
"Namaku Kanata, calon istri Kurio." Ucap wanita cantik itu di hadapan Aizawa. Ia menjulurkan tangannya yang putih mulus tanpa noda setitikpun.
"Heh?" Antara kurang yakin dengan apa yang ia dengar, ia mencoba memutar kembali telinganya. "Calon...istri...?" suaranya mulai terdengar parau. ia mencoba mengendalikan sedikit emosinya.
"Apa terdengar aneh? Kami sudah bertunangan satu tahun yang lalu. Kemarin keluarga besar sepakat untuk melangkah ke jenjang pernikahan."
Matanya tak terlihat main-main. Sekilas seperti rubah wanita yang memperlihatkan sifat liciknya. Auranya kali ini terlihat jelas sekali. Sangat berbeda dengan saat pertama Aizawa melihatnya. Bagaimana mungkin ia bisa dengan sempurna menyembunyikan sifat asli?
Kurio tak pernah menceritakan apapun tentang Kanata. Atau mungkin memang sengaja disembunyikan? Atau mereka sebenarnya dijodohkan secara paksa?
__ADS_1
"Ahh...tidak. Tidak aneh sama sekali." Aizawa hanya menunduk. Betapa terkejut sekaligus takut merasakan aura membunuh yang keluar dari tubuh wanita super cantik itu. Tangannya cukup gemetar dan ia lupa dengan tujuan awalnya datang ke tempat itu.
"Aku tahu kau bernama Aizawa. Gadis yang kemarin melakukan liburan bersama Kurio di Hiroshima, kan?"
Aizawa mendongakkan kepalanya lagi. Bagaimana bisa ia tahu informasi detail itu? Apa Kurio menceritakan padanya? Bukankah hal yang wajar jika menceritakan segala sesuatu pada tunangan? Apalagi mereka akan menikah. Rasa nyeri membanjiri hati Aizawa. Sakit namun tak berdarah.
Kanata mengenakan blazer berwarna hitam dengan rok mini berwarna senada. Kakinya yang jenjang, kini disilangkan diatas kaki yang lain. High heels hitam yang ia kenakan mungkin tingginya sekitar 10cm. Padahal tanpa heels itu Kanata sudah tergolong tinggi. Sangat berbeda jauh dengan penampilan Aizawa yang mengenakan celana jeans dengan blouse berwarna dusty dan sepatu sneakers polos
"Kau pasti tahu tanpa aku harus mengatakannya lebih jauh, kan?" Kanata melemparkan senyum penuh makna dan menatap Aizawa seolah ia pelaku kejahatan. Tak ingin terlibat terlalu lama dengan percakapan tak berujung ini. Aizawa memilih mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
"Maaf. Aku kesini untuk bertemu Kurio. Aku tidak mengerti dengan apa yang anda bicarakan daritadi. Mungkin anda salah orang." Ucap Aizawa memberanikan diri melawan tatapan mata tajam milik Kanata.
"Kau berani mengalihkan pembicaraan denganku?"
"Maaf. Tapi aku hanya kesini untuk mengembalikan buku kuliah milik Kurio. Aku sama sekali tidak peduli dengan percintaan kalian. Tapi bisakah aku menitipkan buku kuliah ini padamu? Tolong kembalikan pada Kurio. Dia pasti membutuhkannya besok. Terima kasih." Ucap Aizawa berusaha mengelak.
Kanata hanya terdiam. Ia kembali berfikir tentang apa yang sudah ia katakan sejak tadi. Mungkinkah ia salah orang? Apa mungkin informasinya keliru? Aizawa pun segera meninggalkan Kanata yang masih terdiam. Sepertinya ia sedikit syok. Meski masih lebih syok Aizawa mendengar kabar pernikahan itu. Padahal baru kemarin hubungan mereka membaik.
Langkahnya terhenti saat teringat kejadian di malam festival kembang api. Masih bolehkah ia mempercayai kata-kata yang terucap dari mulut Kurio? Hatinya seolah tersayat pisau tajam dan panjang. Aizawa menggenggam cincin pemberian Kurio yang masih terpasang di jari manisnya. Ia harus bisa menemui Kurio dan meminta penjelasannya.
__ADS_1