My Ring Is My Love

My Ring Is My Love
BAB 26


__ADS_3

Mimpi apa Yamato semalam, siang ini dia sudah tiba di Jepang?? Entah mendapat angin apa sampai ia melakukan reschedule jadwal penerbangan yang seharusnya ia lakukan minggu depan. Pendaratan pertama yang ia lakukan setelah bandara bukanlah rumahnya akan tetapi lapangan basket indoor tempatnya biasa berlatih. Rasanya sudah terlalu lama ia meninggalkan timnas. Berat rasanya jika harus pulang ke rumah namun tak ada seorang pun disana. Meski Yamato sudah terbiasa tanpa Megumi di rumahnya, tetap saja rasanya sangat berat. Selama di Inggris, ia tak pernah dibiarkan berada sendirian oleh keluarga besarnya. Namun kali ini ia sudah mulai terbiasa merelakan semua.


Yamato meninggalkan tas koper besarnya di luar stadion. Ingin rasanya ia menelusuri setiap sudut lapangan indoor tersebut. Seolah sudah bertahun-tahun meninggalkan lapangan basket yang membesarkan namanya. Perlahan demi perlahan ia menelusuri setiap sudut. Rasanya ingin sekali ia segera ganti seragam dan mengambil bola basket.


Langkahnya terhenti ketika mendengar suara isakan seorang wanita. Yamato berusaha mencari sumber suara tersebut dan mendekatinya. Sebuah suara yang terdengar dari bangku pemain cadangan. Yamato berusaha mendekati sumber suara tersebut. Perlahan ia melangkahkan kakinya keluar dari lorong menuju tengah lapangan. Matanya terpaku saat menemukan sumber suara tersebut. Seseorang yang sangat ia kenal sedang duduk di bangku pemain dan terlihat seperti menangis. Bahunya terlihat bergetar menahan isakan dari bibirnya. Apa yang terjadi? Kenapa Aizawa menangis sendirian disini? Mungkinkah terjadi sesuatu antara dia dan Kurio? Mendengar isakan tangisnya yang terdengar sangat menyakitkan membuat Yamato ingin menemui dan memeluk Aizawa. Gadis baik hati itu tak sepantasnya disakiti. Bukankah Aizawa sudah cukup menderita selama Megumi masih di sisi Kurio? Kedua jari-jari tangan Yamato mengepal menahan amarahnya. "Tak bisa kubiarkan."


************


Klotak...klotak....klotak....klotak....


Suara heels yang dikenakan Kanata memenuhi seluruh kantor. Semua tatapan tertuju padanya. Seluruh karyawan terlihat seperti antara merasa takut, menghargai atau malah terpesona pada kecantikan Kanata. Dalam perusahaan itu, Kurio adalah direkturnya, akan tetapi seolah Kanata berada di posisi lebih atas dari Kurio. Ruangan direksi terletak di lantai 10. Sekeliling lantai itu tertempel banyak sekali foto-foto kegiatan maupun acara yang diadakan perusahaan tersebut baik dengan karyawan, rekan maupun para direksi.

__ADS_1


Kurodo sudah menunggu di pintu depan ruangan direksi. Sepertinya suara heels Kanata mampu terdengar dari lantai 1-10 gedung itu. Menggemparkan seluruh isinya. Kurodo menyilangkan kedua tangannya ke depan sambil menyambut kedatangan Kanata dan Kurio.


"Ada apa ini? Wajah kalian menyeramkan sekali." Sambut Kurodo setelah Kurio dan Kanata sampai di depan pintu ruangan direksi. Kurio yang terlihat bete dan Kanata yang terlihat marah.


"Adikmu, dia berani selingkuh di belakangku. Padahal kemarin baru saja ia menyetujui soal pernikahan itu." Ucap Kanata dengan nada gemas.


Kanata, Kurio dan Kurodo adalah sahabat sejak kecil. Ketiganya selalu bersama saat masih kanak-kanak hingga SMP. Saat SMA, Kanata bersekolah di New York, Kurodo bersekolah di Korea, sedangkan Kurio menetap di Jepang. Dibalik sebuah persahabatan itu, terjalinlah sebuah rasa yang tak bisa mereka ungkapkan dengan leluasa. Kurodo menyimpan perasaannya pada Kanata sejak dulu karena tahu bahwa Kanata mencintai Kurio. Sedangkan satu hal yang diketahui Kurodo, bahwa adik kandungnya Kurio menyukai gadis bernama Aizawa sejak masih SD.


"Aku ini tidak selingkuh. Lagipula hubungan kita hanya sebatas keuantungan kedua perusahaan, bukan? Jadi kau tidak berhak melarangku menyukai orang lain." Bantah Kurio mulai kesal dengan sikap Kanata yang over protective.


Kurodo tersentak kaget tak yakin dengan apa yang ia dengar. "Kau sudah bertemu lagi dengan Aizawa?"

__ADS_1


Kanata lebih marah lagi mendengar pertanyaan Kurodo yang terkesan berpihak pada Aizawa. Rasanya hanya mendengar nama itu saja membuatnya naik pitam. Ia segera masuk ruangan komisaris yang telah disediakan untuknya. Wajahnya sejak kemarin terlihat sangat menakutkan.


"Apa yang terjadi? Benar kau bertemu Aizawa?" Tanya Kurodo setelah memastikan Kanata telah masuk ruangannya. "Sejak kemarin dia terus berwajah jengkel seperti itu. Apa ada kaitannya dengan Aizawa?"


Kurio menghela nafas panjang. "Seperti itulah. Aizawa berada satu kampus denganku. Sekarang dia adik tingkatku."


"Kau harus segera mengambil keputusan. Tidak mungkin kau akan seperti ini selamanya. Aizawa takkan menunggumu jika kau hanya melihat situasi tanpa berusaha merubahnya. Demikian juga dengan Kanata."


Kurio terlihat terdiam kemudian masuk ke ruangannya. Kepalanya serasa ingin pecah. Menolak perjodohan Kanata adalah hal yang hampir tak mungkin ia lakukan mengingat semua jasa dan bantuan keluarga Lee padanya. Tentu saja kedua orangtuanya takkan mungkin membiarkan hal itu. Kurio memegang dahinya yang serasa ingin meledak saat itu juga. "Bagimu bicara memang mudah. Jika kau ada di posisiku, keputusan mana yang akan kau ambil?"


Kurodo terdiam sejenak. Ia menatap Kurio dengan tajam. "Jika aku jadi kau, aku akan memilih kata hatiku. Masalah hutang budi itu urusan belakang." Jawab Kurodo dengan santai sambil duduk di sofa. Ia bahkan berpose layaknya sang raja di perusahaan adiknya itu.

__ADS_1


Kurio hanya diam sambil menatap foto keluarga yang terpasang di meja kerjanya.


***********


__ADS_2