My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 35


__ADS_3

Sebuah kedai kopi dengan interior minimalis yang terkesan manis. Dengan cat tembok berwarna abu gelap dan beberapa hiasan dengan tema kopi dan ice cream. Kedai yang terletak cukup jauh dari kantor Kurio dan cukup jauh pula dengan kampus. Yamato hanya terduduk diam di balik kaca besar yang mengarah pada pemandangan jalan raya yang padat di kota Tokyo. Ini jam istirahat siang, tidak heran jika banyak sekali orang yang berlalu lalang di persimpangan jalan.


Yamato hanya mengaduk-aduk caramel latte yang dihidangkan di meja. Pandangannya lurus menerawang pemandangan jalan raya dari balik kaca. Tidak sulit untuk menebak apa yang dipikirkan Yamato. Bahkan cenderung sangat mudah. Tentu saja ia memikirkan Aizawa. Ia rindu gadis periang yang selalu tersenyum setiap kali melihatnya. Ia rindu senyum jahil gadis yang selalu berlari ketika membutuhkan bantuannya. Sudah satu minggu sejak Aizawa memutuskan untuk cuti kuliah. Dalam hatinya sedikit bersyukur Aizawa tidak memilih untuk berhenti kuliah dan keluar dari Universitas Tokyo.


Tatapannya terpaku pada sosok Kurio yang baru saja masuk ke dalam kedai kopi-yang menurut Yamato tidak akan ditemukan siapapun-. Ia terlihat sangat kacau. Hanya dalam hitungan menit, Kurio berhasil menemukan tempat duduk Yamato yang sangat terlihat strategis dari arah pintu masuk. Yamato hanya menghela nafas berat sebagai jawaban atas kedatangan Kurio.


“Kau sendirian?” sapa Kurio langsung menempatkan diri di sofa berhadapan dengan Yamato. Wajahnya terlihat sangat lelah. Bahkan Kurio yang selalu terlihat rapi dan modis, kini terkesan berantakan.


“Kau darimana? Berantakan sekali. Seperti bukan dirimu.” Tanya Yamato. Bukannya membalas sapaan Kurio, ia langsung melontarkan pertanyaan pada Kurio. Ia paham betul sahabatnya sedang penuh masalah. Bahkan sampai berantakan seperti itu.

__ADS_1


“Apa Kau tahu dimana Aizawa? Aku sudah mencari di kontrakan dan kampus, tapi teman-temannya bilang kalau ia sudah seminggu tidak ke kampus. Apa Kau tahu apa yang terjadi dengannya?”


Yamato mulai meneguk cangkir caramel latte yang sejak tadi hanya ia aduk-aduk tidak jelas. Menikmati aroma caramel yang memanjakan lidah sembari memikirkan jawaban apa yang seharusnya ia katakan pada Kurio tentang Aizawa. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya tentang keberadaan Aizawa? Ataukah berbohong jauh lebih baik?


“Untuk apa Kau mencarinya? Bukankah sudah ada Kanata?” jawab Yamato dengan nada suara yang terdengar sangat sinis. Ia bahkan tidak menyadari jika ada perubahan nada suara yang mencolok akibat emosi yang tertahan.


Tentu saja Kurio menyadari perubahan nada suara itu. Ia pun sedikit merasa bahwa Yamato menyukai Aizawa entah sejak kapan. Mengingat bahwa Yamato menemani Aizawa sejak awal ia menginjakkan kaki di Tokyo. Kali ini ia semakin yakin jika Yamato tahu dimana Aizawa berada Ia pun sedikit mengernyitkan alisnya. “Ada yang ingin kubicarakan. Tentang pembatalan pertunanganku dengan Kanata.”


Kurio menggigit bibir bawahnya. Seperti dugaannya, tidak mudah membicarakan tentang Aizawa pada Yamato. Kurio menghela nafas berat. Ingin sekali ia memaksa Yamato untuk mengakui perasaannya pada Aizawa. “Justru aku ingin minta maaf. Aku sudah berhasil membatalkan pertunanganku. Aku ingin bertemu Aizawa. Kau tahu dimana dia sekarang?” ucap Kurio berusaha terlihat yakin.

__ADS_1


“Aku takkan membiarkanmu bertemu Aizawa.”


Sebelah alis Kurio terangkat. “kenapa?”


Yamato tersenyum sambil melipat kedua tangannya diatas meja. Senyumnya sangat percaya diri. Seolah sudah berhasil memenangkan vendor besar. “Kau lupa tentang ancamanku ketika latih tanding saat aku kembali? Aku tidak pernah bercanda tentang pembicaraan saat itu.”


Kini giliran wajah Kurio yang berubah pucat. Ia benar-benar lupa tentang hal itu. Kurio bukanlah orang yang baru saja mengenal Yamato. Keteguhannya, keyakinan serta keseriusannya dalam melakukan segala sesuatu tidaklah setengah-setengah. Jika Yamato sudah yakin terhadap sesuatu, maka ia pasti melakukan segala cara yang bisa diupayakan. Termasuk tentang Aizawa. Kurio menelan ludah. “Kau ingin merebutnya dariku? Itukah yang ingin kau katakan sekarang?”


“Kita memang berteman. Tapi dalam hal bersaing secara adil, Aku takkan mengalah darimu. Aku takkan menyerahkan kembali Aizawa padamu begitu saja.”

__ADS_1


“bagaimana jika Kita bertanding secara adil? Biar bagaimanapun semua keputusan ada pada Aizawa. Biarkan dia yang memilih.” Ucap Kurio sedikit percaya diri. Karena tentu saja ia sangat yakin jika Aizawa sangat mencintainya.


Kenyataan itu tentu sangat menguntungkan bagi Kurio tapi tidak untuk Yamato. Jika hanya membiarkan Aizawa memilih, tentu saja jawabannya sudah sangat jelas. Percuma saja ia bersikap percaya diri dengan mencoba menantang Kurio. Tapi…mencoba menantang?


__ADS_2