
"Oh, begitu. Baiklah. Terima kasih, ya. Aku sangat terbantu." Ucap Yamato sedang menerima telepon dari seorang teman yang kuliah di Universitas Kyorin.
"Ini." Ucap Aizawa sambil menyerahkan sebotol minuman pada Yamato. Saat ini di Jepang sedang musim semi. Kata orang, musimnya para pasangan memadu kasih. Mungkin jika Kurio ada disini, Aizawa akan menjadi wanita paling bahagia.
"Dapat kabar dari Universitas Kyorin. Disana tidak ada mahasiswa yang bernama Kurio. Tinggal mencari di Seijo."
Serasa mendapat sambaran petir. Baru saja ia diterbangkan dengan harapan bertemu Kurio, tapi sudah dijatuhkan lebih dulu. Bahkan semangat yang tadinya membara, sekarang telah redup lagi. Harus dibawa kemana rasa rindu yang semakin hari semakin tak mengenal arah berlabuh. Ia menatap kembali cincin mainan di jari manisnya. Masihkah janji itu berlaku? Sudah lupakah Kurio tentang janji itu? Rasa sesak menghantui seluruh tubuhnya. Tiba-tiba ia merinding mengingat tinggal satu nama Universitas yang bisa diharapkan. Air matanya seolah ingin menetes saat itu juga. "Kita lanjutkan besok saja, ya? Hari ini aku agak lelah. Aku akan pulang duluan."
Entah Yamato menyadari perubahan sikap Aizawa atau tidak, namun Yamato berusaha menguatkan Aizawa. Perjuangannya belum berakhir. Masih banyak harapan yang bisa digantungkan Aizawa. "Kita akan berjuang lagi besok. Ingat ! Banyak hal yang ingin kau katakan dan kau lakukan bersama Kurio, kan? Bersemangatlah."
Aizawa hanya mengangguk. Benar apa yang dikatakan Yamato. Masih terlalu cepat untuk menyerah. Tapi, untuk hari ini saja....ia ingin diam di rumah dan menangis sepuasnya. Aizawa segera meninggalkan Yamato yang masih ingin bersantai di taman rumah sakit. Aizawa meninggalkan Kunaichou Hospital dan berjalan menuju stasiun Tokyo. Lama perjalanan tersebut sekitar 15 menit dengan berjalan kaki. Meski bisa ditempuh menggunakan bis, Aizawa memilih berjalan kaki. Banyak yang perlu ia pikirkan. Banyak yang perlu ia renungkan. Musim semi dimana seharusnya bunga sakura bermekaran, suasana yang menghangat, terik matahari yang bersinar lebih lama. Aizawa datang ke Tokyo pada akhir musim dingin. Itulah musim yang paling mengenaskan dimana rasa dingin yang 'menggila' menyelimuti seluruh tubuh tanpa terkecuali. Seolah sang matahari enggan menampakan sinarnya selama berbulan-bulan.
Rumah kontrakan Aizawa terletak di Akihabara. Ia sengaja tidak mencari tempat tinggal di pusat kota Tokyo bahkan sedikit menjauh dari kampusnya. Tak ada alasan khusus. Karena memang ia tidak terlalu suka keramaian. Meski begitu, Akihabara merupakan kawasan perbelanjaan dimana banyak para penggemar anime, manga dan elektronik berpusat. Namun, rumah kontrakannya cukup jauh dari pusat kota Akihabara. Jarak tempuh dari stasiun Tokyo ke stasiun Akihabara hanya cukup 5 menit saja. Sangat dekat bukan? Aizawa mengambil kembali kertas yang berisikan daftar Universitas yang sudah ia telusuri selama 3 bulan terakhir ini.
"Universitas Kyorin..............." gumamnya dalam hati sambil tetap berjalan dengan menatap kertas yang ia genggam.
Universitas Kyorin terletak di kota Mitaka, Tokyo. Untuk sampai kesana memakan waktu sekitar 32 menit menggunakan transportasi kereta. Hanya saja di kota itu jauh dari keramaian dan kebisingan kota. Namun, tak ada mahasiswa bernama Kurio disana. Hanya tinggal Universitas Seijou yang tersisa. Membayangkan tak ada lagi harapan yang bisa ia gantungkan, membuatnya sedikit merinding. Pandangannya masih tertuju pada kertas yang ia bawa. Tiba-tiba seseorang menabrak bahunya. Ia pun menjatuhkan kertas yang ia genggam. Seseorang yang menabraknya segera membantu Aizawa memungut kertas yang terjatuh. Seorang pria baik hati.
"Terima kasih. Maaf telah menabrakmu." Ucap Aizawa refleks karena melamun sejak awal. Ia pun menerima kertas yang dipungut oleh pria baik hati tersebut. Mata Aizawa terbelalak saat melihat wajah pria baik hati yang telah membantunya. Perasaan seperti pernah bertemu sebelumnya, membuat Aizawa terdiam sejenak.
__ADS_1
"Tak masalah. Hati-hati." Ucap pria baik hati tersebut sambil melanjutkan kembali berjalan kaki. Meninggalkan Aizawa yang masih terdiam di tempat.
