
Tegukan demi tegukan membasahi jalannya air minum yang ditelan Aizawa. Musim panas di Hiroshima terasa jauh lebih menyengat daripada Tokyo. Meski belum pernah menghabiskan waktu selama musim panas di Tokyo, tapi rasanya terlihat jelas pada Kurio. Dia sedang terkapar di dalam kolam karet penuh air es yang mencair. Ia serasa tak mampu lagi merasakan panasnya musim panas di kota lain.
Aizawa beberapa kali menghembuskan nafas panjang. Ia sedikit melirik sebuah cincin baru yang melingkar di jari manisnya. Sesekali ia tersenyum saat menatap cincin itu. Sinar kebahagiaan serasa tak bisa disembunyikan dari raut wajahnya.
"Jangan dilihatin terus cincinnya !! Nanti kamu jatuh cinta padaku, loh " Ucap Kurio tetap dalam posisi memejamkan matanya. Sebenarnya ia pura-pura tidak melihat saja. Betapa percaya diri sekali dia.
Aizawa terkejut dari lamunannya. Tangannya refleks menyembunyikan cincin itu dibalik punggungnya. Ia menatap Kurio yang masih berada dalam kolam karet sambil memejamkan mata. Wajah Aizawa terlihat merona seketika. Namun, ia tak bisa menutupi rasa malunya. Ia segera mengambil bola yang berada di sebelah kakinya dan melempar ke arah Kurio.
"Eh...jangan !! Nanti kapalku tenggelam !!"
Aizawa tetap melempar bola itu tanpa mempedulikan larangan Kurio. Kolam karet berisi air kini terombang-ambing karena lemparan bola Aizawa. Hal itu sedikit membuat kegaduhan di halaman rumah Aizawa.
"Kalian ini ngapain sih? Malah kayak anak kecil saja." Ucap Ibu tiba-tiba berada di bekakang Aizawa. "Lebih baik kalian bersiap nonton kembang api nanti malam."
Aizawa langsung menoleh. "Kembang api?"
__ADS_1
"Kau ingin pergi?" Tanya Kurio yang sejak tadi memperhatikan Aizawa.
***************
Aizawa tak henti-hentinya memperlihatkan bunga-bunga mekar dari wajahnya. Sangat jelas terlihat jika ia sangat senang datang ke acara itu. Sedangkan Kurio tak henti-hentinya bersemu merona setiap kali melihat Aizawa mengenakan yukata. Ia terlihat jauh lebih manis saat mengenakan yukata itu. Yukata dengan warna dasar merah marun dengan motif bunga sakura menghiasi hampir seluruh sisi yukata. Obi atau kain pengikat di bagian perut berwana biru navy menambah sisi indah Aizawa. Hal itulah yang membuat Kurio tidak berhenti menatap Aizawa sejak tadi. Jauh dalam lubuk hatinya ia bersyukur bisa datang ke Hiroshima.
Acara puncak kembang api berlangsung pada pukul 9 malam. Masih ada sekitar 20 menit lagi. Aizawa dan Kurio berkeliling sambil sesekali mencoba permainan di beberapa stand. Keduanya terlihat sangat menikmati festival kembang api yang sebenarnya masih lebih meriah festival di Tokyo.
"Masih ada 20 menit lagi. Kita cari tempat bagus untuk melihat kembang api." Ajak Kurio setelah terlihat lelah berkeliling stand. Tanpa menjelaskan apapun, Kurio menarik tangan Aizawa dan segera mengajaknya pergi. Jantung Aizawa tak henti-hentinya berdegub kencang. Matanya terus melihat ke bawah. Melihat tangannya yang di genggam oleh tangan Kurio. Seperti mimpi. Beberapa bulan yang lalu, ia hampir menyerah terhadap Kurio. Tapi mungkin takdir menginginkan hal lain. Kini ia bisa kapan saja mengenggam tangan Kurio, bahkan memeluknya. Wajah Aizawa semakin merona. Entah karena panas dalam hatinya ataukah panas dari banyaknya orang di festival itu. Keduanya terhenti di sebuah tempat yang agak tinggi. Tempat itu cukup sepi meskipun tidak terlalu sepi.
Aizawa sedari tadi hanya menatap Kurio. Dalam pikirannya masih berkecamuk. Seolah masih tak percaya dengan apa yang ada di depannya. "Tahun lalu, aku akhirnya memutuskan untuk mengambil Universitas di Tokyo. Aku berjuang keras untuk bisa kuliah disana. Dalam benakku saat itu hanyalah ingin bertemu denganmu."
