
Hampir setiap hari Aizawa datang menjenguk Megumi di rumah sakit. Bukan untuk maksud apa-apa. Bagi Aizawa, sosok Megumi sangat memberikannya inspirasi dan motivasi. Sejak pertemuan pertama mereka, seolah merasa mendapatkan charging, semangat Aizawa untuk mencari kembali sosok Kurio terisi penuh. Aizawa kembali mencari di beberapa Universitas di Tokyo. Meski rasanya hampir mustahil, ia selalu teringat sosok Megumi yang tetap semangat melawan penyakit yang telah menggerogotinya.
Hari ini pun, Aizawa menyempatkan untuk menjenguk Megumi sebelum pergi untuk mencari Kurio. Kali ini, ia membawa beberapa album masa kecilnya. Megumi sempat penasaran dengan masa kecil Aizawa.
"Hari ini kau terlihat senang sekali. Ada kabar baik apa?" Tanya Aizawa sambil mengeluarkan beberapa album foto dari dalam tasnya.
"Kemarin...akhirnya setelah 3 minggu tidak ketemu, pacarku datang menjenguk. Dia membawakan beberapa novel terbitan terbaru. Aku senang sekali, Ai-nee chan." Megumi terlihat lebih bercahaya daripada kemarin. Seolah mendapat pencerahan.
"Sepertinya dia sangat menyayangimu." Ucap Aizawa turut bahagia melihat senyum Megumi yang merekah indah. Betapa bahagianya dicintai seperti itu. Ia pun juga ingin tersenyum bahagia seperti Megumi yang dicintai kekasihnya.
Megumi hanya memiringkan kepalanya menyadari ada senyum kesedihan dibalik wajah Aizawa. "Apa Ai-nee chan benar-benar bukan kekasih Yamato-nii chan?"
Aizawa tersentak. Ia tak menyangka jika Megumi sampai berfikir sejauh itu. Aizawa pun tersenyum menanggapi ucapan Megumi. "Kami hanya berteman. Kami bahkan baru kenal beberapa hari."
Raut wajah kecewa terlihat di wajah Megumi. Betapa ia sangat menginginkan kakak satu-satunya itu bahagia. Tapi, tak mungkin juga memaksakan perasaan pada orang lain. "Apa kau sudah punya kekasih? Padahal kalian sangat serasi."
__ADS_1
Aizawa hanya tersenyum. Tangannya meraih kedua tangan Megumi yang dihiasi selang infus setiap harinya. Jauh dalam lubuk hati, ingin sekali ia mengabulkan keinginan Megumi. Tapi, rasanya itu mustahil. Karena tujuannya datang ke Tokyo adalah untuk menemukan Kurio. "Aku....mencintai seseorang. Namun, aku kehilangan kontak dengannya. Aku sedang mencarinya."
Megumi terdiam. Seolah ia merasakan semua rasa kesepian yang dialami Aizawa. Telapak tangan yang menggenggam tangannya terasa mengalirkan rasa kesepian yang terpendam. Megumi tak bisa membayangkan dengan perasaan seperti apa Aizawa berusaha mencari kekasihnya sendirian.
"Apa....kau selalu mencarinya setelah dari sini?"
"Hm."
"Setiap hari?"
"Hm."
Aizawa hanya melempar senyum lembutnya. Betapa murni hati Megumi. Wajar saja jika Yamato sangat menyayangi adik satu-satunya. "Tetaplah tersenyum. Kau tahu, senyummu membuatku kembali bersemangat mencari orang yang kusayang. Jadi, tetaplah tersenyum untukku."
Megumi mengangguk. Mungkin sudah waktunya bagi Aizawa untuk pulang. Ia harus melanjutkan pencariannya. Hanya tersisa beberapa Universitas yang belum dicari olehnya. Berat rasanya. Apa yang harus ia lakukan jika sampai tak menemukan Kurio di Tokyo? Ia harus mencari di belahan dunia mana? Haruskah ia menyerah?