Dimana ia pernah bertemu dengan pria itu? Rasanya seperti tidak asing. Tapi siapa? Aizawa kembali menatap punggung lebar pria itu. Namun, sosoknya perlahan tertutup oleh beberapa manusia lain yang berjalan kaki. Aizawa masih terus berusaha mengingat wajah pria itu. Tangannya menatap kertas berisi daftar Universitas untuk misi mencari Kurio. Itu dia......wajahnya mirip Kurio saat masih kecil. Mungkinkah?
Tanpa berfikir lagi, Aizawa segera mengejar pria itu. Walaupun sudah sedikit berbeda, tapi ia sangat yakin jika pria itu Kurio. Pasti. Ia tak mungkin salah mengenali seseorang. Langkahnya mulai diperlebar. Menerjang dan terus menerobos kerumunan manusia pejalan kaki di kota Tokyo. Dimana? Dimana? Padahal selangkah lagi bisa bertemu. Kemana perginya punggung yang lebar dan tubuh yang tinggi itu? Nafasnya terengah-engah. Tak mungkin ia bisa menemukan Kurio diantara ratusan orang disini.
“Kurio………” gumamnya sambil mengatur kembali nafas yang sempat hilang.
Matanya menyapu seluruh sudut kota di jalanan itu. Bagaimana ini? Mana mungkin bisa menemukan Kurio diantara kerumunan orang disini? “apakah dia sudah melupakanku? Dimana kau, Kurio?” ucap Aizawa dalam hatinya. Tak mampu lagi melanjutkan pencariannya, tiba-tiba ia terpikirkan Yamato. Dia harus tahu tentang hal ini. Sekuat tenaga, Aizawa mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk berlari kembali ke rumah sakit. Saat ini ia hanya bisa bergantung pada Yamato.
Menerobos kerumunan pejalan kaki di kota tidaklah mudah. Apalagi kondisi Aizawa sedang tidak memungkinkan. Tapi, Yamato adalah orang pertama yang harus mendengar kabar ini. Ia kembali berbalik menuju rumah sakit. Seolah rasa pusing yang ia rasakan tiba-tiba saja sirna. Setelah 10 menit berlari, Aizawa akhirnya sampai di halaman rumah sakit.
Ia melihat Yamato sedang berjalan menuju kamar Megumi. Ini masih sempat. Aizawa semakin mempercepat langkahnya. Yamato harus tahu betapa bahagianya meski belum sempat bertemu langsung dengan Kurio.
*********
“Aku senang kau mau datang menjenguk Megumi. Kau sampai rela jalan kaki menembus padatnya manusia di kota Tokyo.” Ucap Yamato menyambut Kurio yang datang dengan nafas yang terengah-engah.
Kurio mengatur nafasnya namun tetap menunjukan sisi keren. Mungkin takdir keren sudah tertanam dalam dirinya sejak lahir. Apapun yang dilakukan dan dalam keadaan bagaimanapun, Kurio tetap saja terlihat tampan dan keren.
__ADS_1
“Sepertinya aku tidak cocok jadi pejalan kaki di Tokyo yang padat manusia. Ini semua gara-gara mobilku tiba-tiba mogok.”
Yamato hanya tersenyum sambil menahan tawanya. “Kau mau menjenguk Megumi, kan? Dia ada di dalam. Masuk aja.”
Kurio pun tidak sungkan-sungkan untuk masuk ke kamar kekasihnya. Tentu saja sebagai calon kakak ipar, Yamato tergolong bebas dalam membiarkan Kurio bertemu Megumi. Yamato sudah sangat mempercayai Kurio. Yamato berencana menemui dokter yang bertanggung jawab pada Megumi. Namun, kedatangan Aizawa merusak rencananya. Ia terlihat setengah berlari menghampirinya.
“Yamatooooo…..!!! aku baru saja melihat Kurio !!!” teriak Aizawa saat mendekati Yamato yang masih setengah terkejut.
Tubuhnya seketika merinding. Mungkinkah Aizawa melihat saat ia berbicara dengan Kurio di depan kamar Megumi? Mungkinkah ia sudah bisa mengingat wajah Kurio yang dicari? “Benarkah? Dimana kau melihatnya?”
“Di jalan. Dia baru saja ada di Tokyo. Aku melihatnya. Aku tidak mungkin salah mengenali. Itu Kurio yang kukenal.” Ucap Aizawa dengan sinar mata yang penuh keyakinan. Kali ini ia benar-benar yakin jika itu Kurio.
Ada sekilas ekpresi yang menunjukan Yamato tidak menyukai keadaan ini. “Kita lanjutkan pencarian besok, ya? Bukankah sekarang Kamu ada kuliah?” tanya Yamato berusaha mengalihkan perhatian Aizawa. Ia jelas-jelas tidak ingin mempertemukan Aizawa dengan Kurio. Tidak. Tidak secepat ini.
“Oh. Benar juga. Apa Megumi di dalam?” ucap Aizawa tiba-tiba teringat jadwal kuliah yang sudah ia lupakan.
“Ada. Dia sedang bersama kekasihnya.” Ucap Yamato datar. Sejuta kali sudah ia katakana dalam hatinya jika Kurio yang ada di dalam kamar inap Megumi, bukanlah Kurio yang dicari Aizawa.
“Oh.” Ucap Aizawa sambil mengangguk. Ia mengerti maksud Yamato. Segera ia berpamitan karena jadwal kuliahnya sudah menanti.
__ADS_1