My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 15


__ADS_3

Dua hari berlalu. Sejak hari itu, dimana Aizawa telah resmi dicampakkan Kurio, ia belum mendatangi rumah sakit. Setiap kali teringat tentang Megumi, ia akan teringat fakta bahwa Kurio dan Megumi bertunangan. Rasanya tak adil jika ia menyalahkan Megumi atas kejadian kemarin. Bukankah mencintai adalah hak semua orang tanpa terkecuali? Sebuah rasa yang bisa kapan saja membuatmu terbang diantara awan kebahagiaan, namun bisa juga menjatuhkanmu sampai posisi terpuruk. Kini, Aizawa menyadari posisinya. Ia tak mungkin dengan jahatnya mengatakan "Kurio milikku, bukan milikmu" di hadapan Megumi tanpa memikirkan perasaannya. Mungkin, Megumi melakukan sesuatu hal demi Kurio yang tidak bisa dilakukan Aizawa. Benar-benar butuh waktu untuk menerima kenyataan itu.


Tak lama datang Yamato diiringi dengan suara histeris para mahasiswi yang ada di kantin itu. Kedatangannya membuat heboh seluruh kantin. Teriakan histeris semakin terjadi saat Yamato berhenti di sebuah meja tepat Aizawa nongkrong. Ia hanya menatap Yamato sekilas. Muncul sejuta pertanyaan dalam benaknya tentang alasan apa yang membuat Yamato jauh-jauh datang ke fakultas orang lain.


"Hei, Aizawa. Sudah dua hari tidak melihatmu. Apa kau baik-baik saja?" Sapa Yamato begitu tiba di hadapan Aizawa. Para mahasiswi di kantin tidak berkedip sama sekali melihat Yamato berdiri di dekat mereka.


"Ya. Aku baik-baik saja. Maaf aku agak sibuk kemarin." Jawab Aizawa tanpa melirik Yamato sedikitpun. Rasanya saat ini bertemu dengan Yamato pun membuatnya teringat tentang Megumi dan Kurio.


"Tak apa. Aku hanya ingin mengundangmu untuk melihat latihan basket kami siang ini. Itupun jika kau ada waktu luang."


"Apaaa???!!!! Melihat tim basket nasional berlatih?" Teriak seorang mahasiswi -yang berada di posisi terdekat dari mereka berdua- tiba-tiba histeris setelah mendengar perkataan Yamato. "Melihat Yamato bermain basket secara langsung?!!!"


"Apa Kurio juga ikut latihan?" Tanya mahasiswi lain dengan mata berbinar.


"Tentu saja. Dia juga bagian tim inti. Kalian juga bisa ikut menonton jika ada waktu luang." Jawab Yamato dengan senyum ramah yang membuat hati para mahasiswi melayang di udara. Dan Aizawa hanya bisa menepok jidatnya.

__ADS_1


*********


Sebuah lapangan basket indoor yang cukup luas. Meski tidak terlalu jauh dari kampus, namun tak ada yang menyangka jika tim basket nasional berlatih di stadion ini. Beberapa dari mereka sudah memulai latihan terlebih dahulu. Kurio salah satu dari mereka yang sedang berlatih. Jika diperhatikan kembali, Kurio dan Yamato mungkin adalah seorang ace dalam tim basket nasional. Selain wajah dan fisik mereka yang bisa dibilang sempurna bagi kaum wanita, prestasi dan kemampuan dalam lapangan juga tak perlu diragukan lagi. Aizawa pun tiba-tiba terpikirkan saat menatap Kurio berlatih di lapangan. Entah sejak kapan Kurio yang dulu terlihat kecil dan menggemaskan, berubah menjadi Kurio yang tampan dan mendebarkan.


Aizawa berjalan diantara tribun penonton untuk mencari point of view yang pas untuk bisa memandangi mereka bermain basket. Yamato belum terlihat di lapangan. Mungkin sedang persiapan. Suara sepatu yang berdecit di tengah lapangan terdengar sangat sengit. Seolah sedang menyaksikan pertandingan yang sebenarnya. Euforia yang tak kalah sengit juga terdengar di sebelah Aizawa. Seolah mencium aroma pertandingan yang sebenarnya.


"Kurio......!!!!!!" Para mahasiswi centil daritadi teriak-teriak tiap kali Kurio merebut bola. Kurio terlihat sangat gesit di tengah lapangan dan beberapa kali melakukan shoot. Walaupun bukan walking in the air seperti yang pernah Yamato ceritakan tempo hari.


Tiba-tiba Yamato berlari masuk ke tengah lapangan dengan seragam basket yang sama dengan rekan timnya. Sebelum memulai permainannya, Yamato berdiri ke arah tempat duduk Aizawa. Terlihat seperti ia akan menyampaikan sesuatu. Namun, karena jarak yang terlalu jauh, Yamato hanya melempar senyum ke arah tribun penonton. Teman-teman Aizawa heboh dengan sendirinya saat Yamato melempar senyum.


