
“Sudah lama sekali, ya? Maaf menemuimu tiba-tiba.” Ucap Kurodo membuka percakapan dengan sopan.
Tiba-tiba saja Kurodo datang menemuinya tanpa memberitahu apapun sebelumnya. Jika diingat baik-baik wajah Kurodo dan Kurio sangat mirip. Meski Kurodo lebih mirip dengan Ibu Kurio. Sedangkan Kurio lebih mirip Ayahnya.
“Ah, tidak apa. Aku baru saja sampai di Tokyo.” Balas Aizawa dengan sopan juga. Walau mereka pernah bermain bertiga saat masih kecil, bagi Aizawa Kurodo tetap mempunyai kharisma yang berbeda dibanding Kurio.
Kurodo memiringkan kepalanya sambil menatap Aizawa dengan penuh pertanyaan. "jadi kau baru sampai?" tanya Kurodo merasa tidak enak sudah mengganggu waktu istirahat Aizawa. “Ku dengar Kau mengambil cuti kuliah. Apa kau kembali karena pertandingan basket antar Universitas besok?”
__ADS_1
Aizawa tidak suka perasaan ini, atmosfer ini, suasana ini. Tatapan Kurodo seolah menyampaikan sebuah tekanan. Ia pernah merasakan hal ini sebelumnya. Tapi dimana ya? Atau hanya perasaannya saja? “Aku cuti kuliah karena Ibuku sakit. Kemarin keadaannya sudah pulih, jadi aku kembali kesini.”
Kurodo melipat kedua tangannya dan mendekatkan diri ke wajah Aizawa. Membuat Aizawa melakukan gerakan mundur secara refleks. “Apa kau yakin hanya alasan itu? tidak ada alasan lain?"
Aizawa mengangguk sedikit ragu. Ia masih membiarkan Kurodo bicara tentang maksud dan tujuannya menemuinya di kontrakan. “Aku tahu diantara kalian sedang ada masalah tentang Kanata. Saat ini Kurio sedang berusaha memperjuangkan hubungan kalian dengan membatalkan perjodohan dengan keluarga Kanata. Tapi aku yakin Kau sudah sedikit paham kondisinya. Membatalkan perjodohan itu tidak semudah mengatakan kata ‘tidak’ lalu berakhir begitu saja.”
Kurodo tertawa puas mendengarnya. “Kau tahu kan jika besok ada pertandingan antara Universitas Tokyo melawan universitas Hosei? Sebenarnya besok bukanlah pertandingan antara kedua Universitas, melainkan pertandingan antara Kurio dan Yamato.”
__ADS_1
Alis Aizawa berkerut samar. Yamato dan Kurio adalah satu tim. “Bagaimana bisa?”
“Entah dengan kepercayaan apa mereka berdua bertanding memperoleh point terbanyak selama pertandingan besok, untuk memperebutkanmu.” Tambah Kurodo semakin gemas ingin segera menceritakan semua pada Aizawa tentang kebodohan Kurio dan Yamato. Namun, ia harus mengatakannya perlahan atau akan berakhir dengan menyakiti perasaan Aizawa.
“Tidak mungkin. Bukankah mereka satu tim? Kenapa harus bertanding seperti itu? Mereka tidak bilang apapun tentang pertaruhan itu.”
Kurodo mendekatkan kembali wajahnya ke arah Aizawa. Membuat Aizawa melakukan gerakan mundur secara refleks. “Makanya, aku mohon padamu untuk memutuskan secara bijaksana. Aku yakin mereka sadar bahwa keputusan sepenuhnya tetap berada di tanganmu. Ikuti saja kata hatimu. Aku tidak percaya jika mereka masih saja seperti anak-anak. Sungguh pertaruhan yang bodoh.”
__ADS_1
Memutuskan secara bijaksana. Mengikuti kata hati. Apa yang harus dilakukan Aizawa jika kata hatinya sendiri belum ia temukan? Perasaannya masih terasa samar. Ia tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Mungkin malam ini ia takkan bisa tidur atau mungkin mengalami mimpi buruk.