My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 3


__ADS_3

Rumah sakit yang besar dengan cat putih di seluruh dinding ruangannya. Cukup besar untuk sebuah rumah sakit yang berdiri di tengah hiruk pikuk Ibu kota Jepang. Bangunannya terdiri dari 30 lantai. Aroma khas rumah sakit tercium kental disini. Ada sebuah taman hijau di samping rumah sakit tersebut. Dinding sebelah kanan sengaja di design dengan kaca sepenuhnya. Hal itu membuat para pengunjung atau bahkan pasien bisa menikmati indahnya taman hijau tersebut. Sebuah dinding yang mengarah pada taman nan hijau. Ada beberapa pasien yang mengunjungi taman tersebut. Mereka tertawa seolah melupakan penyakitnya. Apa yang mereka pikirkan saat menatap taman nan hijau ini? Apa yang mungkin diharapkan oleh seorang pasien?


“maaf menunggu, Aizawa. Ayo !! adikku sudah selesai kontrol.” Ucap Yamato menghampiri Aizawa yang sedang asyik memandangi taman samping rumah sakit.


“ah…iya.”


HIV/AIDS….


Lima tahun yang lalu, adiknya menerima transfusi darah karena pendarahan akibat kecelakaan. Pelaku yang menabraknya bertanggungjawab atas pendarahan yang dialami adik Yamato. Namun, tak seorangpun, tidak juga orang itu, menduga jika darah yang didonorkan mengandung virus HIV. Ketika nasi sudah menjadi bubur. Tak ada gunanya menyesali hal yang sudah terjadi. Kondisi adiknya mulai menurun sejak tiga tahun terakhir. Kemudian, memilih untuk berhenti sekolah karena kondisi kesehatan yang semakin menurun.


Lorong yang sempit dan sedikit terisolasi dengan dunia luar. Itulah kesan pertama yang dipikirkan Aizawa saat berjalan menuju kamar adik Yamato. Dengan perasaan seperti apa adiknya bertahan di tempat sunyi seperti ini. Langkah Aizawa tiba-tiba terasa berat saat mendapati Yamato berdiri di depan sebuah kamar nomor 07 yang terletak di lantai 18.

__ADS_1


“disinilah adikku dirawat.” Ucap Yamato terlihat tegar meskipun wajahnya terlihat jelas sangat sedih. Ekspresi yang sama juga diperlihatkan Aizawa. Ia hanya mengangguk menyetujui segala yang diucapkan Yamato. Perlahan pintu kamar itu dibuka. Terlihat seorang anak perempuan yang sedang duduk di tempat tidurnya sambil membaca sebuah novel.


“Megumi, bagaimana kondisimu?” tanya Yamato saat anak perempuan itu menoleh padanya.


“aku sudah jauh lebih baik, kak. Kau baru pulang kuliah? Bagaimana? Semua lancar?” ucap gadis yang tertempel beberapa selang infus di tangannya. Tubuhnya terlihat kurus. Meski terlihat sangat kurus, raut wajah imut yang dimiliki Megumi masih sangat terpancar jelas. Hidungnya sangat mirip dengan Yamato. Matanya sedikit lebih bulat dibanding Yamato.


“semua lancar. Oh iya, aku ingin mengenalkan seseorang padamu. Dia….temanku satu kampus. Namanya Aizawa.”


Aizawa dan Yamato kompak mengelak perkataan Megumi. Hal itu membuat sedikit lelucon bagi Megumi yang tertawa melihat kakaknya sangat bersemangat. Jarang sekali melihat Yamato tertawa setiap kali menjenguk Megumi. Secara pribadi, Megumi merasakan beban tersendiri ketika sang kakak menatapnya dengan tatapan kesedihan. Namun, sepertinya kedatangan Aizawa akan sedikit merubah sikap Yamato.


“apa yang kau baca? Sepertinya sangat seru.” Ucap Aizawa berusaha mendekat pada Megumi. Tanpa ragu dan tanpa takut tertular.

__ADS_1


“ah,,,ini novel terjemahan tentang pembunuhan berantai. Ceritanya sangat seru. Aku bahkan tidak ingin melewatkan semenit tanpa membacanya.” Ucap Megumi panjang lebar dengan semangat. Ia bahkan tak terlihat seperti orang yang sakit parah.


“kau sangat suka membaca, ya? Aku juga punya beberapa buku novel terjemahan. Jika kau mau, besok akan kubawakan kemari.”


“sungguh, Ai-nee chan??”


Aizawa terkejut mendengar panggilan unik untuknya. “Ai?”


“kau tak suka? Ai-nee chan dan Yamato-nii chan sangat cocok jadi pasangan.”


“kami bukan pasangan !!” spontan Aizawa dan Yamato mengucapkannya dengan bersamaan. Lagi-lagi hal itu membuat Megumi tertawa melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2