosong yang justru menghamburkan uang sakunya.

__ADS_1


Tiba-tiba Yamato tertawa terbahak-bahak. "Kau ini terus terang sekali, ya."


Aizawa terkejut dan kemudian kembali menatap ke arah Momoka yang sedang menyanyikan sebuah lagu sedih. Ia sangat menghayati sekali.


"Aku juga dipaksa datang oleh mereka. Jika disuruh memilih, aku lebih memilih berlatih basket daripada ikut acara tidak jelas semacam ini." Ucap Yamato menjelaskan asal mula ia berada dalam blind date itu. "Tapi aku tak pernah bisa menolak mereka. Mereka teman-teman terbaikku."


Sepertinya Aizawa cukup paham dengan posisi Yamato. Ia pun tak ingin melanjutkan pembicaraan lebih lama lagi. Rasanya ingin sekali cepat menyelesaikan acara ini. Terlalu banyak yang ingin dilakukan Aizawa saat ini. Sampai sekarang, ia bahkan belum mendapat petunjuk apapun tentang Kurio.


“Kurasa aku harus pulang." Aizawa berdiri dari duduknya dan berpamitan dengan tiga orang temannya. "Boleh aku pulang sekarang? Aku masih ada urusan."


"Ahh...iya. maaf ya, Aizawa. Kau harus terpaksa ikut kami padahal kau ada urusan. Terima kasih banyak, ya." Ucap Momoka langsung meletakan mic dan menggenggam tangan Aizawa untuk minta maaf.


"Tak apa. Kalian bersenang-senang, ya." Aizawa segera keluar ruangan dan meninggalkan mereka semua tetap berkaraoke.


"Hei, Yamato. Apa yang kau lakukan? Antarkan Aizawa sampai rumahnya." Suruh Kou masih dalam kondisi memegang mic.


"Hah? Kenapa harus aku?" Yamato pun mengelak.


"Aizawa tinggal sendirian di Tokyo. Dia bukan tipe yang terbuka pada semua orang. Jadi, aku khawatir kalau dia pulang sendiri. Apalagi sudah hampir malam." Ucap Nana terlihat sedikit khawatir.


"Ayolah,Yamato. Laki-laki macam apa kau ini?" Desak Hajime .


Merasa tak punya pilihan lain, akhirnya Yamato pergi menyusul Aizawa yang sudah keluar ruang karaoke lebih dulu. Ia setengah berlari untuk menyusul Aizawa yang sudah lebih dulu keluar ruangan karaoke. Untung saja masih belum terlalu jauh. Memang benar jalanan kota Tokyo menjelang malam sangat mengerikan apalagi untuk seorang gadis seperti Aizawa. Akan sangat berbahaya jika dibiarkan sendirian. Yamato tidak langsung menghampiri Aizawa. Ia justru berjalan di belakangnya. Keadaan itu justru membuat Aizawa merasa tidak nyaman.


Yamato terkejut ditembak secara spontan oleh Aizawa seperti itu. “eh..itu…aku hanya ingin memastikan kau sampai rumah dengan selamat. Aku mau mengantarmu.”


Aizawa menghela nafas kesal. “….dengan cara membuntutiku dari belakang?”


“aku hanya tak tahu harus mengobrol apa denganmu. aku tak mungkin bersikap sok kenal sok dekat, kan?” jelas Yamato tetap berusaha tenang. Ia melipat kedua tangannya dan bersikap seolah dia berhak melakukan apapun yang ia suka.


Jalanan kota Tokyo saat itu terlalu bising untuk berbincang-bincang di jalan. Karena merasa tak perlu diperpanjang lagi, Aizawa berjalan ke arah Yamato berdiri. Hanya 1 meter dari jarak Aizawa berdiri. Postur tubuh pemain basket memang jauh berbeda dengan pria biasa yang bukan seorang atlit. Namun, tinggi Aizawa juga tidak bisa dibilang pendek.


“kalau begitu, kita jalannya berdekatan saja. Bukankah itu lebih baik?” Aizawa menempatkan dirinya di sebelah kanan Yamato. Tanpa banyak penjelasan, ia tahu bahwa Yamato bukanlah orang yang jahat. Tak ada salahnya jika ia berteman dengannya


“kau….kuliah di Universitas Tokyo juga, kan?”


“apa kau juga kuliah disana?” Aizawa tampak mengerutkan dahi. Bertanya-tanya darimana Yamato tahu informasi tentang dirinya. Kemudian ia pun teringat pada ketiga teman-temannya -yang tidak mungkin tidak menjelaskan apapun- pada saat kencan buta.


“ya. Tapi mungkin kita beda fakultas. Kudengar kau tinggal sendiri di Tokyo. Kedua orangtuamu kemana?”


Aizawa menghentikan langkahnya. Ia menatap Yamato yang terus berjalan. “apa ini bagian dari rencanamu menguntitku?”


Yamato menghentikan langkahnya. Ia berbalik ke belakang dengan sikap malas. “aku hanya menanyakan hal yang menurutku itu basa-basi. Jika kau merasa terganggu dengan hal itu, kau tak perlu menjawabnya. Mudah, kan?”

__ADS_1


Kali ini, lagi-lagi Aizawa kena checkmate untuk kedua kalinya. Ia merasa benar-benar kalah telak dengan cowok seperti Yamato. Aizawa mulai mengernyitkan dahi. Kemudian, tanpa menjawab, mereka melanjutkan kembali perjalanan. Mereka berdua mulai keluar dari rute jalan raya yang penuh dengan kebisingan. Sebuah jalanan sepi dimana terdapat sungai yang mengalir cukup deras. Aizawa membawa Yamato ke pinggiran kota tanpa disadari olehnya.


