
Musim dingin sudah dimulai. Udara di luar jauh lebih mematikan. Kondisi Ibu Aizawa sudah jauh lebih baik. Ia pun membicarakan tentang keinginannya untuk kembali ke Tokyo. Ia sudah susah payah masuk ke Universitas ternama itu. Rasanya tidak adil hanya karena masalah percintaan, ia harus mengorbankan mimpi kedua orangtuanya yang berharap masa depan cerah untuk anak satu-satunya.
Aizawa mulai mengemasi barang-barang yang diperlukan untuk kehidupannya di Tokyo. Ia sudah memikirkan keputusannya kembali ke Tokyo bahkan sebelum Yamato dan Kurio datang ke Hiroshima. Rasanya sangat konyol jika harus pindah karena patah hati. Lusa adalah pertandingan basket Universitas Tokyo melawan Universitas Hosei. Baik Yamato maupun Kurio sama-sama menginginkan Aizawa datang untuk melihat pertandingan itu. Begitu pula dengan keputusan yang harus ia pilih. Tidak mungkin membuat keduanya menunggu kepastian terlalu lama.
“Kamu sudah siap?” tanya Ayahnya yang berdiri diambang pintu. Dari semuanya hanya Ayahnya yang terlihat cuek dengan keadaan Aizawa. Namun dibalik sikap cueknya, Ayah selalu siap saat dibutuhkan dan selalu memberi nasihat terbaiknya.
Aizawa mengangguk dan menarik tas kopernya. Ia berangkat saat ini juga sebelum musim dingin merusak mood baik yang sedang dirasakannya. Setelah berpamitan dengan Ibunya, Aizawa berpamitan pada Ayahnya dan segera naik ke dalam kereta. Baik Yamato maupun Kurio tidak ada yang tahu mengenai keputusan Aizawa untuk kembali ke Tokyo. Ia benar-benar harus membuat keputusan tanpa dipengaruhi apapun. bukankah ini tentang hatinya? Bukankah sudah jelas? Lalu apa yang membuatnya masih merasa bimbang?
Selama perjalanan, ia hanya flashback kejadian di masa lalu. Ia mengingat banyak hal yang terjadi selama bersama Kurio. Beberapa kejadian yang menyenangkan sampai yang menyakitkan. Ia seperti memutar kembali album lama. Bahkan saat ini ia masih saja memakai cincin pemberian Kurio saat malam musim panas yang lalu. Kurio adalah cinta pertamanya. Orang yang sudah disukai selama 8 tahun. Bahkan terpisah jarak dan waktu tak membuat hati Aizawa goyah sedikitpun.
Yamato….hanya menyebut namanya saja sudah membuat hati Aizawa kacau. Perlahan-ahan ia mengingat semua hal tentang Yamato. Dia adalah orang yang selalu ada sejak ia menginjakkan kaki di Tokyo. Bahkan selalu membantu disaat Aizawa kesulitan. Yamato adalah sosok yang hangat dan penuh kasih. Yamato bahkan tak pernah membuat Aizawa kecewa ataupun sedih. Gawat…jantungnya berdebar semakin tak terkendali. “Mungkin aku harus istirahat saat sampai di Tokyo.”
__ADS_1
*********
Lemparan three point sudah dilepaskan Kurio. Entah sudah berapa kali ia berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Setiap kali teringat tentang tantangan itu, hatinya selalu memanas. Ini pertandingan bukan antara dua Universitas. Tapi antara Kurio dan Yamato. Keringatnya bercucuran karena latihan sejak pagi. Sudah tiga hari berturut-turut Kurio berlatih three point. Ia bahkan tak peduli dengan hasil akhir pertandingan. Asalkan bisa mengumpulkan poin sebanyak mungkin, ia tak peduli dengan kemenangan timnya.
“jarang sekali aku melihatmu berlatih sekeras ini. Apa lawannya begitu kuat?” tanya Kurodo yang datang sambil membawa dua botol air mineral dingin.
Kurio sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan kakak satu-satunya itu. Ia terus saja melakukan dribble dan kemudian shoot three point. Tangannya beberapa kali mengusap keringat yang menetes di pelipis. “Aku harus lebih banyak mengumpulkan poin.” Ucap Kurio sambil tetap berlatih three point.
Kurio menghentikan latihannya. Ia menolehkan pandangannya pada Kurodo yang sedang menyeruput minuman yang ia bawa. Seolah minuman itu terlihat sangat segar di matanya. “Hanya three point cara tercepat untuk mengumpulkan score sebanyak-banyaknya dan menang.”
Kurodo tertawa sinis. “Kau ini bermain basket dengan tim atau seorang diri? Bukankah besok pertandingan tim? Lalu untuk apa memperbanyak three point? Bukankah keahlianmu adalah dunk?”
__ADS_1
“Aku harus mengalahkannya dan tidak membiarkan dia bergerak bebas seenaknya merebut Aizawa.” Ucap Kurio tanpa sadar sambil memandangi bola basket yang masih belum ia lempar. Pandangannya mengambang entah kemana.
Kurodo diam sejenak sambil mencerna apa yang dikatakan adik satu-satunya itu. Alisnya berkerut samar seolah berusaha mengingat sesuatu. “Apa Yamato berencana merebut Aizawa darimu?”
Kurio tersentak dengan ucapan Kurodo. Matanya seolah ingin menanyakan “darimana ia tahu? Bagaimana bisa?” tapi sepertinya bibir Kurio tak mampu menanyakan hal itu. Matanya melotot karena masih penasaran. Kurodo hanya tertawa lepas melihat wajah bodoh adik yang selama ini berusaha bersikap sok cool.
“Kau pasti bertanya-tanya darimana aku tahu, kan?” tebak Kurodo dengan mata mengerling jahil. “Orang asing juga akan langsung tahu saat melihat bagaimana Yamato menatap Aizawa. Itu bukan tatapan persahabatan. Tapi itu c.i.n.t.a.”
Ekspresi terkejut jelas sekali terlihat di wajah Kurio. Betapa bodohnya jika sampai ia tak tahu hal yang sangat jelas terlihat. Bahkan sampai orang asing pun menyadarinya. Sejak kapan Yamato menyukai Aizawa? Apa sejak awal mereka saling bertemu? Bukankah itu berarti ia yang bodoh dan tidak peka? Kurio tidak berhenti mengutuki dirinya sendiri.
“Jadi…Yamato menantangmu apa? Mengumpulkan score terbanyak untuk memperebutkan Aizawa?” kali ini Kurodo menebak sambil menggelengkan kepalanya. “Itu bukan cara yang sopan memperebutkan wanita. Mereka bukanlah barang. Aku tahu kau sudah berusaha membatalkan perjodohan dengan Kanata. Tapi kau harus benar-benar tegas sebelum kehilangan apa yang ingin kau perjuangkan.”
__ADS_1
Kurio tertegun dengan perkataan Kurodo. Memang benar jika selama ini ia tak menyadari tentang perasaan Yamato pada Aizawa. Ia bahkan cenderung tidak peduli dengan apa yang ada di sekitarnya. ia terlalu sombong karena mengira Aizawa pasti tidak masalah diperlakukan seperti apapun. karena Aizawa pasti memaafkannya. Tapi kini ia sadar jika selama ini sudah memperlakukan Aizawa dengan sangat tidak baik. Jika seandainya Kurio kehilangan Aizawa, bukankah ia seharusnya menerima hasil dari perbuatannya sendiri? Ia tak pernah sekalipun memperjuangkan Aizawa.