
Esoknya, seperti takdir yang mempertemukan mereka di sebuah kantin kampus. Sebelumnya Aizawa tak pernah sekalipun melihat Yamato di kantin. Tapi kenapa? Aizawa yang sudah tertangkap basah, berusaha melarikan diri. Kali ini Yamato tak akan melepaskannya lagi.
"Tunggu !! Kau harus tanggung jawab telah meninggalkanku sendirian dan membuatku tersesat di tempat itu." Yamato menahan tangan Aizawa yang berusaha kabur. Genggaman tangannya sangat erat bahkan ketika Aizawa mengelak sedikit saja, bisa menimbulkan cidera.
"Mana mungkin kau tidak tahu tempat itu!!! Bukankah kau orang Tokyo asli?!" Aizawa mulai menyangkalnya. Dahinya berkerut seketika karena sangat ingin melarikan diri dari Yamato.
"Tapi aku tak pernah sampai pelosok seperti itu. Kau harus tanggung jawab."
Semua mata tertuju pada Yamato dan Aizawa yang terlihat sedang memainkan sebuah drama. Merasa tak nyaman dengan tatapan aneh di sekitarnya, Aizawa segera mengakhiri drama diantara mereka. "Baiklah. Aku harus apa?" Ucap Aizawa kesal. Bahkan tangannya masih digenggam erat oleh Yamato. Seolah tak ingin melepasnya sedetikpun.
__ADS_1
"Kau bilang sedang mencari seseorang. Mungkin saja orang itu salah satu temanku di klub basket nasional. Atau mungkin satu fakultas denganku. Mungkinkah dia teman lamaku? Tidak ada yang tahu, kan? Aku punya jaringan pergaulan yang luas untuk mencari dimana pacarmu itu." Jelas Yamato dengan gayanya yang sok keren.
Jika dipikirkan kembali, memang tak ada salahnya meminta bantuan seseorang seperti Yamato. Apa yang dikatakannya mungkin saja benar. Dia anggota inti klub basket nasional, pasti jaringan pergaulannya luas. Dia pasti bisa membantu.
"Kenapa kau membantuku? Kau tidak bermaksud balas dendam padaku, kan? Atau jangan-jangan kau mengajakku kencan kemudian kau membawaku ke tempat gelap dan asing lalu meninggalkanku begitu saja?"
Kali ini giliran Yamato mengernyitkan dahinya. Kenapa sulit sekali meyakinkan gadis ini? Yamato menarik Aizawa untuk duduk di salah satu bangku kantin. Ia merasa pembicaraan ini akan lama dan tentu saja agar tak menarik perhatian mahasiswa yang lain. Yamato menarik nafas dalam sebelum melanjutkan pembicaraan.
Suasana kantin kala itu terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Entah apa yang membuat kali ini terasa heboh. Aizawa melihat sekelilingnya sekilas. Beberapa pasang mata wanita menatapnya dengan tajam. Seolah ingin menerkamnya hidup-hidup. Apa yang salah dengannya? Yamato masih terdiam. Sepertinya sedang memikirkan akan mengatakan apa nantinya. Wajah Yamato terlihat sedih. Apa ini bagian dari akting?
__ADS_1
"Sebenarnya sudah 2 tahun ini adikku dirawat di rumah sakit. Fisiknya sangat lemah dan sakit-sakitan. Ia bahkan sudah berhenti sekolah karena kondisi yang tidak memungkinkan. Dia bahkan tidak punya teman lagi."
Meskipun cerita itu hanya kebohongan, Aizawa terlihat simpati dengan cerita Yamato. Tapi tidak mungkin jika sebuah kebohongan terasa menyedihkan seperti ini. Hal itu pasti sangat berat untuk Yamato. “lalu, apa yang bisa kulakukan?”
“aku ingin kau menjadi teman adikku. Dia hanya satu tahun lebih muda darimu. Aku yakin kau bisa berteman baik dengannya. Sebagai gantinya, akan kubantu kau mencari pacarmu itu.” Ucap Yamato sangat yakin bahwa kesepakatan diantara mereka akan menemukan titik tengah.
“bisa aku bertemu dengan adikmu?”
“tentu. Pulang kuliah aku tunggu di depan gerbang.”
__ADS_1
“oke.”