"Aku berasal dari desa. Aku jauh-jauh kuliah disini, selain untuk kuliah, aku juga mencari seseorang. Seseorang yang berarti untukku." Ucap Aizawa mulai menjelaskan perlahan. Matanya lurus ke depan tanpa menoleh sedikitpun pada Yamato.


"Apa dia pacarmu?"


Aizawa kembali menghentikan langkahnya. Kali ini ia tersenyum licik. "Aku tahu kau bukan orang jahat. Tapi kontrakanku berada di tengah kota dan sudah terlewat daritadi. Jadi, terima kasih. Pulangnya hati-hati, ya." Ucap Aizawa sambil pergi melambaikan kedua tangannya.


Yamato hanya terpaku menyadari dirinya dibawa ke sebuah tempat gelap dan aneh semacam ini. Bagaimana mungkin ia berhasil dikerjai cewek aneh itu? Strategi yang cukup bagus agar tak ada yang tahu keberadaan rumahnya. Ingin rasanya membalas dendam. "Siall....!!! Aku tidak tahu dia fakultas apa!!!"


***********


Esoknya, seperti takdir yang mempertemukan mereka di sebuah kantin kampus. Sebelumnya Aizawa tak pernah sekalipun melihat Yamato di kantin. Tapi kenapa? Aizawa yang sudah tertangkap basah, berusaha melarikan diri. Kali ini Yamato tak akan melepaskannya lagi.


"Tunggu !! Kau harus tanggung jawab telah meninggalkanku sendirian dan membuatku tersesat di tempat itu." Yamato menahan tangan Aizawa yang berusaha kabur. Genggaman tangannya sangat erat bahkan ketika Aizawa mengelak sedikit saja, bisa menimbulkan cidera.


"Mana mungkin kau tidak tahu tempat itu!!! Bukankah kau orang Tokyo asli?!" Aizawa mulai menyangkalnya. Dahinya berkerut seketika karena sangat ingin melarikan diri dari Yamato.


"Tapi aku tak pernah sampai pelosok seperti itu. Kau harus tanggung jawab."


Semua mata tertuju pada Yamato dan Aizawa yang terlihat sedang memainkan sebuah drama. Merasa tak nyaman dengan tatapan aneh di sekitarnya, Aizawa segera mengakhiri drama diantara mereka. "Baiklah. Aku harus apa?" Ucap Aizawa kesal. Bahkan tangannya masih digenggam erat oleh Yamato. Seolah tak ingin melepasnya sedetikpun.


"Kau bilang sedang mencari seseorang. Mungkin saja orang itu salah satu temanku di klub basket nasional. Atau mungkin satu fakultas denganku. Mungkinkah dia teman lamaku? Tidak ada yang tahu, kan? Aku punya jaringan pergaulan yang luas untuk mencari dimana pacarmu itu." Jelas Yamato dengan gayanya yang sok keren.


Jika dipikirkan kembali, memang tak ada salahnya meminta bantuan seseorang seperti Yamato. Apa yang dikatakannya mungkin saja benar. Dia anggota inti klub basket nasional, pasti jaringan pergaulannya luas. Dia pasti bisa membantu.


"Kenapa kau membantuku? Kau tidak bermaksud balas dendam padaku, kan? Atau jangan-jangan kau mengajakku kencan kemudian kau membawaku ke tempat gelap dan asing lalu meninggalkanku begitu saja?"


Kali ini giliran Yamato mengernyitkan dahinya. Kenapa sulit sekali meyakinkan gadis ini? Yamato menarik Aizawa untuk duduk di salah satu bangku kantin. Ia merasa pembicaraan ini akan lama dan tentu saja agar tak menarik perhatian mahasiswa yang lain. Yamato menarik nafas dalam sebelum melanjutkan pembicaraan.


"Sebenarnya aku sama sekali tak bermaksud seperti itu. Tapi kurasa idemu bagus juga. " ucapannya membuat Aizawa melongo mendengar kata-kata itu. "Aku bercanda. Sebenarnya....aku juga ingin minta tolong padamu."


Suasana kantin kala itu terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Entah apa yang membuat kali ini terasa heboh. Aizawa melihat sekelilingnya sekilas. Beberapa pasang mata wanita menatapnya dengan tajam. Seolah ingin menerkamnya hidup-hidup. Apa yang salah dengannya? Yamato masih terdiam. Sepertinya sedang memikirkan akan mengatakan apa nantinya. Wajah Yamato terlihat sedih. Apa ini bagian dari akting?


"Sebenarnya sudah 2 tahun ini adikku dirawat di rumah sakit. Fisiknya sangat lemah dan sakit-sakitan. Ia bahkan sudah berhenti sekolah karena kondisi yang tidak memungkinkan. Dia bahkan tidak punya teman lagi."


Meskipun cerita itu hanya kebohongan, Aizawa terlihat simpati dengan cerita Yamato. Tapi tidak mungkin jika sebuah kebohongan terasa menyedihkan seperti ini. Hal itu pasti sangat berat untuk Yamato. “lalu, apa yang bisa kulakukan?”


“aku ingin kau menjadi teman adikku. Dia hanya satu tahun lebih muda darimu. Aku yakin kau bisa berteman baik dengannya. Sebagai gantinya, akan kubantu kau mencari pacarmu itu.” Ucap Yamato sangat yakin bahwa kesepakatan diantara mereka akan menemukan titik tengah.


“bisa aku bertemu dengan adikmu?”


“tentu. Pulang kuliah aku tunggu di depan gerbang.”

__ADS_1


“oke.”


__ADS_2