My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 42


__ADS_3

Kurio membungkuk untuk mengikat tali sepatunya. Semalam ia tak bisa tidur karena memikirkan pertandingan ini. Tentu saja bukan karena gugup melawan Universitas Hosei, tapi karena lawan yang harus ia kalahkan adalah Yamato. Keahlian Yamato adalah pada saat melakukan three point. Itu sebabnya Kurio berlatih keras menyempurnakan gerakan three point. Ia bahkan lupa menelepon Aizawa untuk mengingatkan pertandingan ini. Semoga dia tidak lupa.


Langkah Yamato terhenti di depan Kurio yang masih membungkuk, berkutat dengan sepatunya. “Kau tidak lupa kesepakatan kita, bukan?”


Kurio menengadah. Kedua mata mereka saling beradu. Bagaimana mungkin Kurio lupa dengan kesepakatan yang sudah membuatnya tidak bisa tidur semalam. Tapi Kurio tetaplah Kurio yang memiliki tingkat gengsi diatas segala-galanya.”Aku takkan kalah darimu. Takkan kubiarkan Kau merebut Aizawa begitu saja.”


Yamato tersenyum sinis. Ia kemudian berjalan menuju loker dimana pakaiannya disimpan selama pertandingan berlangsung. “Aku pun takkan biarkan Kau menyakitinya lagi.”


*******

__ADS_1


Aizawa berusaha lari secepat-cepatnya menuju lapangan basket indoor-tempat tim basket bertanding-. Karena perkataan Kurodo, semalam ia tak bisa tidur dengan tenang. Beberapa kali ia melirik jam tangan. Namun, barang-barang yang ia bawa jauh lebih menghambat laju kakinya. Ia mengatur nafasnya agar tetap bisa berlari. Semoga saja pertandingannya belum dimulai. Itulah yang ia panjatkan. Tapi Tuhan berkehendak lain dan memberinya hambatan untuk menuju ke lapangan basket.


“Kau mau kemana, Nona Aizawa?” ucap seorang wanita yang tiba-tiba saja terdengar dari belakang. Seketika Aizawa menghentikan langkahnya. Suara ini, atmosfer ini, situasi ini, tekanan ini. Ia mengenal siapa pemilik suara ini.tangannya mendadak gemetar. Tubuhnya seolah lemas tak berdaya.


“Kanata?” ucap Aizawa sambil berbalik. Benar sekali tebakannya. Kanata sudah berdiri di samping pintu kelas Kurio. Seolah sudah menunggu untuk bertemu dengan Aizawa. Seperti predator yang menanti kedatangan mangsanya.


“Aku tahu kau pasti akan kesini. Aku sengaja menunggumu daritadi.” Kanata mulai melangkah mendekati Aizawa. Kaki Kanata yang jenjang membuat jarak diantara mereka menjadi cepat berkurang.


Kanata melangkah mendekati Aizawa yang masih berdiri terjebak dalam tatapan maut Kanata. Apa pertanyaaan yang baru saja ia lontarkan mengundangnya dalam masalah? Rahangnya mengeras setiap kali mendengar langkah sepatu high heels milik Kanata. Sosok wanita yang berkharisma kuat, dengan paras menawan memikat setiap kaum pria untuk selalu menatapnya, postur tubuh yang sangat diimpikan setiap wanita. Ini pertama kalinya Aizawa menyadari jika ia tak bisa menang melawan Kanata. Tidak akan menang dalam hal apapun. ia menarik nafas dalam mengatur udara yang masuk paru-parunya. Anehnya, kenyataan itu tidak lagi membuatnya risau.

__ADS_1


“Kurio membatalkan pertunangannya denganku. Kau tahu apa artinya bukan?” sorot matanya seolah ingin memotong seluruh tubuh Aizawa dan membaginya dalam beberapa potongan segar. “Dia bahkan rela membuang segalanya dan mengorbankan perusahaan yang sudah ia pimpin selama ini. Itu artinya perusahaan akan bangkrut karena 80% sahamnya adalah milikku. Banyak karyawan yang akan dipecat.”


Pikiran Aizawa kosong. Ia tak bisa membayangkan jika banyak sekali karyawan yang dipecat karena perusahaan Kurio bangkrut. Semua hal mengerikan itu terjadi karena Kurio lebih memilih Aizawa daripada perusahaannya.


“Ahh…aku sama sekali tidak mengerti dengan kebodohannya. Dulu saat masih bersama Megumi, aku santai-santai saja. Tak perlu sampai menyusul ke Jepang seperti ini. Itu karena aku tahu jika Megumi pasti akan segera mati, jadi dia bukan saingan berat bagiku. Tapi ketika mendengar tentangmu…….”


Uap kemarahan serasa mengambang di puncak kepala Aizawa. Mendengarnya mengatakan hal buruk tentang Megumi membuat telapak tangannya berayun ke wajah cantik Kanata. Pukulan keras menggoyahkan posisi Kanata hingga terjatuh. Ia tak lagi peduli tentang siapa Kanata dan dampak apa yang mungkin bisa berakibat fatal.


“Aku tak peduli jika Kau mengataiku apapun sesuka hatimu. Tapi jangan pernah mengatakan hal buruk tentang Megumi. Dia sudah bahagia disana. tak perlu mengetahui hal konyol semacam ini.” Ucap Aizawa dipenuhi kemarahan. Wajahnya merah padam berusaha menahan rasa marah bercampur takut yang bergejolak dalam dirinya.

__ADS_1


Kanata masih terkejut dengan adegan super cepat yang baru saja ia rasakan. Wajahnya terasa panas dan perih. Ia hanya mengatakan yang sebenarnya tentang Megumi. Apa salahnya?


“Tentang Kurio….aku tidak meminta dia melakukan apapun. jika ini merupakan keputusannya, Aku hanya bisa mendukung apa yang menurutnya terbaik. Tapi jika Kau masih punya hati, sebaiknya jangan cabut semua saham yang akan menyengsarakan orang banyak. Aku akan mencoba bicara lagi pada Kurio tentang keputusannya ini.” Bibir Aizawa mulai bergetar menahan isakan yang mulai ia rasakan. Air matanya tak berhenti mengalir. Jika mencintai Kurio seberat ini, takkan pernah ia lakukan. Jika rasa cintanya hanya akan menyakiti orang lain, untuk apa rasa itu bertahan?


__ADS_2