My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 11


__ADS_3

"Kau....Kurio, kan??" Teriak Aizawa tak peduli sekarang ini berada dimana. Kali ini ia yakin jika cowok yang ada di hadapannya ini adalah Kurio.


Kurio sedikit menunduk. Tampak ia sedikit memejamkan matanya. "Siapa, ya? Apa kita pernah bertemu?"


Bagaikan mendengar sambaran petir dari lubuk hati Aizawa. Tidak mungkin jika Kurio lupa tentangnya. Tidak. Mungkin ia hanya lupa wajahnya. Bukankah sudah 8 tahun berlalu? "Aku Aizawa. Teman masa kecilmu dari Hiroshima. Aku kesini untuk menemuimu."


Kurio menggertakkan gigi-giginya. Mengepalkan telapak tangannya. "Aku sama sekali tidak mengenalmu. Memangnya untuk apa kau menemuiku?"


"Bohong. Kau bohong, kan? Aku yakin kau Kurio yang kucari. Lihat !! Aku masih menyimpan cincin yang kau berikan. Bukankah kau berjanji untuk menemuiku saat kita berusia 18 tahun?" Ucap Aizawa menjelaskan semuanya. Tangannya gemetar saat berusaha meraih tangan Kurio. Namun, Kurio menepis tangan Aizawa.


"Sudah kubilang aku tidak mengenalmu!!" Teriak Kurio langsung pergi meninggalkan Aizawa dan Yamato disana. Bahkan sampai saat-saat terakhir pun Kurio sedikitpun tak menatap Aizawa.


Aizawa tak tinggal diam begitu saja. Ia yakin sekali pasti Kurio hanya sedikit lupa tentangnya. Itu hal yang wajar mengingat mereka berpisah selama 8 tahun, bukan? Aizawa segera mengejar Kurio kembali. Pasti ada cara untuk bisa membuat Kurio mengingat tentangnya. Tak bisa membiarkannya begitu saja, Yamato ikut mengejar Aizawa. Entah apa yang terjadi tapi sejenak mereka melupakan tentang kondisi Megumi.


Sore itu, memang situasi di rumah sakit terlihat sedikit sepi. Bahkan sinar matahari senja yang masuk melalui kaca rumah sakit terlihat sangat menawan. Membiaskan sinarnya yang terlihat seperti pelangi pada beberapa dinding di rumah sakit. Aizawa berhasil meraih tangan Kurio dan mencegahnya untuk pergi. Sinar matahari yang masuk melalui kaca jendela membuat pandangan Aizawa sedikit samar. Kilauan cahaya sore menutupi hampir sebagian besar yang ada di sekitar mereka. Meski begitu, sedikitpun Aizawa tak merasa ragu pada apa yang ada di hadapannya. Ia sangat yakin jika cowok itu adalah Kurio, cinta pertamanya. Merasa ini adalah tentang masa lalu mereka, Yamato tak berniat mendekat lebih dari yang ada. Ia hanya berharap Aizawa dan Kurio bisa menyelesaikan semua ini.

__ADS_1


Kurio menarik tangan Aizawa dan memojokkan Aizawa ke dinding. "Harus kukatakan berapa kali? Apa aku harus menjelaskan secara detail? Aku tidak ingin bertemu denganmu, Aizawa !!"


Mata Aizawa terbelalak. Kali ini benar. Ia memang Kurio yang selama ini dicari. "Apa maksudmu? Lalu bagaimana dengan janji yang kau ucapkan dulu? Bagaimana dengan cincin ini? Aku sengaja datang kesini untuk ini." Nada bicaranya mulai bergetar.


"Apa kau ini bodoh? Itu hanya sebuah janji yang diucapkan seorang anak kecil yang belum tahu apapun. Itu hanya janji konyol. Kau berharap pada janji tak berguna itu? Lagipula, kau ini benar-benar bodoh. Masih saja menyimpan cincin mainan yang bahkan bagiku tak ada artinya sedikitpun."


"Bohong."


"Dengar, ya. Aku sama sekali tidak ingin bertemu denganmu. Jadi, kau bisa kembali ke Hiroshima sekarang juga. Karena tak ada artinya kau menagih janji konyol itu padaku." Ucap Kurio akhirnya melepaskan tangan Aizawa. Meninggalkannya pergi.


Kali ini Aizawa tak lagi mengejar Kurio. Matanya berkaca-kaca. Tangannya gemetar namun, ia masih bersikap kuat. Masih tak bisa dipercaya. Semua perjuangan mencari Kurio berakhir sia-sia. Delapan tahun ia selalu menunggu dan mencintai Kurio, namun harus berakhir seperti ini. Lalu, harus kemanakah perasaan yang selama ini ia rasakan? Tak berarti apapun kah?


