
Pusat kota Hiroshima memang tidak jauh berbeda dengan pusat kota Tokyo. Sama-sama ramai dengan hiruk-pikuk manusia yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Kota Miyoshi, tempat kedua orangtuanya tinggal adalah tempat wisata yang cukup jauh dari pusat kota. Pemandangan dan udara yang masih terasa segar dan sejuk menambah kerinduan Aizawa untuk kembali menetap disini. Tempat ini jauh lebih tenang. Tidak ada lagi gedung pencakar langit, lautan manusia di jalan raya, serta kemewahan yang sengaja dipamerkan untuk memperlihatkan status sosial. Ia merasa muak dengan kondisi itu.
Kepulangan Aizawa langsung disambut meriah oleh Ibunya yang sudah menunggu di luar. Wajah bahagia tersirat sangat jelas di raut wajahnya.
“Kenapa Ibu menunggu di luar? Bagaimana kondisi Ibu? Apa sudah enakan?” serbu Aizawa sesaat setelah turun dari mobil. Ia bahkan melupakan tas kopernya.
__ADS_1
“Ibu langsung sembuh seketika mendengar kamu akan pulang. Dimana Kurio? Apa dia tidak ikut? Bukankah Ibu menyuruhmu membawa Kurio?”
Apa Aizawa akan berkata bohong lagi? Ini benar-benar berat. “Kurio sibuk dengan perusahaannya. Jangan ganggu dia.” Ucap Ayahnya datang sambil membawa koper Aizawa. Sedikit banyak ia bersyukur karena tak perlu lagi berkata bohong dan menambah deretan dosa kebohongannya. Ada raut wajah kecewa terlintas di wajah Ibunya. Tapi kemudian, Ayah mengajak untuk masuk dan menikmati makan malam.
*******
__ADS_1
Kanata hanya mengalihkan pandangannya. Acuh pada tumpukan kertas yang pasti isinya adalah hasil laboratorium dan medical check up. Bukan hal yang sulit bagi Kurio mendapatkan hasil cek kesehatan yang asli. Ini adalah rumah sakit dimana Megumi pernah dirawat selama tiga tahun. Seharusnya ia tak memilih rumah sakit ini untuk tempat menginap. Kurio memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. Pusing karena meladeni Kanata yang berpura-pura sakit dan menghebohkan banyak orang.
“Aku kesepian karena kamu hanya sibuk bekerja.” Rengek Kanata dengan nada bicara yang dibuat manja. Sesungguhnya ia sudah bosan tinggal disini. “Hei, kenapa kita tidak pindah ke Korea? Kita bisa menikah disana. Kau bisa bertukar hak milik dengan perusahaan Kurodo di Korea.” Ucap Kanata langsung menyerobot tanpa melihat kondisi mood Kurio.
Kurio hanya menghela nafas panjang. Tidak habis pikir dengan kelakuan Kanata yang bahkan pura-pura sakit untuk bisa mendapat perhatian dari Kurio. Ia bahkan harus mengorbankan Aizawa. Bicara tentang Aizawa, Kurio teringat perjumpaan terakhir kemarin dengan Aizawa. Sepertinya ada yang ingin disampaikan olehnya. Beberapa hari ini Kurio disibukkan dengan pekerjaan kantor yang membutuhkan persetujuannya sebagai direktur. Banyak proyek baru yang membuatnya terpaksa harus turun tangan langsung. Belum sempat melihat Aizawa di kampus.
__ADS_1
Kanata turun dari tempat tidurnya dan menghampiri Kurio. “Kau ingin kita segera menikah, kan? Aku tidak mau Kau sampai jatuh ke pelukan wanita lain. Kemarin Megumi, sekarang Aizawa. Sudah cukup bermainnya.”
Jika bukan karena hutang budi, sudah dari kemarin Kurio meninggalkan wanita di sampingnya ini. Mungkin seperti inilah politik. Pernikahan demi sebuah kepentingan. Perusahaan Kurio pernah berhutang budi dengan perusahaan Kanata. Demikian pula sebaliknya, Perusahaan Kanata membutuhkan perluasan cabang ke berbagai negara termasuk Jepang. Mungkin beginilah arti dari simbiosis mutualisme. Dan sebuah pernikahan menjadi sebuah pengikat yang mutlak atas perjanjian kesepakatan kontrak yang tertuang hitam diatas putih.