Tiba-tiba Aizawa teringat kata-kata Megumi beberapa hari yang lalu. Ia segera mengambil kamera digital yang selalu ia bawa kemanapun, meskipun jarang ia gunakan. Kamera itu ia arahkan pada tengah pertandingan latihan. Merekam permainan sengit antara Kurio dan Yamato di lapangan. Megumi ingin melihat pertandingan mereka dari kursi penonton. Aizawa merekam setiap aksi demi aksi yang ditunjukan Kurio dan Yamato. Hanya Megumi satu-satunya saingan yang membuat Aizawa ingin membahagiakannya. Entah bagaimana ia merasa Kurio pantas mendapat Megumi yang baik dan yakin pasti bisa membahagiakannya kelak.


"Kau harus sembuh, Megumi. Kau harus membahagiakan Kurio untukku juga." Aizawa meneteskan air matanya sambil tetap merekam aksi Kurio dan Yamato. "Kau harus lihat aksi mereka yang keren ini."


Teriakan heboh semakin terdengar histeris saat Kurio melakukan aksi walking in the air yang pernah diceritakan Yamato. Penampilan yang begitu cepat ditunjukan oleh Kurio. Aizawa pun berhasil merekam momen tersebut dengan baik. "Megumi pasti senang melihat rekaman ini", pikirnya.

__ADS_1


Serangan balasan dilakukan oleh Yamato. Kali ini ia melakukan dribble bola untuk melakukan serangan balik. Ia mulai melakukan three point untuk membalikkan skor. Meski kameranya merekam semua laju pertandingan, tapi mata Aizawa hanya tertuju pada Kurio. Walaupun sudah berfikir akan merelakan untuk Megumi, ternyata tidak semudah mengatakannya. Tangannya gemetar setiap kali teringat kenyataan bahwa Kurio dan Megumi saling mencintai. Bukankah tidak semestinya Aizawa hadir dalam kehidupan mereka? Memikirkannya saja sudah membuat perut Aizawa sakit. Peluit panjang tanda pertandingan selesai sudah dibunyikan.


Tiba-tiba seorang wanita memasuki lapangan basket. Sepertinya itu manajer tim basket. Entah apa sebabnya beberapa anggota tim basket langsung panik. Aizawa melihat Yamato berlari meninggalkan lapangan. Menyadari sesuatu yang aneh, Aizawa segera turun dari tribun penonton. Ia pun melihat Yamato sedang berlari dengan wajah yang panik. Bahkan ia belum ganti pakaian lebih dulu. Aizawa berusaha mengejar Yamato, namun langkahnya dihentikan paksa. Kurio menahan tangan Aizawa yang hendak mengejar Yamato.


"Biarkan Yamato pergi duluan. Kau ikut aku dengan mobil. Kita harus bicarakan sesuatu." Ucap Kurio sambil menahan paksa tangan Aizawa. "Kau tunggu disini. Aku harus ganti baju. Kita akan menyusul Yamato." Aizawa hanya diam menuruti perkataan Kurio. Entah bagaimana ia merasa ada sesuatu yang buruk sedang terjadi.


Hanya butuh waktu 10 menit menunggu Kurio mengganti seragam olahraganya. Aizawa dan Kurio bergegas menuju mobil Kurio yang terparkir di halaman stadion. Aizawa bahkan tak berani sedikitpun menanyakan kembali apa yang sedang terjadi. Wajah Kurio sama menyeramkan dengan wajah Yamato tadi. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?


"Megumi dalam kondisi kritis." Ucap Kurio setelah beberapa detik mengemudikan mobilnya. Mata Aizawa terbelalak mendengar berita buruk itu. Tangannya gemetar menggenggam kamera miliknya. Tidak mungkin hal semacam ini terjadi. Megumi pasti sembuh, kan? Ia sudah merekam aksi terbaik kakak dan pacarnya. Hal ini tak boleh terjadi.


Aizawa tetap tenang mendengarkan cerita Kurio. Pandangannya tetap lurus ke jalan. Tangannya masih menggenggam kamera miliknya. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.


"Virus itu jauh lebih cepat berkembang dari perkiraan dokter. Tiga tahun yang lalu, Megumi menyatakan perasaannya padaku. Saat itu aku belum mengetahui apa-apa tentang penyakitnya. Kemudian Yamato mengatakan padaku tentang penyakit yang diderita Megumi. Karena merasa tak tega, akhirnya aku menerima perasaan Megumi. Aku terpaksa meninggalkanmu demi Megumi. Aku tahu dia pasti akan sedih jika tahu hal ini. Itu sebabnya aku minta padamu untuk merahasiakan tentang masa lalu kita. Aku ingin membahagiakan Megumi di sisa usianya. Meskipun baik aku dan Yamato berharap Megumi bisa sembuh. Tapi, virus itu jauh lebih kuat dari Megumi. Yamato pun tahu tentang hal itu. Itu sebabnya kami hanya bisa bertaruh pada keajaiban."


Aizawa hanya menunduk memandangi kamera yang daritadi ia peluk. Air matanya perlahan menetes. Kenapa gadis sebaik Megumi harus mengalami hal menyedihkan seperti ini? Apa yang bisa dilakukan Aizawa untuk menyelamatkan Megumi?

__ADS_1


__ADS_2