My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 4


__ADS_3

Hanya ada suara bising jalanan kota. Tanpa suara, tanpa kata. Langkah mereka tanpa sadar terasa seirama. Hanyut dalam lamunan masing-masing. Gedung-gedung bertingkat dengan sejuta gemerlap cahaya yang mengitarinya, musik video yang diputar bebas dalam sebuah layar raksasa, dan jutaan manusia yang menyeberang jalanan. Semua itu membaur menjadi satu dalam kebisingan malam kota Tokyo.


“kali ini kau tidak membawaku ke tempat aneh lagi, kan?” ucap Yamato memulai memecah keheningan yang sejak tadi menyiksanya. Kali ini ia harus waspada agar tidak dikerjai Aizawa lagi.


Aizawa tersenyum mendengarnya. “aku hanya akan menunjukan rumah kontrakan yang kutinggali. Tapi kau tak diizinkan untuk masuk. Ini sudah malam.” Gurau Aizawa.


“aku juga tidak berniat untuk masuk. Oh iya,,tentang janjiku padamu, apa kau punya foto pacarmu itu? Siapa tahu ada beberapa temanku yang mengenalinya.”


Aizawa terdiam. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Seperti teringat sesuatu. Ia menunjukan ekspresi kebingungan. Ia baru sadar, jika selama ini ia hanya mengingat sekilas wajah Kurio. Tanpa tahu tentang perubahan sikap, sifat dan wajah seseorang dalam 8 tahun. Lalu, bagaimana ia akan mengenali jika itu Kurio yang ia cari? Wajahnya mendadak pucat. Tak ingin semua yang dilakukan sia-sia. Bahkan nama lengkapnya saja Aizawa juga tidak tahu. Setelah 8 tahun, baru kali ini ia menyadari kebodohannya.


"E...itu....anu....."

__ADS_1


Aizawa hanya mengucapkan kata-kata yang aneh. Jika dipikirkan kembali, ia sama sekali tak memiliki petunjuk apapun tentang Kurio. Selama ini, ia mencarinya secara random. Yamato yang daritadi menunggu jawaban Aizawa, kini mulai mengernyitkan dahi. Apa yang dipikirkan gadis aneh ini? Daritadi hanya diam dan menunjukan ekspresi kebingungan. Kata-kata yang diucapkan juga tidak jelas.


"Begini.....aku....terakhir kali bertemu dengannya adalah saat berusia 10 tahun. Itupun hanya beberapa hari. Setelah dia kembali ke Tokyo, kami tidak pernah berkomunikasi lagi.”


Yamato berusaha mendengar setiap cerita Aizawa. Ia sendiri sudah berjanji untuk membantunya sebagai imbalan telah menjadi teman untuk Megumi. Harus diakui, Megumi lebih banyak tertawa hari ini berkat Aizawa.


"Aku tak punya satupun fotonya. Aku juga tak tahu nama keluarganya. Tapi aku ingat sedikit wajahnya. Mungkin tak jauh berbeda dari saat ia berusia 10 tahun. Hanya informasi itu yang bisa kukatakan."


"Kau.....tak kusangka jika kau jauh lebih bodoh dari yang kukira. Bagaimana mungkin kau mencari seseorang tanpa memiliki informasi apapun tentangnya??!! Apa-apaan itu?!! Waktu 8 tahun bukan hal yang tidak mungkin jika wajahnya jauh berubah. Apalagi dia seorang cowok, pertumbuhannya sangat cepat. Kau bahkan tak tahu nama keluarganya, lalu mau dicari ke Tokyo bagian mana? Tokyo itu sangat luas. Lalu, bagaimana jika dia kuliah di luar Tokyo?! Atau bahkan ke luar negeri?!! Kenapa kau begitu bodoh melakukan hal yang sia-sia seperti itu!!??" Ucap Yamato yang sudah tak bisa lagi menahan emosinya.


Aizawa mengepalkan kedua telapak tangannya. Ia tahu, bahkan sangat tahu jika semua ini sia-sia. Bahkan, beberapa hari yang lalu ia sempat menyerah untuk mencari Kurio. Tak ada lagi yang bisa ia perjuangkan. Tapi, Yamato tak perlu mengatakannya dengan sangat jelas seperti itu. Ini sia-sia. Bahkan Aizawa sudah tahu itu. Namun, hatinya memilih untuk tidak menyerah. Malam ini, di tengah keramaian kota Tokyo, di bawah sorotan sinar bulan, Aizawa hampir saja meneteskan air matanya. Mungkin ia sudah lelah mencari Kurio.

__ADS_1


"Aku tahu. Aku tahu jika ini sia-sia. Aku tak mungkin menemukannya dengan mudah. Terima kasih sudah mengantarku sampai sini. Kau tak perlu repot-repot membantuku mencari Kurio. Akan kulakukan sendiri, dengan kekuatanku sendiri."


Aizawa pun melangkahkan kakinya meninggalkan Yamato yang masih berdiri kaku. Tak ada lagi yang bisa membantunya. Bukankah cukup hanya dia saja yang tahu? Karena sejak awal niat Aizawa terlalu nekat dan tanpa pertimbangan matang. Mencari seseorang tanpa mengetahui informasi tentang orang yang dicari. Rasanya itu mustahil.


"Tunggu !!!" Yamato menahan tangan Aizawa. "Tadi kau bilang.....Kurio?"


Air mata Aizawa tak bisa diajak kompromi. Ia ingin menangis sepuasnya saat sampai di kamarnya. Bukan di tengah jalan seperti ini. Banyak penduduk Tokyo yang berlalu-lalang. Tak sedikit yang memandanginya sedang menangis. Aizawa segera menyeka air matanya.


"Ya..orang yang kucari namanya Kurio. Hanya informasi itu yang kutahu."


Wajah Yamato tiba-tiba pucat. Matanya sempat tidak berkedip selama beberapa saat. Ia seperti syok. Mencoba mengingat kembali. Apakah mungkin Kurio yang dimaksud Aizawa adalah........

__ADS_1


"Sudahlah. Tak usah dibahas lagi. Terima kasih sudah mengantarku. Pulangnya hati-hati, ya." Ucap Aizawa melanjutkan langkahnya untuk pergi dari Yamato. Meskipun rumah kontrakannya masih agak jauh dari tempat mereka berpisah. Sedangkan Yamato masih berdiri diam tak percaya. Ada berapa manusia di Jepang yang memiliki nama Kurio? Bukankah nama itu cukup unik dan langka? Tidak mungkin jika yang dimaksud Aizawa adalah..........


__ADS_2