My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 31


__ADS_3

Hati Yamato sakit ketika memutuskan menemani Aizawa menemui Kurio. Rasanya ingin sekali ia mengutuk bibirnya karena mengatakan hal yang diluar kendali hatinya. Tapi melihat Aizawa dari belakang berjalan dengan tempo yang sedikit lebih cepat membuatnya sedikit merasa bahagia. Ia selalu merasa tenang berada di dekatnya. Dulu awalnya ia berfikir jika perasaan nyaman itu sama halnya ketika ia bersama adiknya Megumi. Namun semenjak kembali ke Tokyo, ia menyadari bahwa rasa itu berbeda. Itu bukanlah perasaan seorang kakak terhadap adik perempuannya.


Langkahnya terhenti saat melihat Kurio keluar dari ruang kelasnya. Jantungnya serasa diremas ketika melihat Kurio menyapa Aizawa, dan keduamya saling tersenyum. Ia memilih diam dan mengawasi dari jarak yang dirasa cukup normal untuk mengintai. Oh…mengawasi maksudnya.


Kedua alisnya berkerut samar ketika salah sseorang bodyguard Kanata datang menghampiri mereka. “Apa yang mereka inginkan?” gumam Yamato lebih pada dirinya sendiri. Matanya mencoba membaca situasi yang tengah terjadi. tanpa sadar ia melangkah mendekat untuk mendengar apa yang mereka bicarakan. Aizawa terlihat berusaha menahan lengan Kurio. Masih belum terdengar. Hiruk pikuk mahasiswa saat pergantian jam kuliah memang tak bisa dikalahkan lagi. Yamato melangkahkan selangkah lagi, dan….


“Aku akan menemuimu setelah melihat kondisi Kanata.”

__ADS_1


Itulah yang diucapkan Kurio. Telapak tangannya menggenggam erat saat melihat Kurio dengan teganya melepas genggaman Aizawa dan memilih Kanata. Bukankah itu sudah cukup menjawab semuanya? Kemudian Kurio pergi tanpa menoleh sedikitpun pada Aizawa. Tanpa peduli apa yang dirasakan Aizawa.


Gadis itu tertunduk sambil tetap berdiri. Orang yang dikasihinya, orang yang dicintainya, orang yang diharapkan, justru mengabaikan dirinya. Hanya Yamato satu-satunya saksi perjuangan Aizawa bertemu Kurio. Seberat apa Aizawa melalui semua penantian panjang sebelum memberanikan diri ke Tokyo. Sesakit apa ketika Aizawa harus menerima kenyataan tentang pertunangan Kurio. Bahkan saat ini pandangan Aizawa kosong. Ia seperti sudah kehilangan kesadarannya. Dalam matanya hanya ada Kurio dan Kurio. Tentu….Yamato sudah menyadari dan memahami itu. Membuatnya semakin tak mengerti pada dirinya sendiri yang terus uring-uringan.


“Ai…?” panggil Yamato berusaha mengembalikan kesadaran Aizawa. Ia bahkan masih berdiri dengan tatapan mata yang kosong. Hatinya teriris melihat kenyataan bahwa suaranya pun tak sanggup menggapai hati Aizawa. Yamato mencoba meraih pundak Aizawa. Mencoba meraihnya apapun yang terjadi.


“Tidak apa. Kondisi Kanata jauh lebih penting. Aku bisa pulang sendiri. Mungkin lain kali aku mengajak Kurio.” Ucap Aizawa sambil tersenyum setelah mengerjapkan matanya dua kali. Merasakan kesadarannya belum pulih seutuhnya.

__ADS_1


Yamato menggenggam lengan Aizawa. Khawatir akan jatuh jika ia membiarkan pandangannya masih tetap kosong. “Akan kutemani.”


Kedua mata mereka saling berpandangan. Itulah pertama kali Yamato melihat bayangan dirinya terpantul pada bola mata Aizawa yang berwarna kecoklatan. Demikian pula Aizawa baru menyadari raut wajah khawatir yang terlihat jelas dari wajah Yamato. Ada suatu getaran aneh saat mata mereka saling bertemu. Aizawa buru-buru mengalihkan pandangan. “Tidak apa. Aku hanya ingin sendiri dulu. Aku baik-baik saja. Akan kuhubungi saat sampai disana.”


Yamato memilih menyerah dan membiarkan Aizawa memiliki waktu untuk sendiri. Mungkin ia perlu berfikir dengan jernih tentang kejadian ini. Bahkan ia perlu waktu sendiri ketika kehilangan Megumi. Ia sangat memahami jika Aizawa perlu ruang untuk menata kembali hatinya.


“Aku akan cuti kuliah.”

__ADS_1


__ADS_2