My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 44


__ADS_3

Babak terakhir telah dimulai. Kurio bisa bernafas lega karena selisih poin yang ia kumpulkan cukup untuk membuat Yamato goyah. Poin yang dikumpulkan Yamato berbeda jauh dengan poin Kurio. Meski sudah mencoba melakukan three point, tetap saja dalam hal stamina, Kurio unggul diatas Yamato. Setiap kali Yamato memasukkan three point, Kurio selalu membalas dengan dua kali dunk. Kali ini Yamato benar-benar kewalahan. Tapi ia selalu bangkit lagi setiap kali teringat pertaruhan mereka.


Ya…siapa yang mengumpulkan poin terbanyak, dia yang berhak mendekati Aizawa dan siapa yang kalah harus mundur dan menjauh dari Aizawa. Mereka berdua bahkan tidak lagi peduli dengan jalannya pertandingan ini. Di satu sisi, kondisi ini menyurutkan semangat lawan. Namun disisi lain merupakan suatu kebanggan tersendiri. Tentu saja hanya pelatih mereka yang bangga dengan kemenangan mutlak yang diciptakan Kurio dan Yamato.


Waktu yang tersisa hanya lima menit lagi. Yamato dan Kurio masih terus saja saling bergantian memasukkan bola ke dalam ring. Suara decit sepatu dan bola yang digiring masih memenuhi stadion terbesar di Tokyo. Suara riuh dari bangku penonton juga tak kalah heboh. Baik Yamato maupun Kurio, keduanya bermain dengan sangat baik dalam tim. Mereka tetap mengoper bola pada pemain lain. Hanya saja, untuk memasukkan bola ke dalam ring selalu diambil alih oleh kedua ace tim basket Universitas Tokyo. Keduanya berjuang sampai titik darah penghabisan.


“Kau tidak melupakan kesepakatan Kita, bukan?” ucap Kurio tersenyum bangga disela-sela pertandingan. Ia sangat yakin jika poin yang ia dapat telah membuat Yamato kalah telak.


Yamato mengusap keringat yang terus mengalir di pelipisnya. Nafasnya mulai terputus-putus karena kehabisan oksigen. “Tentu saja. Aku tidak akan kalah.”


“Kau sudah ketinggalan 4 poin dariku. Masih ingin lanjut?”

__ADS_1


“selama peluit tanda pertandingan berakhir belum dibunyikan, masih ada banyak kesempatan. Yang jelas, aku tidak akan menyerahkan Aizawa semudah itu padamu.”


Kurio tersenyum sinis. Ia melakukan beberapa kali dribble sebelum mengoper bola kepada Yamato. “Selisih skor kita 4 poin. Akan kuberikan Kau kesempatan mencetak poin untuk mengejar ketinggalan denganku.”


Yamato mendengus kesal. Ia melakukan beberapa drible untuk mempertahankan bola tetap di tangannya. “Apa ini sebuah penghinaan?”


“Waktu yang tersisa hanya 30 detik. Lakukan three point akan merubah selisih poin diantara kita menjadi satu angka. Tapi jika kau melakukan dunk dua kali, aku yakin tidak akan sempat. Jadi, buatlah keputusan sekarang.”


Yamato bergidik. Semua pilihan tetap menghasilkan kekalahan untuknya. Sedangkan waktu terus berjalan tanpa ampun. Yamato kembali melakukan dribble. Apapun pilihan yang ia ambil, tetap saja Kuro lebih unggul darinya. Yamato tak menyukai pilihan ini. Ia berlari dan kemudian melakukan three point shoot. Lebih baik memperkecil selisih daripada hanya diam tanpa perjuangan sedikitpun. Tembakan three point Yamato mengakhiri pertandingan basket antara Universitas Tokyo melawan Universitas Hosei dengan skor akhir 87-33. Peluit panjang yang dibunyikan mengakhiri pertandingan pertaruhan antara Yamato dan Kurio.


Aizawa telah memutuskan. Ia berlari meninggalkan tribun penonton menuju ruang para pemain. Peluit berakhirnya pertandingan sudah terdengar. Sejak tadi ia menghitung poin yang dikumpulkan Yamato dan Kurio. Selisih satu angka yang dimenangkan Kurio pasti membuat Yamato syok. Ia harus segera menemui mereka. Mengatakan semua yang terpendam dalam hatinya dan mengakhiri perselisihan.

__ADS_1


Langkah kakinya terhenti ketika melihat rombongan tim basket Universitas Tokyo berjalan memasuki ruangan pemain. Sebelumnya, mata Aizawa hanya menangkap sosok Kurio. Tapi kali ini ia hanya menangkap sosok yang lain. Sosok yang sebenarnya selalu melihat dimanapun ia berada. Sosok yang selalu muncul setiap kali ia membutuhkan perlindungan. Ia berlari ke arah Yamato dan kemudian memeluknya. Semua mata tertuju pada Aizawa dan Yamato. Tak terkecuali Kurio yang berdiri kaku memandang pemandangan yang sama sekali tak bisa dipercaya.


“Aizawa? K-kamu….kenapa?”


Wajah Aizawa hanya bersembunyi di balik dada Yamato yang bidang dan kekar. Air matanya perlahan menetes, betapa terlambat ia menyadari tentang perasaannya pada Yamato. Betapa bodohnya karena membiarkan pertaruhan ini terjadi. “Maafkan aku. Terlambat menyadari semuanya. Maafkan aku membuatmu menunggu terlalu lama.”


Yamato masih terpaku dan tak mengerti dengan situasi ini. “Aizawa…ini…”


“Aku menyukaimu, Yamato. Maafkan aku baru mengatakannya. Maafkan aku baru menyadarinya sekarang.” Air matanya masih saja mengalir dibalik bahu Yamato. Pelukannya bahkan semakin erat.


Kurio hanya diam tak percaya melihat apa yang sudah dilihat mata kepalanya sendiri. Bagaimana bisa Aizawa memeluk Yamato dihadapannya? “Ai…?”

__ADS_1


Mendengar suara Kurio memanggil namanya, membuat tersadar bahwa ada satu masalah yang perlu ia selesaikan dulu. Seharusnya ia menyelesaikan yang satu ini lebih dulu sebelum adegan pelukan. Aizawa mengutuk dirinya sendiri. Ia mengusap air matanya dan menoleh ke arah pria yang selama delapan tahun terakhir selalu ia cintai. Wajahnya pucat seolah tak percaya pada apa yang telah terjadi dihadapannya.


“Bicaralah dengannya. Selesaikan yang seharusnya diselesaikan.” Ucap Yamato sambil melepas pelukannya. “Akan kutunggu di kontrakanmu.”


__ADS_2