__ADS_1
*************
Sudah hampir satu minggu Yamato tidak melihat Aizawa di kantin. Ia juga selalu bersimpangan saat menjenguk Megumi di rumah sakit. Ia tak tahu lokasi tepat rumah kontrakannya. Bahkan Yamato pernah sengaja menyusup ke fakultas Aizawa. Namun ia hanya bertemu dengan tiga orang temannya yang datang ke acara blind date bersama Aizawa. Perasaan aneh menyelimuti hatinya. Rasa khawatir bercampur ingin bertemu yang kemudian terluapkan melalui sebuah emosi, dan akhirnya berakhir dengan sebuah pertanyaan "apa yang akan dilakukan jika akhirnya bertemu?"
Apakah mungkin Aizawa masih melanjutkan mencari keberadaan seseorang yang disebut "Kurio" itu? Jika memang benar seperti itu, sudah sampai dimana ia mencarinya? Pertanyaan demi pertanyaan itu berputar di sekitar kepala Yamato. Terus dan terus bergerak memutar sampai akhirnya saling bertabrakan. Tak sanggup lagi melanjutkan pikiran anehnya, Yamato memilih untuk menjenguk adiknya di rumah sakit. Hari ini Kurio sibuk dengan beberapa klien yang harus ia tangani. Bahkan belum lulus kuliah namun sudah bisa menghasilkan pendapatan sendiri. Yamato merasa bangga berteman dengan orang sepertinya.
Beberapa suster dan dokter sudah akrab dengan sosok Yamato yang setiap hari mondar-mandir di rumah sakit. Selain karena wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang atletis, Yamato juga dikenal sebagai sosok yang ramah dan pribadi yang lemah lembut. Pemain inti klub basket nasional Jepang memang banyak menarik perhatian khususnya kaum perempuan. Meski begitu, tak membuat Yamato bersikap sombong dan angkuh.
Langkahnya terhenti beberapa meter dari kamar Megumi. Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Bukankah hari ini bukan jadwalnya kontrol? Siapa yang menjenguknya? Sosoknya perlahan keluar dari kamar Megumi. Ia mengenakan sepatu boots berbahan suede dan rok mini berbahan denim tebal. Blouse dengan motif bunga tampak membalut seluruh tubuhnya. Sangat feminine dengan rambut spiral ikal ke belakang. Mata Yamato tak berhenti berkedip saat melihat seorang gadis keluar dari kamar Megumi. Tidak salah lagi. Itu gadis yang ia kenal beberapa hari yang lalu. Seorang gadis yang sudah membuatnya lelah karena memikirkannya. Seorang gadis yang selalu membuatnya khawatir akhir-akhir ini selain Megumi. Seorang gadis yang menyita perhatiannya beberapa hari ini. Tidak salah lagi, itu Aizawa. Tanpa berfikir lagi, tanpa keraguan lagi, Yamato melangkahkan kakinya mengejar Aizawa. Dalam hatinya seolah berbisik "tak akan kulepaskan lagi."
Tangannya berhasil menggapai tangan Aizawa. Ekspresi terkejut langsung ditunjukan oleh Aizawa. Ekspresi yang sama juga ditunjukan oleh Yamato. Mata mereka bertatapan saat Aizawa berbalik. Rasa rindu itu serasa melebur ke dalam matanya. Rasa cemas, khawatir dan takut yang selama ini dirasakan Yamato seolah lenyap saat menatap mata Aizawa. "Yamato?"
Yamato tersentak dari lamunannya. Mungkin, pertanyaan yang sebelumnya sempat terlintas di benaknya, kini akan mendapat sebuah jawaban. "Apa yang akan kau lakukan jika bertemu?" Mungkin, sudah saatnya Yamato menjawabnya.
"Aku.....aku minta maaf atas perlakuanku sebelumnya. Aku sudah bersikap kasar padamu. Tidak seharusnya aku mengatakan hal itu. Aku benar-benar minta maaf." Ucap Yamato sambil sedikit menundukan kepalanya.
__ADS_1
"Tak masalah. Aku tak memikirkan hal itu. Lupakan saja.