My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 12


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu?" Yamato mengusap kepala Megumi dengan penuh kasih sayang. Merasa bersalah karena beberapa hari kemarin ia fokus pada Aizawa. Tapi, untung masih ada Kurio yang menemaninya. Setidaknya Megumi tidak benar-benar kesepian. "Aku baru saja mengantar Aizawa pulang. Tadi dia kesini sebentar."


Megumi tersenyum melihat kakaknya. "Ai-nee ? Kenapa tidak menjengukku?"


Kurio terkejut seketika mendengar nama itu disebut. Sejak kembali dari mengantarkan Aizawa pulang, Yamato dan Kurio belum saling berbicara satu sama lain. Namun atmosfir diantara keduanya terasa memanas.


"Tadi....Aizawa merasa tidak enak badan. Jadi aku mengantarnya pulang. Dia titip salam dan beberapa novel padamu." Ucap Yamato sambil melirik Kurio. Namun, Kurio cuek aja.

__ADS_1


"Ah...akan kuhubungi Ai-nee chan nanti. Semoga dia cepat sembuh."


"Kau juga harus segera sembuh, kan?"


Megumi mengangguk dengan mantap. Virus AIDS dalam tubuhnya sudah memasuki stadium akhir. Bahkan mungkin dokter sudah bisa memvonis tentang sisa usia Megumi. Rasanya Yamato tak sanggup mendengar kabar buruk itu. Sejak kedua orangtua mereka meninggal, Megumi berusaha tidak merepotkan Yamato sedikitpun. Sampai akhirnya ia tertular HIV 3 tahun yang lalu saat mengalami kecelakaan dan mendapat transfusi darah dari pelaku yang menabraknya. Yamato tak pernah sekalipun melihat Megumi menangis atau bersedih bahkan setelah divonis seperti itu. Wajah tersenyum dan ceria selalu diperlihatkan Megumi. Justru sikap seperti itu yang selalu membuat Yamato khawatir.


Yamato dan Kurio meninggalkan Megumi yang beristirahat di kamarnya. Yamato berjalan perlahan di belakang Kurio. Banyak hal yang ingin ditanyakan pada Kurio. Namun, ia juga tak ingin mendengarnya.

__ADS_1


"Beberapa bulan ini. Kenapa kau bersikap sekejam itu padanya? Dia jauh-jauh kesini untuk mencarimu kemana-mana. Apa itu perlakuanmu padanya?" Yamato tak lagi bisa menahan emosinya. Antara rasa kesal dan cemburu. Rasa ingin mengalahkan itu semakin membesar dan mulai tak terkendali.


"Memangnya apa urusanmu?! Ini tentang masa lalu antara aku dan Aizawa. Kau tidak ada hubungannya, kan?" Kurio pun tak bisa menahan rasa cemburunya pada Yamato. Terutama kenyataan bahwa selama ini mereka selalu bersama.


Yamato mengepal tangannya erat. Siapapun tak ada yang bisa mengalahkan kenangan di masa lalu. Bahkan Yamato sendiri tak tahu apa saja yang sudah terjadi pada mereka di masa lalu. Mengingat hal itu hanya akan membuatnya semakin geram. Meskipun sudah delapan tahun berlalu, meskipun sudah mencari sampai kemanapun, meskipun sudah diperlakukan kejam oleh Kurio, bahkan Aizawa tak berniat untuk mundur dan menyerah. Apa yang harus ia lakukan untuk mengalahkan kenangan Kurio di dalam hati Aizawa?


Kurio tak bisa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Yamato. Banyak hal yang sebenarnya ingin ia tanyakan tentang Aizawa. Tapi, hal itu tak mungkin ia lakukan saat ini. Meskipun sudah sengaja menghilang dari hidup Aizawa selama ini, ia tak menyangka Aizawa akan melakukan hal konyol seperti ini. Menyusul dan mencarinya di Tokyo. Kondisi Megumi adalah satu-satunya alasan mengapa Kurio meninggalkan Aizawa. Sesungguhnya sudah sejak lama ia tahu tentang perasaan Megumi padanya, bahkan sebelum Megumi divonis HIV/AIDS. Namun, pada tahun pertama penyebaran virus tersebut dalam tubuhnya, Megumi menyatakan perasaan padanya. Sebelum hal itu terjadi, Yamato memohon padanya untuk mendengarkan permintaan Megumi dan menceritakan tentang penyakit yang diderita. Yamato adalah satu-satunya orang yang paling dekat dengannya. Ketika banyak sekali orang yang mendekatinya hanya demi harta keluarga, Yamato datang dengan tangan terbuka dan tanpa pamrih menerima keberadaannya. Bagaikan memikul sebuah hutang budi, Kurio tak mungkin menolak perasaan Megumi sekaligus permohonan sahabat baiknya, Yamato. Hingga akhirnya ia harus mengorbankan perasaannya pada Aizawa.

__ADS_1


"Aku memang tak ada urusan dengan masa lalu kalian. Tapi, setidaknya segera selesaikan masalah kalian." Ucap Yamato pada Kurio. Bahkan sampai saat ini, Yamato tak tahu alasan sebenarnya Kurio bersikap seperti itu pada Aizawa.


"Tak perlu ada yang diselesaikan." Kurio berjalan pergi meninggalkan Yamato sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sedikitpun. Ia hanya bersikap menghindar dari pertanyaan tentang Aizawa.


__ADS_2