Aizawa menerawang jauh ke langit. Matanya terlihat sayu. Kurio hanya mampu menatapnya. Ia merasa bersalah karena memutuskan kontak secara sepihak tanpa memberitahu apapun pada Aizawa saat itu. "Sampai akhirnya aku bisa sampai di Tokyo. Hal pertama yang kulakukan adalah mencari dimana keberadaanmu. Meski berbekal sedikit informasi tentangmu, aku nekat mencarimu. Setiap harinya terasa berat karena harus mencarimu di kota sebesar itu. Saat aku menemukanmu, rasa lega memenuhi hatiku. Aku lega jika kau baik-baik saja. Itulah hal pertama yang kurasakan."
Air mata Aizawa menetes tanpa ia sadari. Tangan Kurio mengepal erat saat mendengar perjalanan panjang Aizawa demi menemukannya. "Namun, saat aku mendengar tentangmu dan Megumi, rasanya aku hancur berkeping-keping. Aku bisa saja bersikap jahat dan mengambilmu dari Megumi. Saat itu ada satu hal yang sangat kusadari. Bahwa waktu bisa mengubah segalanya, meskipun sangat singkat. Itu sebabnya aku memilih menyerah tentangmu."
__ADS_1
"Sekarang, menyadari bahwa dirimu berdiri di sampingku seperti ini, rasanya seperti melihat sebuah mimpi. Aku bahkan masih belun percaya jika aku bisa membawamu kembali padaku. Rasanya seperti suatu saat aku pasti akan terbangun dan kehilangan semua mimpi indahku. Rasanya seperti kau bisa kapan saja meninggalkanku."
Air mata Aizawa mengalir deras diiringi letupan kembang api. Letupan yang mengeluarkan berbagai warna. Terlihat indah seperti sebuah cinta yang memiliki berbagai rasa. Kurio segera menarik bahu Aizawa dan mencium bibirnya. Entah karena pengaruh musim panas atau karena kembang api yang masih mengudara, rasanya ciuman itu terasa panas. Mata Aizawa tak terpejam sedikitpun. Ia melihat sebuah air mata menetes dari kedua mata Kurio yang terpejam. Bibirnya bergetar saat merasakan bibir Kurio yang terasa dingin. Mengapa air mata itu menetes dari kedua mata Kurio? Terlihat indah. Pertama kalinya ia melihat air mata seorang lelaki yang ia cintai selama delapan tahun ini.
Ekspresi terkejut masih terlihat di wajah Aizawa bahkan setelah mereka tak lagi berciuman. Aizawa menyeka air mata Kurio dengan kedua tangannya. "Aku tahu rasanya sangat tidak adil bagiku untuk bisa mendapatkan perasaanmu seperti ini. Aku sudah sangat menyakitimu. Bahkan setelah mengatakan hal-hal menyakitkan itu, hampir setiap malam aku selalu bermimpi buruk. Aku selalu dan selalu menunggu saat-saat bisa bertemu denganmu lagi. Hingga akhirnya kau muncul di hadapanku, rasanya saat itu aku seolah ingin mendekapmu sesegera mungkin. Tapi, aku sadar akan posisiku."
“Semua berlalu dengan sangat cepat. Meski rasanya sangat berat, rasanya seperti ingin menyerah saja. Apa.....aku berdosa seperti ini? Aku sudah mengkhianati kebaikan Megumi. Aku tahu dia pasti sedih melihat hubungan kita."
Kurio tersenyum dan menggenggam erat kedua tangan Aizawa. Malam itu, keduanya tak benar-benar memperhatikan festival kembang api. "Kau tahu? Beberapa hari sebelum Megumi kritis, ia pernah menanyakan perasaanku yang sesungguhnya. Saat itu, aku tak bisa menjawab dengan jujur. Meski begitu, Megumi menyadari bahwa diantara kita pernah terjadi sesuatu di masa lalu. Entah aku tidak tahu darimana ia mendapat informasi itu."
Aizawa benar-benar terkejut dengan ucapan Kurio. Susah payah ia berpura-pura tidak mengenal Kurio selama di dekat Megumi. Ternyata Megumi sudah menyadarinya. Mungkin itu sebabnya Megumi menyuruh Aizawa untuk merekam permainan basket Kurio. Rupanya video itu bukan untuk Megumi, tapi untuknya sendiri.
"Bahagiakan dia lebih dari kau membahagiakanku." Kurio kembali meneteskan air mata. "Itulah yang dikatakan Megumi padaku."
Tak bisa dipercaya jika gadis sebaik Megumi harus segera pergi meninggalkan dunia ini. Mungkin satu-satunya hal yang bisa dilakukan untuk membalas kebaikan Megumi adalah dengan saling menjaga keadaan tetap seperti ini. Seperti yang diharapkan Megumi. Malam itu berlalu dengan satu ucapan janji yang mengikat diantara keduanya. Musim panas pun berlalu. Selamat datang musim gugur. Dimana sebuah hal bisa saja terjadi. Karena rintangan masih membentang luas di depan mereka.
__ADS_1