My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 30


__ADS_3

Langkah lebar Aizawa menuju ruang berkumpul para anggota basket diiringi dengan langkah kecil Yamato yang menyusul di belakangnya. Pikiran Aizawa melayang ke berbagai tempat. Mencoba menerka apa yang mungkin diinginkan Ibunya. Selama ini Ibunya adalah tipe yang sangat memuja kekayaan. Segala sesuatu dinilai dari seberapa banyak materi yang dimiliki. Ia kembali teringat saat pertemuan pertama Aizawa dan Kurio. Ibunya sangat antusias ketika melihat tas branded dan mobil mewah yang turut mengiringi kedatangan Kurio. Ibunya bahkan sudah beberapa kali memaksa untuk segera meresmikan hubungan mereka tanpa mengetahui apapun.


Aizawa kembali mengingat alasan apa yang membuatnya memilih untuk pergi ke Tokyo dan meninggalkan kampung halamannya. Langkahnya terhenti sejenak seolah melupakan sesuatu. Memang kini keadaannya sudah jauh berbeda, bahkan lebih parah. Tubuhnya mulai bergetar menyadari posisinya saat ini. Ia bukanlah siapa-siapa. Kedudukan dan statusnya hanya sekedar angin yang bertiup lemah di hadapan keluarga Kurio. Tidak sebanding dengan tunangan resmi Kurio.


“Kenapa berhenti?” Langkah Yamato kini menyusul Aizawa. Satu-satunya orang yang selalu berada di sisinya. Ia menghela nafas berat.


“Aku ragu apa Kurio bersedia ikut denganku.”


Mata Yamato terus dan terus menatap Aizawa. Tatapan lembut yang selalu ia tunjukan seolah ingin sekali mendekapnya dan membuang segala kesedihan. Sejak tadi ia sudah menduga bahwa ada keraguan di mata Aizawa. Namun Yamato telah berjanji pada dirinya sendiri untuk bertanding secara adil dan membiarkan Aizawa sendiri yang memilih diantara mereka berdua.

__ADS_1


“Kurio pasti akan ikut. Bukankah ini permintaan Ibumu? Katakan saja yang sejujurnya. Dia pasti mengerti.” Ucap Yamato dengan senyuman paling lembut yang mampu menghipnotis semua mata wanita yang melihatnya.


*******


Ini masih area sekolah. Tapi kenapa untuk menemui Kurio saja terasa begitu sulit. Seolah banyak sekali medan penghalang yang telah disiapkan. Langkah Aizawa mantap untuk menemui Kurio. Bahwa mereka harus ke Hiroshima demi permintaan Ibunya. Yamato hanya bertugas mengawal Aizawa tanpa banyak bertanya apapun lagi. Hanya melihat punggung mungil Aizawa yang sedang berlari kecil dengan penuh semangat. Itu saja sudah membuatnya merasa bahagia. Bukankah sebenarnya kebahagiaannya sangat sederhana? Melihat Aizawa bahagia. Entah sejak kapan ia tak lagi mempersulit tentang kebahagiaannya.


Langkah kecil Aizawa terhenti ketika melihat Kurio keluar dari kelasnya bersama dua orang temannya. Sejak umur tujuh tahun sampai detik ini, wajah Kurio selalu membuatnya terpesona. Setidaknya itulah yang ia rasakan sampai detik ini. Dimana dunianya hanya berputar di sekitar Kurio. Dimana seolah Kurio adalah oksigen dan Aizawa adalah makhluk hidup yang akan selalu bergantung pada adanya oksigen. Lehernya tercekat ketika tatapan mereka bertemu. Yamato hanya bisa mengawasi mereka dari jarak yang menurutnya sudah aman. Menatap kemudian menunduk untuk mengatur kembali hatinya yang sakit melihat Aizawa dan Kurio bersama.


Aizawa mengatur nafasnya perlahan. Mengumpulkan oksigen yang ditimbulkan dari hawa keberadaan Kurio. “Kita harus ke Hiroshima sekarang. Ibuku….”

__ADS_1


Belum selesai ia bicara, datanglah beberapa orang mengenakan setelan jas hitam pekat dan berdasi dalam jumlah yang cukup untuk menyeret tubuh Kurio. Mereka langsung mengelilingi Aizawa dan Kurio. Tentu saja mereka berdua tahu siapa mereka. Para pengawal Kanata.


“Tuan muda Kurio. Nona Kanata tiba-tba jatuh pingsan. Sepertinya asma beliau kambuh.” Ucap salah satu pria dengan setelah jas hitam itu. Sepertinya si ketua regu.


Aizawa melirik wajah Kurio sekilas. Ia tercekat mendapati wajah khawatir yang sangat jelas diperlihatkan. Dalam hatinya bertanya-tanya kemudian menjawabnya sendiri. Seberapa besar arti Kanata dalam hidup Kurio? Tentu saja sangat besar mengingat hutang budi yang terjadi diantara mereka. Lalu bagaimana dengan perasaan Kurio pada Kanata? Berada di peringkat berapa nama Aizawa bertengger di hati Kurio? Tak bisakah Aizawa mengubah kenyataan yang ia lihat?


“Dimana dia? Sudah diberi pertolongan pertama? Apa dia tidak membawa inhaler-nya?” tanya Kurio langsung terlihat panik dan hendak buru-buru pergi.


“Kau mau kemana? Aku belum selesai bicara.” Rengek Aizawa sambil menahan pergelangan tangan Kurio. Ia bahkan baru mulai bicara. Genggamannya erat seolah mengatakan “Jangan pergi !! jangan pernah temui dia.” Tapi suaranya tak mampu mengatakan kata-kata egois semacam itu.

__ADS_1


Tangan Kurio meraih tangan Aizawa yang menggenggam pergelangan tangannya dengan erat. Berusaha melepaskan genggamannya. Aizawa sangat tahu apa yang akan dilakukan Kurio. Ia melepas genggaman Aizawa untuk bertemu Kanata. Aizawa menggelengkan kepalanya beberapa kali sebagai tanda penolakan. Memaksanya untuk semakin mempertahankan genggamannya. “Aku akan menemuimu setelah aku melihat kondisi Kanata.”


Serasa waktu berhenti. Seolah ia mampu mendengar suara hatinya yang sedang remuk berkeping-keping. Aizawa tidak bodoh. Tentu saja ia tahu jika saat ini ia sedang ditolak. Ia dicampakkan Kurio. Bukankah cinta berarti melakukan segalanya demi orang terkasih? Bukankah cinta selalu mengutamakan orang yang dicintai daripada orang lain? Ataukah teori itu sudah tak berlaku lagi di dunia percintaan? Matanya tak berkedip dan terus menatap punggung Kurio yang berjalan tergesa-gesa bersama bodyguard Kanata. Ya…berjalan meninggalkannya.


__ADS_2