
Aizawa berdiam diri di depan cermin di dalam toilet. Sepertinya ia berusaha berbicara pada hati nuraninya sendiri. Kurio dan Megumi bertunangan sejak dua tahun yang lalu? Kata-kata itu terus bergema dalam kepalanya. Berputar-putar secara teratur namun menyakiti jiwanya.
"Itulah alasannya." Ucap Aizawa pada dirinya yang terpantul di cermin. Meski sudah terucap berkali-kali, rasanya masih belum bisa dipercaya. Kenapa tidak memberinya kabar? Mengapa harus disembunyikan? Tak ada artinya apapunkah ia bagi Kurio? Berapa kalipun ditanyakan, pertanyaan itu tetap menyakitkan baginya.
Aizawa menepuk pipinya beberapa kali untuk menguatkan hatinya. Ia masih harus kembali ke kamar Megumi dan melihat hal yang sesungguhnya tak ingin terlihat olehnya. "Harus kuat." Ucapnya berusaha bersikap tegar. Ia pun keluar dari toilet dan berjalan linglung menuju kamar Megumi. Meski sudah ratusan kali mengatakannya dalam hati, tetap saja tak semudah yang diucapkan. Wajah seperti apa yang harus ia perlihatkan di depan mereka? Smile mask? Happy mask? Angry mask? Aizawa menghela nafas panjang.
Kurio berdiri di depan pintu kamar Megumi. Apa yang dia lakukan disitu? Langkah Aizawa perlahan mendekati kamar Megumi. Saat itu juga, Kurio melihat ke arah Aizawa. Seolah sengaja menunggunya diluar.
"Kau sudah mendengarnya tadi, kan?" Ucap Kurio sambil maju dua langkah ke arah Aizawa. "Aku dan Megumi sudah tunangan dua tahun lalu. Itulah alasanku menghilang dari kehidupanmu."
Aizawa langsung menutupi tangan kirinya. Menutup jari manis yang tersematkan cincin mainan pemberian Kurio delapan tahun yang lalu. Ia tak bisa berkata apapun untuk menyangkal kenyataan tersebut.
"Kau sudah mengerti, kan? Itu hanya janji konyol yang diucapkan seorang anak kecil. Apa kau ini bodoh semudah itu percaya pada janji anak kecil yang bahkan belum tahu apapun tentang kejamnya dunia."
"Ya. Kau benar. Itu hanya sebuah omong kosong anak kecil, kan? Tidak seharusnya aku mempercayai hal itu." Ucap Aizawa mencoba memotong kata-kata Kurio. Terlalu menyakitkan jika sampai dilanjutkan.
__ADS_1
"Aku mencintai Megumi. Kurasa itu sudah cukup untuk membuatmu berhenti mengejar pria brengsek sepertiku." Ucap Kurio sambil berbalik. "Jangan pernah katakan apapun tentang masa lalu itu pada Megumi. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya."
Aizawa bergidik. "Mana mungkin aku melakukan hal sejahat itu pada Megumi? Setidaknya aku masih punya rasa manusiawi."
"Baguslah kalau begitu." Ucap Kurio langsung masuk ke kamar Megumi. Namun tidak dengan Aizawa. Perlu waktu baginya untuk mengatur ulang perasaannya saat ini. Ditahan berapa kalipun, tak ada artinya jika tidak diluapkan. Aizawa menangis tanpa suara di depan kamar Megumi. Cahaya sore itu, tampak samar di wajah Aizawa. Membuat air mata yang membasahi pipinya terlihat berkilauan. Rasa sakit itu akan lebih baik jika diluapkan melalui tangisan. Seperti ini rasanya dicampakkan. Seharusnya ia sudah siap sejak menginjakan kaki di kota Tokyo. Seharusnya ia sudah mempersiapkan hal buruk seperti ini. Namun, Aizawa selalu beranggapan bahwa tidak ada yang berubah. Kurio tetaplah seorang anak kecil baik hati dan lembut yang dengan yakin mengucapkan janji konyol. Janji yang hampir setiap hari dipegang teguh oleh Aizawa. Janji yang pada akhirnya hanya sekedar omong kosong. Aizawa melupakan fakta bahwa delapan tahun bisa saja merubah kehidupan seseorang secara drastis.
