
“Bagaimana jika Kita bersaing secara sportif?” ucap Yamato menawarkan sebuah tantangan pada Kurio. Kali ini ia hanya bisa bertaruh dengan segala kemungkinan dan keajaiban.
“Apa maumu?” kali ini Kurio menyanggupi tantangan Yamato.
“Pada pertandingan basket dua minggu lagi, siapa yang lebih banyak mencetak angka ke dalam ring, dialah yang berhak menyatakan perasaan pada Aizawa. Tentunya yang kalah harus mundur.”
Kurio menyunggingkan senyumnya dengan samar. Ia kembali merebahkan punggungnya di tengah sofa yang sedang ia duduki. “Kuterima tantanganmu asalkan Kau memberitahu dimana Aizawa berada.” Kurio mengambil caramel latte milik Yamato dan meneguknya perlahan. “Tentunya kau tidak ingin menjadikan Aizawa sebagai bahan taruhan, bukan? Meski kita bertarung mati\-matian, tetap saja semua keputusan tergantung pada Aizawa.”
__ADS_1
Bukannya lupa atau tidak tahu, tapi Yamato sangat sadar terhadap posisinya. Itu sebabnya ia berani menantang Kurio tanpa melibatkan perasaan Aizawa. Namun, sejak awal Yamato paham jika semua keputusan tetap berada di tangan Aizawa. Rasanya menyakitkan jika melibatkan Aizawa hanya sebagai barang taruhan. Yamato mengaku kalah dalam perdebatan ini. Ia menghela nafas panjang dan sedikit memejamkan matanya. “Aizawa kembali ke Hiroshima satu minggu yang lalu. Dia mengambil cuti kuliah dalam waktu yang tidak ditentukan.” Ucap Yamato akhirnya menyerah.
“Cuti kuliah?”
“Hanya itu informasi yang kutahu. Entah hanya cuti ataukah keluar dari Universitas Tokyo, aku tak tahu.” Jawab yamato asal ngomong. Dia mulai malas melanjutkan pembicaraan ini. Sekilas ia melirik ke arah Kurio dan mendapati wajahnya pucat pasi seolah sangat terpukul.
Pergi ke luar kota bahkan luar negeri bukan hal pertama bagi Yamato. Setelah kalah dari perdebatan untuk negosiasi dengan Kurio, ia memutuskan mengunjungi Aizawa ke Hiroshima. Sejak berada dalam kereta, ia tak berhenti menghubungi Aizawa. Namun, teleponnya lagi dan lagi tidak bisa tersambung. Apa cuti kuliah juga berarti memutus jaringan komunikasi? Ia mulai gila dengan segala imajinasi tentang kemungkinan terjadi sesuatu pada Aizawa. Buru-buru Yamato menggeleng kepala untuk mengusir prasangka buruk itu. Tapi apa daya, ketika prasangka buruk itu diusir justru muncul prasangka lainnya.
__ADS_1
Cuaca sudah mulai memasuki akhir musim gugur. Udara menjadi semakin dingin. Terkadang di malam hari rasanya sudah seperti berada di pertengahan musim dingin. Yamato merapatkan kembali mantel cokelatnya yang sengaja ia bawa untuk berjaga-jaga dengan udara dingin. Ponsel Aizawa tidak bisa dihubungi sejak kemarin. Entah bagaimana ia seolah mendapat firasat untuk segera menemui Aizawa sebelum Kurio mendahuluinya. Mungkin sebaiknya Aizawa tahu tentang pertaruhan yang disepakati oleh Yamato dan Kurio. Ia sama sekali tidak ingin menjadikan Aizawa sebagia bahan taruhan seperti yang terlihat. Tapi meski begitu, dilihat dari segi manapun tetap saja kelihatannya seperti itu.
Tokaido-Sanyo Shinkansen adalah kereta dengan rute tercepat dari stasiun Tokyo ke Stasiun Hiroshima. Sebenarnya bisa saja ia menanyakan lokasi rumah Aizawa melalui Kurio. Namun, ia terlalu gengsi untuk menanyakan hal yang paling mendasar itu. Mungkin Yamato hanya iri pada Kurio yang sudah pernah berkunjung bahkan menginap di rumah Aizawa. Tak ada yang tahu apa saja yang mungkin sudah mereka lakukan saat itu. Merasa pikirannya sudah mulai kalut, buru-buru ia mengusir prasangka buruk yang mungkin sudah merusak sebagian mood hari ini.
Setelah menghabiskan perjalanan selama 4 jam 26 menit, akhirnya Yamato sampai di Stasiun Hiroshima. Menurut alamat yang ia dapat dari pusat administrasi Universitas Tokyo, rumah Aizawa berada di kota Miyoshi. Yamato menarik tas ranselnya dan mulai berjalan menuju papan informasi yang terletak sebelum pintu keluar stasiun. Sebuah peta besar dengan tampilan seluruh Perfektur Hiroshima beserta rute perjalanan dengan berbagai armada. Menurut peta yang sedang ia baca, untuk menuju kota Miyoshi bisa dengan menggunakan jalur kereta. Tapi karena jadwal yang disediakan hanya tersedia di pagi hari. Sedangkan saat ini sudah hampir sore hari. Yamato menghela nafas panjang dan segera mencari rute lain dengan armada yang terdekat. Mungkin rute menggunakan bus bisa dicoba. Yamato segera meninggalkan stasiun kereta untuk menuju halte pemberhentian bus Hiroshimaeki. Cukup berjalan selama tiga menit dari stasiun Hiroshima. Yamato cukup takjub dengan pemandangan di sekelilingnya. Yang dia ingat Hiroshima yang selalu ada dalam buku-buku sejarah, dimana banyak bangunan hancur dan roboh karena tragedi bom yang menggemparkan seluruh Jepang. Kondisi perekonomian yang lumpuh akibat ledakan bom nuklir. Tapi sekarang, ketika Yamato melihat Perfektur Hiroshima yang sekilas tidak jauh berbeda dengan Tokyo, membuatnya mengernyitkan alis karena tidak percaya jika kota ini pernah lumpuh total.
Pikirannya kembali menerawang. Mengapa Aizawa tidak memilih untuk kuliah di Hiroshima? Mengapa harus di Tokyo? Memang sejak awal tujuannya mengarah pada Kurio. Ia tersenyum sinis kemudian menaiki bus yang ada di hadapannya. Setelah benar-benar mendapat tempat duduk, ia membuka kembali kertas berisi peta Hiroshima. Setelah naik bus ini, ia harus transit di pemberhentian bus menuju Sanji. Barulah ia sampai di Miyoshi. Perjalanan yang cukup memakan waktu dan tenaga. Yamato sedikit memejamkan matanya dan merasakan kenikmatan beristirahat dengan tenang.
__ADS_1