My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 22


__ADS_3

Liburan musim panas telah berakhir. Awal sebuah musim yang kering dan gersang telah dimulai. Kurio dan Aizawa dalam perjalanan kembali ke Tokyo. Daun-daun di sepanjang perjalanan mereka mulai berguguran, jatuh satu demi satu. Angin yang terlintas terasa sangat kering. Sudah hampir menjelang akhir tahun. Tak terasa sudah hampir satu tahun Aizawa menetap di Tokyo. Namun, hadiah terbaik tahun ini sudah didapatkannya. Kini Kurio berada di depan matanya. Bersamanya.


Tak ada satupun kata keluar dari bibir mereka. Keduanya membisu. Kurio tetap konsentrasi dengan jalanan di depannya. Sedangkan Aizawa menikmati angin musim gugur melalui jendela mobil. Meski tanpa suara, namun kedua tangan mereka saling terpaut di antara mereka. Seolah tak ingin terlepas lagi apapun yang terjadi.


Meski sudah memasuki musim gugur, rasanya sisa-sisa panas masih terasa. Jalanan yang mereka lewati sudah mulai dipenuhi daun-daun yang gugur. Suara dering telepon terdengar di dashboard mobil. Sejenak Kurio melepas genggamannya dan menerima panggilan masuk tersebut. "Halo." Sapa Kurio sambil tetap fokus menyetir. Tak ada jawaban lebih lanjut. Hanya ada Kurio dengan ekspresi terkejut setelah mengangkat telepon.


Aizawa yang melihat ekspresi aneh itu segera berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Ia berusaha bertanya tanpa suara pada Kurio. Namun, Kurio tidak menjawabnya.


"Mama......" ucap Kurio akhirnya.

__ADS_1


Seketika itu satu hal yang disadari. Bahwa akan datang satu masalah saat mereka kembali ke Tokyo. Sekejap diantara mereka jauh lebih hening dari sebelumnya.


************


Mata Kurio tak berhenti berkedip melihat Ibunya sudah menunggu kepulangannya. Ia sudah mengantar Aizawa pulang ke rumah kontrakannya. Satu hal yang membuatnya lebih terkejut adalah sosok pria yang berdiri di samping kiri Ibunya, dan seorang wanita cantik berdiri di samping kanan. Sejenak Kurio mengambil nafas panjang dengan perlahan. Sebuah pertanda adanya badai sudah dimulai.


"Darimana saja kau, Kurio? Apa hobimu hanya kelayapan saja? Kau bahkan tidak ke kantor selama 5 hari lebih dan tidak pulang?" Ucap Ibu Kurio langsung menerobos pada intinya tanpa menanyakan kabar sang putra bungsunya.


"Aku hanya liburan sebentar."

__ADS_1


"Kau ini....Yamato sedang keluar negeri, tapi kamu malah ikut liburan, lalu siapa yang mengurus perusahaan?" Kali ini Kurodo-kakak Kurio- yang menambahkan.


"Sudahlah. Aku ini sedang capek. Bisa kita lanjutkan besok saja?" Ucap Kurio sambil berjalan menerobos ketiga orang yang menyambutnya.


Namun, sebuah tangan putih dan mulus berusaha menahan langkah Kurio. "Apa kau ingin kusiapkan makan malam? Kau terlihat kecapekan."


Seorang wanita cantik bertubuh tinggi dan langsing. Kulit tubuh maupun wajahnya benar-benar mulus seperti boneka barbie. Halus tanpa celah sedikitpun. Tangannya menggenggam lengan Kurio sedikit erat.


"Tak perlu. Aku mau istirahat saja." Ucap Kurio berusaha menolak dengan halus. Walau sejujurnya mood Kurio sudah berantakan sejak pertama kali masuk rumahnya sendiri.

__ADS_1


"Kamu jangan kasar begitu !!! Kanata sudah jauh-jauh datang kesini ingin bertemu denganmu. Jadi seperti itu sikapmu pada tunanganmu sendiri ?!!"


Kali ini suasana semakin parah. Gadis itu adalah Lee Kanata. Dia berdarah Jepang-Korea. Sudah hampir satu tahun ini Kanata dan Kurio dijodohkan demi kepentingan perusahaan kedua keluarga. Sejujurnya Kurio menolak keras perjodohan itu. Perusahaan Kurio sempat mengalami kebangkrutan parah. Namun, berkat bantuan finansial dari keluarga Kanata, bisnis Kurio perlahan kembali bangkit. Karena alasan "balas budi", kemudian Kurio terpaksa menyetujui perjodohan itu meski pada saat itu Kurio juga terikat dengan Megumi. Tanpa menjawab apapun, Kurio segera masuk kamar dan tidak keluar lagi.


__ADS_2