My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 17


__ADS_3

Sudah dua bulan ini Yamato belum kembali dari Inggris. Apalagi setelah kata maaf yang ia ucapkan terakhir kali di hadapan Aizawa dan Kurio. Aizawa merasa bahwa mungkin itu terakhir kalinya ia melihat Yamato. Sejak kejadian itu, bahkan pesan dan telepon satupun tak ada yang dijawab oleh Yamato. Kurio pun juga seolah memilih bungkam dan tidak mau tahu. Hampir setiap hari Kurio berusaha meyakinkan keseriusannya pada Aizawa. Namun, seolah berbahagia diatas kesedihan orang lain, Aizawa memilih untuk diam tak ingin menjawab apapun. Rasa bersalah bercampur rindu seolah menyelimutinya.


"Ayo, kuantar."


Setiap hari Kurio menjemput di rumah kontrakan Aizawa. Pulangnya pun ia senantiasa menunggu sampai Aizawa selesai jam kuliah. Walaupun terkadang ia sengaja membuatnya lebih lama. Aizawa berharap dengan begitu, Kurio akan lelah dan kemudian menyerah. Kejadian di rumah sakit saat itu semacam cambuk bagi mereka bertiga. Bagi mereka, mungkin dengan menyembunyikan perasaan masing-masing, tak akan ada satupun yang terluka selain diri sendiri. Tapi ternyata hal itu salah. Mereka semua terluka, tak terkecuali Megumi. Tak seorangpun bisa meramalkan kematian Megumi. Tak seorangpun mampu mencegah terbongkarnya kebohongan yang disembunyikan. Bagaikan bom waktu yang bisa meledak kapanpun dan dimanapun.


"Kau tak perlu setiap hari menjemputku. Aku bisa berangkat sendiri. Bukankah kau juga harus mengurusi perusahaanmu karena Yamato belum kembali?" Ucap Aizawa di dalam mobil Kurio.


"Aku hanya ingin kamu tahu keseriusanku. Kau mungkin tak lagi mempercayaiku. Tapi, aku akan melakukan apapun untuk membuatmu percaya.”

__ADS_1


So sweet kan? Bukankah seharusnya Aizawa bahagia dengan situasi seperti ini? Bukankah ini yang dia inginkan? Kurio berbalik mengejar Aizawa. Tapi, seolah ada yang kurang, seolah ada yang masih mengganjal di lubuk hatinya. Tapi, tak ada yang bisa menjawab kegelisahan di hatinya. Mata Aizawa terus terpaku pada jalanan di luar mobil. Pikirannya berlarian entah kemana. Seolah ada ruang hampa dalam hatinya. Seperti kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga. Tangan kanannya memeluk telapak tangan kirinya. Seperti kedinginan, walaupun sesungguhnya tidak demikian.


"Semalam Yamato akhirnya menghubungiku."


Satu kalimat yang muncul dari mulut Kurio berhasil menyeret nyawa Aizawa kembali pada ruhnya. Sepertinya Kurio menyadari sesuatu yang dipikirkan Aizawa sejak tadi. Namun, ia memilih diam karena tak ingin kehilangan Aizawa sekali lagi.


"Apa....yang dikatakannya?" Tanya Aizawa akhirnya membuka mulut setelah beberapa menit membisu.


Aizawa kembali membisu. Entah bagaimana dia merasa kesal atas perkataan terakhir Kurio. Meski ia tak yakin merasa kesal pada siapa. Ia hanya menghela nafas panjang tanpa peduli siapapun lagi. Kurio yang menyadari perubahan sikap itu seketika berfikir keras. Harus cara seperti apa lagi agar Aizawa percaya padanya. Masih bisakah ia merubah keadaan? Wajar jika Aizawa tak bisa mempercayai setelah apa yang sudah ia lakukan padanya. Tak pernah memikirkan bahwa Aizawa akan menyusul ke Tokyo. Tiba-tiba saja Kurio teringat sebuah ide.

__ADS_1


"Liburan musim panas nanti, aku ingin ke Hiroshima. Aku ingin menyapa kedua orangtuamu. Apa kau mau ikut?"


Mata Aizawa terbelalak mendengar berita itu. Jika dipikirkan lagi, ia bahkan tak pernah sekalipun pulang ke Hiroshima sejak datang ke Tokyo. Rasanya durhaka sekali jika tak sekalipun ia mengunjungi keluarganya. Banyak hal terjadi dalam beberapa bulan. Mungkin memang seharusnya sedikit menyegarkan kembali pikiran yang kusut.


"Kita berangkat bersama saja." Jawab Aizawa. Kali ini ia menatap ke arah Kurio. Nyawanya sudah kembali ke dalam ruhnya.


Akhirnya Kurio tersenyum lega melihat Aizawa mulai bicara lagi. "Kira-kira Ibumu masih ingat padaku tidak, ya?"


Aizawa mengerutkan garis alisnya. "Tentu saja ingat. Ibuku ingat pada anak laki-laki yang selalu mengambil jatah lauk milik anaknya."

__ADS_1


Kurio menahan tawanya. Seolah mengingat kembali kenangan yang sudah berlalu hampir 8 tahun berlalu. Siang itu, mereka saling bicara kenangan masa lalu.


__ADS_2