Tiba-tiba Yamato keluar dari kamar rawat Megumi. Ia terlihat sedikit panik. Kurio segera menyusul di belakang Yamato. Wajah mereka berdua terlihat panik. Mungkin terjadi sesuatu.
"Aizawa, bisa aku minta tolong padamu untuk menjaga Megumi sebentar? Aku dan Kurio harus ke kantor karena ada sedikit masalah." Ucap Yamato sambil mengemasi beberapa barang.
Beberapa tahun terakhir ini, selain kuliah Yamato juga bekerja di sebuah perusahaan dimana Kurio yang menjalankan bisnisnya. Sejak kedua orangtuanya meninggal, hanya Yamato satu-satunya yang bisa diharapkan sebagai tulang punggung. Ia juga harus membiayai pengobatan Megumi yang tidak sedikit. Itu sebabnya ia bekerja membantu Kurio di perusahaannya.
"Kami tidak akan lama. Ayo, Kurio." Mereka berdua segera pergi meninggalkan Aizawa bersama Megumi berdua di kamar.
Sejujurnya rasa canggung masih menyelimuti Aizawa. Baru saja beberapa menit yang lalu ia dicampakkan Kurio. Ia bahkan belum menangis. Atau memang tidak bisa menangis. Aizawa berjalan mendekat ke arah Megumi. Ia terlihat mencemaskan kakak satu-satunya itu. "Apa kau sudah selesai membaca novel-novel itu?" Aizawa mengambil salah satu novel yang tergeletak di ranjang Megumi.
__ADS_1
Megumi hanya diam. Baru kali ini Aizawa melihatnya murung. Ia meraih tangan kanan Megumi dengan lembut. "Jangan khawatir. Yamato itu pria yang kuat dan tangguh. Ia pasti akan baik-baik saja. Yang harus kau pikirkan adalah cepat sembuh. Kau bilang....ingin segera menikah, kan?" Ingin rasanya Aizawa mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia justru mendukung saingannya??
"Kau benar. Aku harus sembuh. Banyak yang ingin kulakukan jika sudah sembuh. Kau tahu, Ai-nee chan? Yamato-nii sangat keren saat di tengah lapangan basket. Tentu saja Kurio juga keren. Tapi, Yamato-nii tetap yang paling keren. Kau jangan bilang-bilang Kurio, ya? Dia suka cemburu." Ucap Megumi menceritakan semuanya panjang lebar dengan ceria. Aizawa juga ikut tersenyum mendengar hal itu. Meskipun sebagai saingan cintanya, Aizawa tetap tak tega menyakiti Megumi.
"Apa kau pernah menonton pertandingan mereka?"
"Aku melihatnya. Tapi, itu adalah rekaman yang khusus dibuat oleh Yamato-nii." Ucap Megumi sambil mengambil gadget miliknya dan menunjukan sebuah rekaman video pada Aizawa. "Aku ingin sekali melihatnya secara langsung dari bangku penonton. Pasti sensasinya berbeda."
Aizawa melihat video itu dengan baik. Memang benar jika rekaman itu dibuat khusus untuk menunjukan penampilan Yamato. Mungkin saja manager mereka yang merekam video itu. Meski video itu dibuat khusus untuk menampilkan Yamato, sosok Kurio terekam entah sengaja atau tidak. Rasanya seperti mimpi bisa bertemu Kurio. Meskipun kenyataan tak seindah harapan yang dibayangkan.
"Kau ingin melihat permainan Yamato secara langsung, ya?"
Megumi mengangguk dengan mantap. Auranya yang bersemangat terpancar melalui senyumnya. "Kau harus sembuh dulu." Aizawa mengusap kepala Megumi dengan lembut. Meski saingan cintanya, selisih usia diantara mereka hanya 3 tahun.
Megumi hanya merengut. "Hei, Ai-nee, jika...jika aku tak sempat melihat permainan Yamato-nii secara langsung, maukah kau merekamnya untukku? Aku ingin sekali melihatnya."
__ADS_1
Aizawa hanya tersenyum. "Kau pasti sembuh dan melihat Yamato serta Kurio bertanding di lapangan basket."
Entah semua itu semacam pertanda atau bukan. Namun, Aizawa sedikit menyadari memudarnya senyum di wajah Megumi.