
Mereka berdua sudah berjalan berkeliling Tokyo. Tak adakah secercah harapan untuk kekosongan hati yang tak kunjung menemui belahan yang lain. Bahkan Aizawa tak bisa merasakan suara langkah kakinya sendiri. Hanya sampai disinikah perjuangannya mencari Kurio? Satu hal yang bisa ia rasakan saat ini. Genggaman tangan Yamato yang berkeringat di ruangan terbuka. Jari-jari yang besar dan kokoh membalut jari-jari Aizawa yang terlihat kecil dan mungil. Mungkinkah Yamato mengkhawatirkan Aizawa?
Tiba-tiba ponsel Yamato berdering. Segera ia menghentikan langkahnya dan menjawab telepon tersebut. Rupanya telepon dari rumah sakit tempat Megumi dirawat. Yamato menjawab telepon itu dengan raut wajah tegang. Tidak biasanya pihak rumah sakit menghubunginya seperti ini. Perasaannya berubah menjadi tidak tenang.
"Kita harus bergegas. Kondisi Megumi menurun drastis." Ucap Yamato tergesa-gesa menggenggam tangan Aizawa.
"Tapi, aku ada kuliah. Kau duluan saja. Aku segera menyusul setelah kuliah selesai. Megumi membutuhkanmu."
Yamato mengangguk dan bergegas pergi menuju mobilnya. Aizawa hanya bisa memandangi. Dari lubuk hatinya yang terdalam, ia berdoa untuk kesembuhan Megumi. Karena biar bagaimanapun, gadis itu sangat baik, tidak seharusnya menderita seperti ini.
__ADS_1
**********
Tuhan, jika diizinkan, ingin sekali memindahkan penyakit yang diderita Megumi pada dirinya. Rasanya tak sanggup melihat adik satu-satunya harus menanggung semua beban sendirian. Yamato sampai di rumah sakit pada saat Megumi sudah berada di dalam ruang gawat darurat. Ia melihat Kurio duduk tertunduk di depan ruang gawat darurat. Langkahnya melambat ketika melihat sahabat terbaiknya itu menunjukan wajah putus asa. Jika harus jujur, Yamato sama sekali tidak ingin mendengar berita tentang Megumi, namun apapun itu, ia harus menerimanya.
"Kemana saja, kau? Megumi memanggil namamu terus." Ucap Kurio langsung menghampiri saat melihat Yamato datang. Serasa tak bisa mendengar apapun yang dikatakan Kurio, Yamato hanya menatapnya dengan pandangan kosong.
"Kau sudah bertemu dokternya?"
Yamato hanya bisa mengepalkan telapak tangannya. Sejak awal saat Megumi divonis menderita HIV, ia mencari tahu beberapa gejala dan efek yang ditimbulkan. Bahkan ia sampai mencari obat yang mungkin bisa menyembuhkan adik satu-satunya itu, sampai ke beberapa negara. Namun, memang belum ada obat yang terbukti bisa menyembuhkan HIV AIDS 100%. Namun, ada beberapa obat yang bisa memperlambat perkembangan virus yang dikenal menyerang sistem kekebalan tubuh. Meski tak banyak berpengaruh, rupanya virus itu tetap saja menyebar tanpa mengenal ampun. Bahkan Megumi menderita beberapa penyakit lain selain AIDS. Hal itu karena kekebalan tubuhya yang semakin melemah.
__ADS_1
"Bagaimana ini? Tidak adakah cara lain untuk menyelamatkan Megumi?" Ucap Kurio sambil sedikit memohon pada Yamato. Jikalau ada satu cara untuk menyelamatkan Megumi dari kematian, pasti cara itu akan ditempuh Yamato apapun resikonya.
Yamato hanya menggeleng sambil menunduk. Dokter yang menangani Megumi belum juga keluar dari ruang gawat darurat.
Aizawa datang dari lorong dengan membawa beberapa buah untuk Megumi. Sudah beberapa hari ini ia tidak menjenguk Megumi di rumah sakit. Mungkin beberapa novel baru yang saat ini ia bawakan bisa menebus dosa karena tidak menjenguk selama beberapa hari. Mau bagaimana lagi, ia terlalu fokus mencari Kurio. Jarak antara mereka bertiga hanya sekitar 5 meter. Aizawa menghentikan langkahnya saat melihat Yamato berbicara dengan seorang cowok yang tidak asing lagi untuknya beberapa hari yang lalu. Bruuukkkk.....Aizawa menjatuhkan beberapa barang yang ia bawa dan mengejutkan dua cowok tampan itu.
"Oh...Aiz....." belum selesai Yamato memanggil...
"Kurio..........." ucap Aizawa dengan pandangan terkejut sambil menatap Kurio yang sedang berbicara dengan Yamato.
__ADS_1
"Aizawa.........." dan Kurio pun membalasnya.
Hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidup Yamato, ia berfikir ingin sekali mengalahkan Kurio. Benang merah yang tanpa sengaja menghubungkan mereka, kini mulai tampak kusut. Sore itu, di sebuah tempat dimana masa lalu dan masa depan saling terhubung, tali takdir diantara mereka, akhirnya bersimpangan.