"Aizawa....."


"Katakan jika tadi itu bohong. Kurio tak ingin bertemu denganku? Bagaimana ini? Bahkan rasa rinduku belum tersampaikan sedikitpun padanya." Air mata yang sejak tadi ditahan, kini tumpah juga.

__ADS_1


Yamato memeluk Aizawa erat. Menahan tubuhnya yang terlihat rapuh dan siap jatuh kapanpun. Bahkan Yamato sampai tak tahu harus mengatakan apa untuk membuat Aizawa bangkit kembali. Tanpa kata, tanpa suara. Hanya terdengar isak tangis yang terdengar menyedihkan di telinga Yamato. Ia bahkan takut untuk melepaskan pelukan itu dan melihat tangisan Aizawa yang ditujukan untuk orang lain. Ia Tak menyangka sedikitpun jika sahabat dekatnya adalah orang yang sedang dicari Aizawa selama ini. Meski dengan alasan apapun, perlakuan Kurio tadi benar-benar tak termaafkan.


*********


Mata Aizawa terus dan terus menatap jalanan lewat jendela mobil. Berkutat dengan pikirannya sendiri. Sejak menangis di rumah sakit sampai sekarang, ia belum bicara sedikitpun. Yamato memutuskan untuk mengantarkan Aizawa pulang meskipun ia masih mengkhawatirkan kondisi Megumi. Tapi, kondisi gadis disebelahnya jauh lebih mengkhawatirkan. Meski tampak biasa, ia bisa saja hancur begitu saja. Tangan yang tadi sempat digenggam Kurio, sejak tadi selalu gemetar.


Aizawa menatap sepanjang jalanan. Bertanya pada dirinya sendiri. Mengapa harus diciptakan jalan? Mengapa toko-toko di sepanjang jalan itu harus buka? Mengapa anak kecil berlarian? Mengapa ibu-ibu berbelanja? Mengapa burung-burung terbang? Mengapa mobil berjalan? Mengapa orang-orang berjalan kaki? Mengapa kaki manusia ada dua? Mengapa langit itu diatas? Dan sejuta pertanyaan konyol lainnya. Sepertinya sebagian otaknya sedang mengalami kerusakan.


"Sejak kapan....kau mengenal Kurio?" Tanya Aizawa akhirnya membuka suara setelah pusing dengan pertanyaannya sendiri. Matanya masih terus menatap jalanan itu.


Yamato hanya melirik Aizawa sesekali. Khawatir jika tiba-tiba menangis histeris. "Kami satu kelas saat SMP. Sejak saat itu, kami terpilih untuk masuk tim basket nasional Jepang. Meski baru junior, tapi Kurio selalu berada satu tingkat diatasku. Entah itu segi akademis, olahraga maupun yang lainnya."


Kali ini Aizawa melepas pandangannya dari jendela. Mencoba memfokuskan pada cerita Yamato tentang Kurio. Meski sudah diperlakukan sejahat itu, tak ada sedikitpun niat membencinya.


"Meskipun begitu, aku tak pernah berniat untuk mengalahkannya. Sampai hari ini, setelah kejadian tadi, untuk pertama kalinya aku berniat untuk mengalahkannya." Ucap Yamato tetap fokus mengemudikan mobilnya. Wajahnya tampak serius saat mengucapkan kata-kata terakhir. Yamato menarik nafas dalam dan perlahan, kemudian menghembuskannya perlahan. Seolah membuang beban berat dalam hidupnya. "Aku yakin Kurio tak berniat sedikitpun melakukan hal kejam seperti itu padamu. Pasti ia punya alasan sendiri. Percayalah dan terus mencoba meyakinkannya."

__ADS_1


Akhirnya wajah Aizawa terlihat bersemangat lagi berkat Yamato. Memang benar. Ia sudah bertemu Kurio, tapi bukan berarti sampai disini saja, kan? Bukankah cinta butuh perjuangan? Ia bahkan belum berjuang apapun untuk Kurio. Ini baru awal dari perjuangan.


Ya, memang benar jika baru kali ini Yamato berniat untuk mengalahkan Kurio setelah sekian lama mereka bersahabat. Namun, entah hal ini merupakan keberuntungan ataukah kesialan bagi Yamato. Tak ada seorangpun yang bisa menebak. Apapun yang terjadi, tak ada pilihan lain bagi Yamato selain menyembunyikan perasaannya.


__ADS_2